Pakar UMY Soroti Respon Seskab Teddy ke Dino: Waspada Diksi yang Picu Tafsir Liar!

Muhammad Yasir, Hiskia Andika Weadcaksana

Selasa, 02 Juni 2026 | 14:09 WIB
Pakar UMY Soroti Respon Seskab Teddy ke Dino: Waspada Diksi yang Picu Tafsir Liar!
Kolase foto Seskab Teddy Indra Wijaya dan mantan Wamenlu Dino Patti Djalal. [Suara.com]
baca 10 detik
  • Pakar komunikasi Nur Sofyan mengkritik gaya komunikasi pemerintah dalam merespons kritik Dino Patti Djalal mengenai kunjungan luar negeri Presiden.
  • Pemerintah disarankan memperbaiki pilihan diksi dan gaya komunikasi agar penjelasan kebijakan tidak menimbulkan multitafsir serta polemik berkepanjangan bagi masyarakat.
  • Pemerintah diharapkan mengedepankan pendekatan dialogis atau tabayun untuk menciptakan komunikasi publik yang menenangkan di tengah situasi ekonomi global penuh tekanan.

Suara.com - Pakar Komunikasi Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Nur Sofyan menyoroti cara pemerintah merespons kritik yang disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal terkait frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.

Ia menilai menilai persoalan utama bukan terletak pada substansi jawaban pemerintah yang disampaikan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.

Menurutnya, masalah justru muncul pada cara penyampaian dan pilihan diksi yang digunakan sehingga berpotensi memunculkan multitafsir di tengah publik.

Nur mengatakan, dalam situasi ekonomi dan global yang masih penuh tekanan, pemerintah perlu lebih berhati-hati dalam mengelola komunikasi publik.

Setiap respons terhadap kritik seharusnya mempertimbangkan bagaimana masyarakat menerima dan menilai pesan yang disampaikan.

"Saya kira siapapun hari ini baik pemerintah maupun seluruh (pihak) harus menempatkan social judgment itu menjadi suatu hal yang sangat penting," jelas Nur kepada Suara.com, Selasa (2/6/2026).

Menurutnya, kritik yang disampaikan Dino dapat dipandang sebagai kritik konstruktif yang layak dijawab secara proporsional.

Pemerintah, kata dia, perlu memanfaatkan momentum tersebut untuk memberikan penjelasan yang menenangkan sekaligus membangun penerimaan publik terhadap kebijakan yang dijalankan.

Nur juga menilai substansi penjelasan pemerintah sebenarnya sudah berada pada jalur yang tepat. Namun, pemilihan kata dan gaya komunikasi menjadi faktor penting yang menentukan bagaimana pesan tersebut dipahami masyarakat.

baca juga

"Intinya dari saya, penyampaian yang disampaikan itu tepat, hanya saja perlu menggunakan diksi yang kemudian itu menyejukkan berbagai macam pihak. Sehingga tidak menimbulkan multitafsir yang kemudian bisa berujung pada tafsir yang liar," ujarnya.

Ia menjelaskan, setiap pernyataan yang disampaikan pejabat di ruang publik akan langsung mendapat penilaian masyarakat.

Karena itu, respons terhadap kritik tidak cukup hanya berisi bantahan atau klarifikasi, tetapi juga harus mampu menghindari kesan defensif yang berpotensi memperpanjang polemik.

Nur juga mengingatkan pemerintah agar lebih mengedepankan pendekatan tabayun atau klarifikasi yang dialogis daripada membangun narasi yang memancing adu pernyataan di ruang publik.

Sebab, jika polemik terus berlanjut, masyarakat justru berisiko kehilangan fokus terhadap substansi persoalan yang dibahas.

"Kondisi saat ini kita perlu untuk meletakkan pada saling bertabayun agar tidak terjadi, saling memberikan balas membalas lewat media," ungkapnya.

Meski demikian, Nur menegaskan respons pemerintah tidak bisa serta-merta disebut sebagai upaya pengalihan isu.

Namun, cara penyampaiannya dinilai masih membuka ruang bagi publik untuk menafsirkan pesan secara berbeda-beda, terutama jika jawaban yang diberikan dianggap tidak langsung menyentuh inti kritik yang disampaikan.

Bagi Nur, keberhasilan komunikasi pemerintah tidak hanya diukur dari tersampaikannya pesan, melainkan dari bagaimana pesan tersebut diterima oleh masyarakat.

