Riset Global: Menata Ulang Kota Bisa Jadi Senjata Efektif Lawan Krisis Iklim, Bagaimana Bisa?

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 03 Juni 2026 | 13:30 WIB
Riset Global: Menata Ulang Kota Bisa Jadi Senjata Efektif Lawan Krisis Iklim, Bagaimana Bisa?
Lalu lintas mobil di Los Angles (Pexels/Daniel Reynaga)

Suara.com - Upaya menekan emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi global sangat bergantung pada tata letak kota. Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Research Letters menemukan cara paling efektif bagi perencana kota untuk mendesain kota rendah emisi dan minim penggunaan mobil.

Dikutip dari Phys.org, hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kepadatan bangunan di lokasi yang tepat. Studi yang dipimpin oleh Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) bersama University of California, Berkeley, dan University of Sussex ini menunjukkan bahwa efektivitas penurunan emisi sangat bergantung pada kedekatan lokasi hunian dengan pusat kota dan area perkantoran.

Analisis Kausal dan AI

Tim peneliti mengolah 10 juta titik data mobilitas GPS serta pola perjalanan enam wilayah metropolitan dunia dari Berlin, Boston, Los Angeles, wilayah Teluk San Francisco, Rio de Janeiro, dan Bogotá. Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan analisis kausal, studi ini berhasil mengungkap hubungan langsung antara struktur tata ruang kota dan perilaku berkendara dengan detail yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel struktural seperti kepadatan penduduk dan konektivitas jalan saling terikat erat. Sementara itu, tingkat pendapatan ditemukan hanya memiliki pengaruh tidak langsung terhadap perilaku mengemudi, yang polanya bergeser melalui penentuan lokasi tempat tinggal.

"Hal ini secara fundamental mengubah rekomendasi yang dapat diberikan secara bertanggung jawab kepada para perencana. Jarak ke pusat kota dan tempat kerja adalah kunci. Dan kepadatan perkotaan tidak dapat dilihat secara terpisah: kita harus memahami bagaimana kepadatan perkotaan berkaitan dengan faktor-faktor sekunder seperti konektivitas, aksesibilitas, dan pilihan lokasi tempat tinggal," jelas pemimpin studi, Felix Wagner.

Penerapan Zona Spasial Spesifik

Data penelitian menekankan bahwa kebijakan peningkatan kepadatan penduduk tidak dapat disamaratakan di setiap wilayah karena efeknya sangat spesifik secara spasial. “Satu tindakan saja dapat secara signifikan mempersingkat jarak perjalanan di satu lingkungan, tetapi hanya memiliki sedikit efek dua kilometer jauhnya. Kekhususan spasial ini belum ada hingga sekarang," kata peneliti PIK, Felix Creutzig. Sebagai contoh, di Berlin, volume emisi per perjalanan bervariasi antara minus 0,8 hingga plus 2,9 kilogram karbon dioksida relatif terhadap rata-rata kota, tergantung pada kondisi lingkungan tempat tinggalnya.

Studi ini memetakan dua model berdasarkan karakteristik wilayahnya. Pada model monosentris di kota seperti Boston dan Berlin, intervensi paling efektif dilakukan pada koridor berbentuk cincin di sekitar pusat kota. Di Boston, peningkatan kepadatan penduduk berada pada jarak 10 hingga 21 kilometer dari pusat kota, sedangkan di Rio de Janeiro koridor ini membentang hingga 40 kilometer ke arah luar.

baca juga

Sementara itu, pada model polisentris di kota dengan banyak pusat kegiatan seperti Los Angeles dan wilayah Teluk San Francisco, emisi lebih efektif ditekan melalui peningkatan kepadatan penduduk langsung di area-area dengan konsentrasi peluang kerja tinggi.

Untuk lingkungan yang berada jauh di luar pusat kerja, peneliti mencatat bahwa intervensi tata ruang saja tidak cukup. Wilayah ini memerlukan strategi tambahan seperti pengembangan kota berorientasi transit, pembatasan pembangunan lahan baru, program berbagi kendaraan, dan pengaturan sistem kerja dari rumah.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Perempuan, Self-Care, dan Isu Lingkungan: Bisakah Semua Berjalan Bersama?

