Krisis Literasi Belum Selesai, Kenapa Siswa Bakal Dipaksa Belajar Bahasa Prancis?

Dwi Bowo Raharjo, Lilis Varwati

Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:18 WIB
Krisis Literasi Belum Selesai, Kenapa Siswa Bakal Dipaksa Belajar Bahasa Prancis?
Presiden Prabowo Subianto sempat menginginkan agar siswa di sekolah diajarkan bahasa portugis dan Prancis. (Suara.com/Rochmat)
baca 10 detik
  • Presiden Prabowo menginstruksikan sekolah di Indonesia untuk mempelajari bahasa Prancis saat kunjungan kenegaraan di Paris, Kamis (28/5/2026).
  • Kebijakan tersebut menuai kritik karena dianggap mengabaikan krisis literasi dasar yang masih melanda jutaan siswa di Indonesia.
  • DPR menyoroti ketidakkonsistenan arah kebijakan pendidikan nasional yang dinilai belum memiliki peta jalan strategis serta perencanaan matang.

Suara.com - Sekarang saya sudah instruksikan bahwa semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar bahasa Prancis melihat perkembangan dunia ke depan.

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto itu mengemuka langsung di hadapan Presiden Prancis Emmanuel Macron saat kunjungan kenegaraan di Paris, Kamis (28/5/2026) lalu.

Sesaat kemudian, ucapan tersebut langsung memantik perdebatan publik di tanah air.

Prabowo meyakini kalau permintaannya itu menjadi langkah progresif untuk memperkuat hubungan Indonesia–Prancis di bidang pendidikan, teknologi, dan geopolitik.

Namun juga menimbulkan pertanyaan publik apakah Indonesia memang sudah siap menambah ambisi baru di bidang bahasa asing?

Sebab sebelum bahasa Prancis, publik masih ingat bagaimana Prabowo pernah menyampaikan keinginan agar bahasa Portugis menjadi bahasa prioritas pendidikan Indonesia saat menerima Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva tahun lalu.

“Karena pentingnya hubungan ini, saya sudah putuskan bahwa Bahasa Portugis menjadi bahasa prioritas di pendidikan kita,” ujar Prabowo pada Oktober 2025.

Kini arah itu berubah lagi ke bahasa Prancis.

Pertanyaannya bukan lagi soal bahasa mana yang lebih penting. Pertanyaan besarnya, apakah sistem pendidikan Indonesia sedang dibangun berdasarkan peta jalan jangka panjang, atau justru mengikuti dinamika diplomasi politik yang berubah-ubah?

baca juga
Infografis Presiden Prabowo Subianto sempat menginginkan agar siswa di sekolah diajarkan bahasa portugis dan Prancis. (Suara.com/Rochmat)
Infografis Presiden Prabowo Subianto sempat menginginkan agar siswa di sekolah diajarkan bahasa portugis dan Prancis. (Suara.com/Rochmat)

Jutaan Anak Belum Bisa Memahami Bacaan Dasar

Di tengah euforia multilingualisme global, realitas pendidikan Indonesia justru masih dibayangi persoalan yang jauh lebih mendasar, yaitu krisis literasi.

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menilai wacana penambahan bahasa asing baru justru terasa kontras dengan kondisi riil kemampuan dasar siswa Indonesia.

“Jangankan fasih berbahasa Prancis atau Portugis, membaca dan memahami teks dalam bahasa ibu atau bahasa Indonesia saja jutaan anak kita masih kesulitan. Kita sedang mengalami learning crisis yang akut,” kata Ubaid kepada Suara.com.

Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) beberapa tahun terakhir menunjukkan kemampuan membaca siswa Indonesia masih tertinggal dibanding banyak negara lain.

Artinya, persoalan utama pendidikan Indonesia hari ini bukan kekurangan bahasa asing baru, melainkan bagaimana memastikan anak-anak mampu memahami bacaan dasar, berpikir kritis, dan tidak tertinggal dalam kemampuan numerasi maupun literasi.

Namun di tengah situasi tersebut, negara justru kembali berbicara tentang ekspansi bahasa asing baru.

“Memaksakan bahasa asing baru di tengah karut-marut ini seperti memaksa orang yang sedang kelaparan untuk belajar tata krama meja makan ala Eropa,” ujar Ubaid.

Analogi itu memang terdengar keras. Tetapi justru di situlah letak kegelisahan banyak pihak: ada jurang besar antara ambisi elite politik dengan kenyataan di ruang-ruang kelas.

Negara yang Masih Mencari Arah

Di tengah polemik yang muncul, DPR mulai meminta pemerintah menjelaskan arah dan kesiapan kebijakan tersebut.

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Emmanuel Macron. [Setpres]
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Emmanuel Macron. [Setpres]

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, mengatakan pihaknya akan meminta penjelasan langsung kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terkait instruksi Presiden Prabowo soal pembelajaran bahasa Prancis di sekolah.

“Untuk kejelasan wajib belajar bahasa Prancis di sekolah, kami tentu akan meminta Kemendikdasmen menjelaskannya pada Raker nanti. Karena sebelumnya juga sempat muncul wacana bahasa Portugis, namun sampai sekarang belum terlihat tindak lanjut baik dari sisi roadmap, regulasi, maupun kesiapan implementasinya,” kata Lalu.

