- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkritik tajam Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam percakapan telepon pada Senin lalu.
- Trump menilai operasi militer Israel di Lebanon berisiko merusak upaya diplomasi Washington dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
- Akibat tekanan tersebut, pemerintah Israel memutuskan untuk menunda rencana serangan militer besar ke wilayah Beirut, Lebanon.
Suara.com - Hubungan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan memanas setelah meningkatnya operasi militer Israel di Lebanon.
Trump disebut geram karena langkah militer Israel dinilai berpotensi mengganggu upaya diplomatik Washington, termasuk negosiasi yang sedang dijalankan Amerika Serikat dengan Iran.
Menyitat Times of Israel, laporan dari Axios mengungkap adanya percakapan telepon bernada keras antara kedua pemimpin tersebut pada Senin lalu.
Percakapan Panas Trump dan Netanyahu
![Sedikitnya 16 orang dilaporkan tewas dan 58 lainnya luka-luka setelah rentetan serangan udara menghantam berbagai wilayah pada Kamis (28/5/2026) waktu setempat. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/28/27463-israel-serang-lebanon.jpg)
Menurut sumber yang mengetahui isi pembicaraan tersebut, Trump melontarkan kritik tajam kepada Netanyahu terkait operasi militer Israel di Lebanon.
Seorang pejabat AS yang dikutip dalam laporan itu mengungkapkan bahwa Trump bahkan menggunakan kata-kata kasar saat menyampaikan kemarahannya kepada pemimpin Israel tersebut.
"Kamu benar-benar gila."
"Kamu pasti sudah masuk penjara jika bukan karena saya."
"Saya menyelamatkanmu."
"Semua orang membencimu sekarang."
"Semua orang membenci Israel karena ini."
Laporan tersebut menyebut Trump menilai tindakan Israel berisiko memperburuk posisi negara itu di mata dunia internasional sekaligus mengancam stabilitas kawasan.
Hingga kini, Gedung Putih belum memberikan komentar resmi mengenai isi percakapan yang dilaporkan sejumlah media tersebut.
Kekhawatiran atas Negosiasi dengan Iran
Sebelum percakapan itu terjadi, Trump sempat menyampaikan kepada media bahwa dirinya akan meminta penjelasan langsung dari Netanyahu terkait operasi militer Israel di Lebanon.
Pemerintah AS disebut memahami ancaman keamanan yang dihadapi Israel akibat serangan roket Hizbullah. Namun, Washington menilai respons militer Israel dalam beberapa hari terakhir terlalu berlebihan dan berpotensi merusak jalur diplomasi yang sedang dibangun.
Menurut sejumlah laporan media internasional, Iran mengisyaratkan kemungkinan menghentikan komunikasi dengan Amerika Serikat apabila eskalasi konflik di Lebanon terus meningkat.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran di Washington karena negosiasi yang sedang berlangsung dianggap penting untuk menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.
Serangan ke Beirut Ditunda
Di tengah tekanan diplomatik dari Washington, pemerintah Israel dilaporkan menunda rencana serangan besar ke Beirut yang sebelumnya sempat dipertimbangkan.
Trump kemudian mengklaim melalui akun Truth Social bahwa pembicaraannya dengan Netanyahu berlangsung produktif.
"Dia memutar balik pasukannya. Terima kasih Bibi!" tulis Trump.
Namun, sejumlah sumber militer Israel membantah klaim bahwa pasukan darat mereka sedang bergerak menuju pusat kota Beirut sebagaimana sempat diberitakan.
Meski demikian, sumber di Tel Aviv mengonfirmasi bahwa pemerintah Israel memang menunda sejumlah operasi yang sebelumnya direncanakan terhadap target di Beirut.
Penundaan tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, disebut memberikan instruksi untuk meningkatkan tekanan militer terhadap Hizbullah.
Bayang-bayang Kasus Hukum Netanyahu
Dalam laporan yang sama, Trump juga disebut menyinggung persoalan hukum yang sedang dihadapi Netanyahu di Israel.
Perdana Menteri Israel itu masih menjalani proses hukum terkait sejumlah kasus korupsi yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
Trump sebelumnya beberapa kali secara terbuka membela Netanyahu dan menilai proses hukum tersebut memiliki dimensi politik.
Ucapan mengenai kemungkinan Netanyahu masuk penjara diyakini merujuk pada perkara hukum yang hingga kini masih berjalan di pengadilan Israel.
Sementara itu, kantor Perdana Menteri Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan mengenai isi percakapan telepon tersebut.
Ketegangan ini menjadi sorotan karena menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara Washington dan Tel Aviv mengenai penanganan konflik di Lebanon, terutama ketika Amerika Serikat berupaya menjaga momentum diplomasi dengan Iran.