- Tim peneliti UGM menyelidiki fenomena kebakaran misterius berulang di rumah warga Padukuhan Mriyan, Sleman, yang tergolong kasus sangat langka.
- Indikasi awal menunjukkan gas hidrogen hasil fermentasi limbah pemotongan ayam selama 16 tahun diduga menjadi pemicu kemunculan api.
- Peneliti sedang melakukan penanganan menggunakan cairan kapur sembari menunggu hasil analisis laboratorium untuk memastikan penyebab pasti fenomena tersebut.
Suara.com - Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebut fenomena kebakaran misterius yang berulang di rumah warga Padukuhan Mriyan X, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman, sebagai kasus langka.
Hingga kini, para peneliti masih mendalami penyebab pasti munculnya api yang sudah terjadi puluhan kali tersebut.
Anggota Tim Peneliti dari Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan UGM, Sarju Winardi, mengatakan kasus yang terjadi di rumah milik Mutfiana atau Fia dan Agus ini belum ditemukan di lokasi lain.
Menurutnya, pola kemunculan api hingga dugaan gas yang terlibat menjadikan fenomena tersebut tergolong khusus.
"Kalau dibicara komparasi, justru komparasinya menunjukkan bahwa ini itu kasus khusus. Tidak dijumpai di tempat lain," kata Sarju, dikutip, Jumat (5/6/2026).
Hasil penelitian sementara, Sarju bilang ditemukan indikasi kuat keberadaan gas hidrogen di lokasi kebakaran. Gas hidrogen itu muncul atau terbentuk dimungkinkan dari limbah organik hasil pemotongan ayam.
Diketahui rumah tersebut memang digunakan untuk usaha pemotongan ayam sejak 16 tahun silam.
Namun, yang masih menjadi tanda tanya besar ialah mengapa fenomena tersebut hanya muncul di rumah itu.
Padahal model pengelolaan limbah pemotongan ayam serupa juga banyak ditemukan di tempat lain.
"Kami belum mempunyai jawaban komprehensif terkait kenapa limbah pemotongan ayam di tempat ini yang menghasilkan katakanlah gas hidrogen, dibanding misalkan pemotongan ayam di tempat lain," ujarnya.
Menurut Sarju, secara ilmiah fenomena gas hidrogen memang pernah ditemukan di lokasi dengan material organik membusuk seperti timbunan sampah, bangkai hewan, hingga area pemakaman.
Namun, kasus yang berkaitan dengan limbah pemotongan ayam seperti di Seyegan, Sleman ini belum banyak ditemukan.
"Fenomena yang sama itu terjadi bukan di limbah ayam, tetapi secara saintifik itu dijumpai di daerah bekas ada suatu pembuangan sampah di mana di situ banyak material organisme," ungkapnya.
Tim peneliti menduga gas hidrogen terbentuk dari proses fermentasi limbah organik yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Limbah berupa darah, bulu ayam, hingga sisa organik lain disebut berpotensi memicu aktivitas bakteri anaerob yang menghasilkan gas mudah terbakar.

Selain gas hidrogen, peneliti menduga terdapat keterlibatan gas fosfin (PH3) yang dalam kondisi tertentu dapat memicu pembakaran spontan.
"Kejadian bahwa gas hidrogen terpicu, terbakar oleh gas fosfin itu di dunia saintifik sudah ada. Kalau ini sudah 16 tahun (usaha pemotongan ayam) ya, itu waktu yang sangat memungkinkan untuk terbentuk itu (gas)," ujarnya.
Meski begitu, ia menegaskan dugaan sumber gas dari limbah organik masih bersifat asumsi ilmiah dan belum menjadi kesimpulan final.
Hal yang sudah dipastikan sejauh ini hanyalah keberadaan gas hidrogen berdasarkan pembacaan alat di lapangan.
Sarju menyebut tim peneliti kini masih terus berdiskusi untuk mengungkap penyebab utama fenomena tersebut.
Untuk sementara, tim UGM telah membuat empat titik penanganan di area yang diduga menjadi sumber keluarnya gas. Tujuannya untuk dilakukan tindakan di lapangan berupa penyiraman cairan basa atau air kapur di sekitar lokasi.
Langkah itu dilakukan sambil menunggu hasil penelitian lanjutan dan analisis laboratorium guna memastikan penyebab pasti teror api yang telah berlangsung hampir dua pekan tersebut.