DPR menilai pembelajaran bahasa asing memang penting, tetapi kebijakan pendidikan tetap harus dibangun berdasarkan kebutuhan nasional dan kesiapan sistem pendidikan.

“Jangan sampai publik melihat kebijakan ini hanya sebagai bagian dari agenda diplomasi internasional tanpa perencanaan pendidikan yang matang,” ujar Lalu.

Di sisi lain, pemerintah sendiri belum memastikan bentuk implementasi instruksi Presiden tersebut. Sampai saat ini, Kemendikdasmen disebut masih mempelajari dan mengkaji arahan Prabowo sebelum diterapkan dalam kebijakan pendidikan nasional.

Perubahan gagasan yang muncul mengikuti momentum kunjungan luar negeri justru membuat publik mempertanyakan peta jalan pendidikan Indonesia.

Kornas JPPI, Ubaid, menegaskan kalau kurikulum nasional seharusnya dibangun berdasarkan kebutuhan strategis jangka panjang, bukan dipengaruhi dinamika diplomasi maupun preferensi personal penguasa.

“Ini sama sekali tidak menunjukkan adanya grand design. Sebaliknya, ini adalah sinyal kuat dari absennya peta jalan (road map) pendidikan yang konsisten,” kritiknya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Prabowo Akhiri Kunjungan Kenegaraan di Prancis, Bertolak Kembali ke Jakarta

Prabowo Akhiri Kunjungan Kenegaraan di Prancis, Bertolak Kembali ke Jakarta

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 23:50 WIB

Prabowo Mau Bahasa Prancis Masuk Sekolah, Kebijakan Pendidikan Ikut Selera Penguasa?

Prabowo Mau Bahasa Prancis Masuk Sekolah, Kebijakan Pendidikan Ikut Selera Penguasa?

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 17:51 WIB

Prabowo Minta Bahasa Prancis di Sekolah, JPPI: Belajar Bahasa Indonesia Saja Masih Susah

Prabowo Minta Bahasa Prancis di Sekolah, JPPI: Belajar Bahasa Indonesia Saja Masih Susah

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 15:50 WIB

Kemenlu Cuma Jadi Tukang Catat? Pakar Kritik Diplomasi 'One Man Show' Prabowo

Kemenlu Cuma Jadi Tukang Catat? Pakar Kritik Diplomasi 'One Man Show' Prabowo

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 13:36 WIB

Prabowo Wajibkan Belajar Bahasa Prancis di Sekolah, Sandhy Sondoro Ngakak

Prabowo Wajibkan Belajar Bahasa Prancis di Sekolah, Sandhy Sondoro Ngakak

Entertainment | Jum'at, 29 Mei 2026 | 11:37 WIB

Terkini

84 Persen Perusahaan Indonesia Optimistis AI Bisa Ubah Pengelolaan Keuangan

84 Persen Perusahaan Indonesia Optimistis AI Bisa Ubah Pengelolaan Keuangan

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 07:36 WIB

Rencana Rusuh Demo di Balai Kota Malang Digagalkan, 12 Penyusup Bawa Molotov & Positif Narkoba

Rencana Rusuh Demo di Balai Kota Malang Digagalkan, 12 Penyusup Bawa Molotov & Positif Narkoba

Malang | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 07:30 WIB

Dompet Ayah Sepatu Ibu: Novel yang Membuat Saya Lebih Menghargai Perjuangan Orang Tua

Dompet Ayah Sepatu Ibu: Novel yang Membuat Saya Lebih Menghargai Perjuangan Orang Tua

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 07:30 WIB

20 Kode Redeem FF Hari Ini 30 Oktober 2026: Klaim Skin M1887 dan Diamond Gratis

20 Kode Redeem FF Hari Ini 30 Oktober 2026: Klaim Skin M1887 dan Diamond Gratis

Tekno | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 07:26 WIB

Niat Cari Madu, Petani Pesawaran Temukan Kerangka Manusia di Tebing 1.150 MDPL

Niat Cari Madu, Petani Pesawaran Temukan Kerangka Manusia di Tebing 1.150 MDPL

Lampung | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 07:22 WIB

3 Alasan Disney Adventure Bisa Jadi Pilihan Menarik untuk Liburan Keluarga

3 Alasan Disney Adventure Bisa Jadi Pilihan Menarik untuk Liburan Keluarga

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Review Film Love of Your Life: Sajikan Kisah Cinta Modern yang Penuh Makna

Review Film Love of Your Life: Sajikan Kisah Cinta Modern yang Penuh Makna

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Dicecar Soal Dugaan Terima Mobil dan Apartemen, Legislator Bengkulu Vinna Ledy: No Comment, Sorry Ya

Dicecar Soal Dugaan Terima Mobil dan Apartemen, Legislator Bengkulu Vinna Ledy: No Comment, Sorry Ya

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 07:00 WIB

5 Shio Paling Hoki 30 Oktober 2026: Panen Rezeki di Hari Kerbau Api

5 Shio Paling Hoki 30 Oktober 2026: Panen Rezeki di Hari Kerbau Api

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 06:56 WIB

Digugat di PTUN, Kuasa Hukum Beberkan Rute Pendidikan Wapres Gibran dari O Level hingga S1

Digugat di PTUN, Kuasa Hukum Beberkan Rute Pendidikan Wapres Gibran dari O Level hingga S1

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 06:33 WIB

×