Ditendang, Dipukul hingga Mati di Laut: Derita ABK Indonesia di Armada Cumi-Cumi Dunia

Muhammad Yasir

Kamis, 04 Juni 2026 | 18:26 WIB
Ditendang, Dipukul hingga Mati di Laut: Derita ABK Indonesia di Armada Cumi-Cumi Dunia
Kekerasan hingga kematian di tengah laut masih menghantui ribuan anak buah kapal (ABK) yang bekerja di industri cumi-cumi global. [Dok. EJF]
baca 10 detik
  • Investigasi EJF pada 4 Juni 2026 mengungkap ratusan ABK Indonesia mengalami eksploitasi kekerasan dan upah di industri cumi-cumi.
  • Praktik alih muatan di laut memicu pengawasan lemah, memicu pelanggaran HAM berat, serta menyebabkan 25 kematian ABK.
  • EJF mendesak pemerintah dan badan internasional memperketat regulasi pengawasan armada jarak jauh guna menghentikan praktik perbudakan modern.

Suara.com - Kekerasan, pencurian upah, hingga kematian di tengah laut masih menghantui ribuan anak buah kapal (ABK) yang bekerja di industri cumi-cumi global.

Sebuah investigasi terbaru Environmental Justice Foundation (EJF) mengungkap potret kelam yang dialami ratusan ABK Indonesia di salah satu sektor perikanan paling minim pengawasan di dunia.

Laporan yang dirilis pada 4 Juni 2026 itu menemukan sedikitnya 350 ABK Indonesia dan 80 ABK Filipina mengalami berbagai bentuk eksploitasi saat bekerja di kapal penangkap cumi-cumi jarak jauh.

Salah satu ABK Indonesia yang bekerja di kapal pukat cahaya berbendera Tiongkok di Samudra Hindia bagian barat laut menceritakan kekerasan yang dialaminya selama bekerja di laut.

"Ketika kami menolak untuk memancing, kami dimarahi dan diperlakukan dengan kekerasan fisik. Kami ditendang dan dipukul. Saya sering mengalaminya," ungkapnya dikutip dari laporan investigasi EJF.

Temuan tersebut merupakan hasil lima tahun penelitian EJF yang melibatkan lebih dari 430 wawancara dengan ABK Indonesia dan Filipina yang bekerja di atas 249 kapal penangkap ikan jarak jauh.

Investigasi itu menyoroti praktik-praktik bermasalah di tiga kawasan penangkapan cumi-cumi terbesar dunia, yakni Samudra Hindia bagian barat laut, Samudra Pasifik bagian tenggara, dan Atlantik bagian barat daya.

Ketiga wilayah tersebut memasok sekitar 60 persen kebutuhan cumi-cumi dunia.

Menurut EJF, lemahnya pengawasan membuat berbagai pelanggaran berlangsung tanpa hambatan.

baca juga

Hampir seluruh responden melaporkan adanya praktik transhipment atau alih muatan di tengah laut, yang memungkinkan kapal tetap beroperasi dalam waktu sangat lama tanpa kembali ke pelabuhan.

Praktik tersebut dinilai tidak hanya menyamarkan asal-usul hasil tangkapan, tetapi juga membuka ruang masuknya produk ilegal dan tidak berkelanjutan ke rantai pasok global.

Laporan itu juga menemukan kondisi kerja memburuk secara signifikan pada kapal-kapal yang beroperasi lebih dari satu tahun tanpa kembali ke daratan. Pada pelayaran panjang seperti itu, kasus kekerasan fisik dan pelanggaran lingkungan meningkat tajam.

Kapal penangkap cumi. [Dok.EJF]
Kapal penangkap cumi. [Dok.EJF]

Puluhan Kasus Kematian

EJF mencatat sedikitnya 25 kematian di 20 kapal selama periode penelitian. Seluruh kapal tersebut berbendera Tiongkok.

Yang lebih mengkhawatirkan, setidaknya sembilan kematian atau 36 persen dari total kasus diduga disebabkan penyakit beri-beri akibat kekurangan parah Vitamin B1 atau tiamin.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kado May Day 2026: Prabowo Ratifikasi Konvensi ILO 188 dan Targetkan 6 Juta Nelayan Sejahtera

Kado May Day 2026: Prabowo Ratifikasi Konvensi ILO 188 dan Targetkan 6 Juta Nelayan Sejahtera

News | Jum'at, 01 Mei 2026 | 11:35 WIB

Dramatis! 4 ABK WNI yang Diculik Perompak di Lepas Pantai Gabon Berhasil Diselamatkan TNI

Dramatis! 4 ABK WNI yang Diculik Perompak di Lepas Pantai Gabon Berhasil Diselamatkan TNI

News | Jum'at, 06 Maret 2026 | 14:46 WIB

Anggota DPR Desak Transparansi Penuh Kasus ABK Terancam Hukuman Mati: Jangan Ada Permainan Aparat!

Anggota DPR Desak Transparansi Penuh Kasus ABK Terancam Hukuman Mati: Jangan Ada Permainan Aparat!

News | Jum'at, 27 Februari 2026 | 11:51 WIB

Terkini

Investor Muda Belajar Trading dari Medsos, OJK Mulai Perketat Influencer Keuangan

Investor Muda Belajar Trading dari Medsos, OJK Mulai Perketat Influencer Keuangan

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:46 WIB

Timnas Indonesia U-15 Mengamuk di Piala Dunia U-15 2026, Panama Tak Berdaya

Timnas Indonesia U-15 Mengamuk di Piala Dunia U-15 2026, Panama Tak Berdaya

Bola | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:38 WIB

Pemkot Pekanbaru Tempatkan PPPK Paruh Waktu di Setiap RW

Pemkot Pekanbaru Tempatkan PPPK Paruh Waktu di Setiap RW

Riau | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:36 WIB

Turun ke Jalan Bawa Tritura, Mahasiswa Trisakti Sasar Istana

Turun ke Jalan Bawa Tritura, Mahasiswa Trisakti Sasar Istana

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:32 WIB

Sering Dipakai untuk Diet, Apa Perbedaan Stevia dengan Gula Biasa?

Sering Dipakai untuk Diet, Apa Perbedaan Stevia dengan Gula Biasa?

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:32 WIB

Dikeruk tapi Minim Pembangunan: Kenapa Masyarakat Pedalaman Tidak Bersuara?

Dikeruk tapi Minim Pembangunan: Kenapa Masyarakat Pedalaman Tidak Bersuara?

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:30 WIB

Ibu Tzuyu TWICE Jelaskan Rumor Kencan, Minta Publik Berhenti Berspekulasi

Ibu Tzuyu TWICE Jelaskan Rumor Kencan, Minta Publik Berhenti Berspekulasi

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:30 WIB

7 Pengganti Gula selain Stevia yang Aman untuk Penderita Diabetes

7 Pengganti Gula selain Stevia yang Aman untuk Penderita Diabetes

Health | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:29 WIB

Ramai Jadi Perbincangan Publik, Sebenarnya Pembalut Kena Pajak Sejak Kapan?

Ramai Jadi Perbincangan Publik, Sebenarnya Pembalut Kena Pajak Sejak Kapan?

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:26 WIB

Ketum PKN Gede Pasek: Republik Ini Bukan Milik Oligarki, Kekuasaan Bukan Warisan Keluarga!

Ketum PKN Gede Pasek: Republik Ini Bukan Milik Oligarki, Kekuasaan Bukan Warisan Keluarga!

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:21 WIB

×