- Perum BULOG Kanwil DIY merealisasikan pengadaan 178 ribu ton beras atau 91 persen dari target tahunan hingga Juni 2026.
- Capaian tersebut berhasil memperkuat Cadangan Beras Pemerintah nasional hingga mencapai level tertinggi dalam sejarah, yakni 5 juta ton.
- Pemerintah optimistis ketahanan pangan nasional terjaga aman untuk menghadapi El Nino tanpa perlu melakukan kegiatan impor beras.
Suara.com - Perum BULOG Kantor Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah merealisasikan pengadaan 178 ribu ton setara beras atau sekitar 91 persen dari target pengadaan tahun 2026 sebesar 196 ribu ton hingga awal Juni.
Capaian tersebut menjadi salah satu penopang penguatan cadangan beras nasional yang kini berada pada level tertinggi sepanjang sejarah.
Pemimpin Perum BULOG Kanwil Yogyakarta Dedi Aprilyadi mengatakan capaian tersebut merupakan hasil sinergi berbagai pihak dalam mendukung program penyerapan gabah dan beras petani selama musim panen berlangsung.
Serapan Beras BULOG DIY Tembus 91 Persen Target Tahunan
Secara nasional, hingga 3 Juni 2026, BULOG mencatat realisasi pengadaan mencapai 3,01 juta ton setara beras atau sekitar 75 persen dari target nasional sebesar 4 juta ton yang ditetapkan pemerintah tahun ini.
Dedi menyebut keberhasilan penyerapan di wilayah DIY hingga 178 ribu ton setara beras tidak terlepas dari peran petani, kelompok tani, gabungan kelompok tani (gapoktan), pemerintah daerah, penyuluh pertanian lapangan, TNI, Polri, mitra penggilingan, hingga jajaran BULOG.
“Capaian pengadaan hingga 178 ribu ton setara beras ini tidak terlepas dari dukungan seluruh pihak yang bekerja tanpa mengenal waktu selama musim panen berlangsung,” ujar Dedi dalam keterangannya, Rabu (3/5/2026).
Menurutnya, peningkatan produksi pertanian, perluasan areal panen, serta berbagai program pemerintah turut mendorong tingginya penyerapan hasil panen tahun ini. Program tersebut meliputi mekanisasi pertanian, pompanisasi, dan optimalisasi lahan yang ditujukan untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian.
Sebagai bagian dari penugasan pemerintah, BULOG terus menyerap gabah petani dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram untuk Gabah Kering Panen (GKP). Kebijakan tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian harga sekaligus menjamin tersedianya pasar bagi hasil panen petani.
Dengan capaian yang telah mencapai 91 persen pada awal Juni, BULOG DIY optimistis target pengadaan tahun ini dapat segera tercapai. Bahkan, realisasi pengadaan berpeluang melampaui target apabila tren penyerapan dan produksi tetap berlangsung positif hingga akhir musim panen.
“Kami yakin capaian pengadaan tahun ini dapat melampaui target yang telah ditetapkan pemerintah,” ujarnya.
Stok Beras Nasional 5 Juta Ton, Pemerintah Optimistis Tak Impor pada 2026
Tingginya penyerapan gabah dan beras di berbagai daerah, termasuk DIY, turut memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang kini telah melampaui 5 juta ton.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan stok beras nasional saat ini merupakan yang tertinggi dalam sejarah modern pengelolaan pangan Indonesia.
“Per 23 April 2026 pukul 08.55, stok beras seluruh Indonesia mencapai 5.000.198 ton. Ini pertama sepanjang sejarah. Ini hasil kerja keras kita semua, seluruh anak bangsa,” ujar Amran saat meninjau gudang beras di Karawang.
Amran mengatakan pemerintah telah memperhitungkan kekuatan stok tersebut untuk menghadapi potensi fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga enam bulan ke depan.
“Sekarang kita akan menghadapi El Nino sekitar 6 bulan. Stok kita 5 juta ton, terbesar sepanjang sejarah. Selain itu, di Horeka tersedia sekitar 12,5 juta ton, serta standing crop sekitar 11 juta ton. Totalnya sekitar 22,5 juta ton atau setara 11 bulan kebutuhan,” katanya.
Dengan cadangan yang tersedia saat ini, pemerintah menilai ketahanan pangan nasional berada dalam kondisi aman.
Ia menambahkan, produksi beras nasional tetap akan berjalan selama musim kemarau karena didukung sistem irigasi yang terus diperkuat pemerintah.
Amran juga menegaskan bahwa capaian stok beras saat ini menjadi bukti bahwa penguatan ketahanan pangan dapat dilakukan melalui produksi dalam negeri tanpa bergantung pada impor.
“Alhamdulillah 2025 kita tidak impor. InsyaAllah 2026 juga tidak impor. Kita terus perkuat kolaborasi untuk menjaga ketahanan pangan nasional,” pungkasnya.