"Gaya komunikasi yang efektif adalah gaya yang meaningful, gaya yang mampu memberikan suatu jawaban yang kemudian tidak bisa dimultitafsirkan lagi. Jawaban itu pasti, kemudian meneduhkan, sehingga tidak terjadi gejolak ataupun reaksi yang justru kontradiktif," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Habiburokhman Sentil Dino Patti Djalal: Jangan Sok Paling Tahu Diplomasi

Habiburokhman Sentil Dino Patti Djalal: Jangan Sok Paling Tahu Diplomasi

News | Selasa, 02 Juni 2026 | 13:35 WIB

Balas Kritik Dino Patti Djalal, Seskab Teddy: Diplomat Hebat Walau Hanya Menjabat 3 Bulan

Balas Kritik Dino Patti Djalal, Seskab Teddy: Diplomat Hebat Walau Hanya Menjabat 3 Bulan

News | Selasa, 02 Juni 2026 | 09:12 WIB

Bukan Sekadar Seremonial, Seskab Teddy Beberkan 7 Prestasi Diplomasi Prabowo: Investasi Rp 2.430 T

Bukan Sekadar Seremonial, Seskab Teddy Beberkan 7 Prestasi Diplomasi Prabowo: Investasi Rp 2.430 T

News | Senin, 01 Juni 2026 | 21:27 WIB

Terkini

Lebih Transparan, Begini Cara BRI Digitalisasi Transaksi di Lapas

Lebih Transparan, Begini Cara BRI Digitalisasi Transaksi di Lapas

Bri | Jum'at, 17 Juli 2026 | 22:01 WIB

Kenyamanan Jadi Prioritas Baru dalam Mobilitas Warga Kota

Kenyamanan Jadi Prioritas Baru dalam Mobilitas Warga Kota

Lifestyle | Jum'at, 17 Juli 2026 | 21:42 WIB

Heboh Transpuan Bogor Dilempar Air Seni, Amnesty Duga Buntut dari Perpres 111/2025

Heboh Transpuan Bogor Dilempar Air Seni, Amnesty Duga Buntut dari Perpres 111/2025

News | Jum'at, 17 Juli 2026 | 21:35 WIB

Spanyol vs Argentina: 6 Faktor Penentu Juara Piala Dunia 2026

Spanyol vs Argentina: 6 Faktor Penentu Juara Piala Dunia 2026

Bola | Jum'at, 17 Juli 2026 | 21:30 WIB

Mitra Grab Sambut Positif Skema Komisi 8 Persen, Sebut Tak Ada Lagi Potongan Tambahan

Mitra Grab Sambut Positif Skema Komisi 8 Persen, Sebut Tak Ada Lagi Potongan Tambahan

News | Jum'at, 17 Juli 2026 | 21:22 WIB

Korban Tewas Kecelakaan Sibolangit Dibawa ke RS Adam Malik, Kondisi Mengenaskan

Korban Tewas Kecelakaan Sibolangit Dibawa ke RS Adam Malik, Kondisi Mengenaskan

Sumut | Jum'at, 17 Juli 2026 | 21:13 WIB

Dengue Rugikan Indonesia Rp9 Triliun di 2024: Mengapa 3M Saja Tidak Lagi Cukup?

Dengue Rugikan Indonesia Rp9 Triliun di 2024: Mengapa 3M Saja Tidak Lagi Cukup?

Health | Jum'at, 17 Juli 2026 | 21:13 WIB

Penantian 18 Tahun Terbayar, 5 Ribu Penggemar 'Karaoke Massal' di Konser Peterpan Malaysia

Penantian 18 Tahun Terbayar, 5 Ribu Penggemar 'Karaoke Massal' di Konser Peterpan Malaysia

Entertainment | Jum'at, 17 Juli 2026 | 21:11 WIB

6 Korban Kecelakaan Sibolangit Dirawat di RS Adam Malik, 1 Anak Luka Serius

6 Korban Kecelakaan Sibolangit Dirawat di RS Adam Malik, 1 Anak Luka Serius

Sumut | Jum'at, 17 Juli 2026 | 21:08 WIB

Kisah Foto Ikonik Messi dan Bayi Lamine Yamal, Berujung Duel di Final Piala Dunia 2026

Kisah Foto Ikonik Messi dan Bayi Lamine Yamal, Berujung Duel di Final Piala Dunia 2026

Bola | Jum'at, 17 Juli 2026 | 20:55 WIB

×