Suara.com - Teheran mengambil langkah penuh kehati-hatian sebelum menyepakati draf perdamaian final yang diajukan oleh Amerika Serikat. Pemerintah Iran memilih meneliti dokumen tersebut secara mendalam dan belum memberikan jawaban resmi apa pun terkait tawaran Washington.
Sikap skeptis ini muncul karena Teheran tidak ingin terjebak dalam komitmen yang merugikan di masa depan. Mereka menuntut keuntungan riil yang dapat langsung dirasakan sebelum menandatangani dokumen tersebut.
Dikutip dari Anadolu, sumber yang mengetahui isu ini menyebutkan, “sejarah ketidakpatuhan Amerika Serikat dan ketidakpercayaan yang telah berlangsung lama” membuat Teheran memandang persoalan ini dengan “sangat hati-hati.” Rekam jejak tersebut membuat proses diplomasi berjalan sangat alot.
![Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer ke wilayah Iran dengan menargetkan sebuah lokasi militer di Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis yang berada di dekat Selat Hormuz. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/28/53634-as-serang-bandar-abbas-iran.jpg)
Stabilitas di kawasan Timur Tengah sendiri terus bergejolak dalam beberapa bulan terakhir. Ekskalasi bersenjata sempat meluas dan mengancam jalur perdagangan internasional utama dunia.
Ketegangan di wilayah tersebut memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel menginisiasi serangan gabungan ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu. Blok militer Teheran segera merespons dengan menggempur target-target vital milik Israel dan sekutu Washington di wilayah Teluk.
Militer Iran bahkan sempat mengambil tindakan ekstrem dengan memblokade total jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi distribusi minyak mentah global.
![Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer ke wilayah Iran dengan menargetkan sebuah lokasi militer di Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis yang berada di dekat Selat Hormuz. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/28/82282-as-serang-bandar-abbas-iran.jpg)
Pakta gencatan senjata sementara sebenarnya sudah mulai diterapkan sejak 8 April melalui bantuan mediasi dari pemerintah Pakistan. Sayangnya, tindak lanjut meja perundingan di Islamabad berakhir buntu tanpa menghasilkan kesepakatan jangka panjang.
Kendati proses negosiasi berulang kali menemui jalan buntu, saluran komunikasi diplomatik antarnegara tetap diupayakan. Para mediator internasional terus mencari titik temu guna menghentikan pertumpahan darah.
Kini, Iran mengajukan sejumlah tuntutan mutlak yang wajib dipenuhi jika ingin mewujudkan perdamaian yang bersifat permanen. Salah satu poin krusialnya adalah penghentian total seluruh operasi militer di semua lini pertempuran yang sedang bergejolak.
Tuntutan tersebut mencakup penghentian agresi di wilayah Lebanon yang menjadi medan tempur baru dalam beberapa pekan terakhir. Gempuran militer Israel di wilayah Lebanon diketahui masih aktif berkecamuk sejak awal Maret lalu.
Merespons situasi geopolitik yang kian pelik, tekanan internasional terhadap Israel mulai dilayangkan oleh sekutu utamanya. Gedung Putih secara langsung meminta Tel Aviv untuk segera meredakan ketegangan militer di wilayah Lebanon.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Senin, mengatakan bahwa dirinya telah meminta Kepala Otoritas Israel Benjamin Netanyahu untuk menarik pasukan dari Beirut. Langkah ini diharapkan mampu memecah kebuntuan dalam proses penandatanganan kesepakatan damai global.