Perempuan, Self-Care, dan Isu Lingkungan: Bisakah Semua Berjalan Bersama?

Your Say | Kamis, 04 Juni 2026 | 13:20 WIB

Membawa Kehidupan ke Tengah Kota: Cara Sendalu Permaculture Merawat Ekosistem dari Sebidang Kebun

Membawa Kehidupan ke Tengah Kota: Cara Sendalu Permaculture Merawat Ekosistem dari Sebidang Kebun

Lifestyle | Kamis, 04 Juni 2026 | 11:55 WIB

Limbah Filter Rokok Picu Polusi Mikroplastik Global, Lebih Berbahaya?

Limbah Filter Rokok Picu Polusi Mikroplastik Global, Lebih Berbahaya?

News | Kamis, 04 Juni 2026 | 11:34 WIB

Terkini

MPLS Sekolah Rakyat Digelar Empat Gelombang, Gus Ipul: Tiap Titik harus Aman dan Nyaman

MPLS Sekolah Rakyat Digelar Empat Gelombang, Gus Ipul: Tiap Titik harus Aman dan Nyaman

News | Senin, 13 Juli 2026 | 19:51 WIB

Skandal Rp34,6 T Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Bakal Tuntas atau Mandek di Kejagung?

Skandal Rp34,6 T Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Bakal Tuntas atau Mandek di Kejagung?

News | Senin, 13 Juli 2026 | 19:47 WIB

Kasus Febrie Diserahkan ke Kejagung Jadi Sorotan, DPR: Kita Pantau Lewat Panja, Disupervisi KPK

Kasus Febrie Diserahkan ke Kejagung Jadi Sorotan, DPR: Kita Pantau Lewat Panja, Disupervisi KPK

News | Senin, 13 Juli 2026 | 19:31 WIB

PERADI Profesional Ingatkan DPR, RUU HPI Harus Jaga Kedaulatan Nasional di Tengah Arus Global

PERADI Profesional Ingatkan DPR, RUU HPI Harus Jaga Kedaulatan Nasional di Tengah Arus Global

News | Senin, 13 Juli 2026 | 19:31 WIB

KPK Pantau Kasus Febrie Adriansyah, Yakin Kejagung Profesional Usut Eks Jampidsus

KPK Pantau Kasus Febrie Adriansyah, Yakin Kejagung Profesional Usut Eks Jampidsus

News | Senin, 13 Juli 2026 | 19:20 WIB

Geger Eks Napiter Ledakkan Lapak di Tasik, Pengamat Bongkar Celah Pengawasan yang Bolong

Geger Eks Napiter Ledakkan Lapak di Tasik, Pengamat Bongkar Celah Pengawasan yang Bolong

News | Senin, 13 Juli 2026 | 19:15 WIB

Tak Ada SP 1 dan 2, Guru Pelaku Kekerasan di Sekolah Rakyat Langsung Pecat!

Tak Ada SP 1 dan 2, Guru Pelaku Kekerasan di Sekolah Rakyat Langsung Pecat!

News | Senin, 13 Juli 2026 | 19:13 WIB

Prabowo Sampaikan Belasungkawa Wafatnya Mantan Emir Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Al Tahni

Prabowo Sampaikan Belasungkawa Wafatnya Mantan Emir Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Al Tahni

News | Senin, 13 Juli 2026 | 19:11 WIB

Ajak Warga Jakarta Jujur Saat Disensus, Pramono: 'Kaya Ya Kaya, Miskin Ya Miskin'

Ajak Warga Jakarta Jujur Saat Disensus, Pramono: 'Kaya Ya Kaya, Miskin Ya Miskin'

News | Senin, 13 Juli 2026 | 19:05 WIB

KPK Klaim Belum Ada Permintaan Supervisi Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

KPK Klaim Belum Ada Permintaan Supervisi Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

News | Senin, 13 Juli 2026 | 19:03 WIB

×