WALHI: Target Ekonomi 8 Persen Bisa Sulap Papua Jadi Hamparan Sawit Raksasa

Bangun Santoso

Jum'at, 05 Juni 2026 | 20:09 WIB
WALHI: Target Ekonomi 8 Persen Bisa Sulap Papua Jadi Hamparan Sawit Raksasa
Konferensi pers Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 bertajuk “Selamatkan Ruang Hidup, Wujudkan Keadilan Ekologis Pulihkan Indonesia” di Jakarta, Jumat (5/6/2026). (Suara.com/Dinda Pramesti K)
  • WALHI mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah target 8 persen karena berisiko memperluas eksploitasi sumber daya alam secara masif.
  • Aktivitas industri ekstraktif telah merusak ekosistem serta mengganggu ruang hidup masyarakat adat, nelayan, dan kelompok rentan.
  • Pemerintah didesak mengevaluasi kebijakan pembangunan agar tidak hanya menguntungkan korporasi tetapi juga melindungi lingkungan dan masyarakat luas.

Suara.com - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengkritik arah kebijakan ekonomi pemerintah yang menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 8 persen.

WALHI menilai target tersebut berpotensi memperluas eksploitasi sumber daya alam dan mengorbankan ruang hidup masyarakat.

Pengkampanye Iklim dan Isu Global WALHI Nasional, Patria Rizky Ananda, mengatakan pemerintah saat ini lebih fokus mendorong investasi dan ekspansi usaha untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi.

"Menkeu Purbaya menyampaikan bahwa sektor swasta itu menyumbang 90 persen aktivitas ekonomi nasional. Untuk menuju ke 8 persen, pemerintah itu akan mendorong kebijakan yang mendukung investasi dan ekspansi usaha," kata Patria dalam konferensi pers Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 bertajuk “Selamatkan Ruang Hidup, Wujudkan Keadilan Ekologis Pulihkan Indonesia” di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Menurut dia, kebijakan tersebut berpotensi memperluas industri ekstraktif, mulai dari perkebunan sawit hingga hilirisasi tambang mineral kritis.

"Jadi kalau Bang Eky tadi jalan dari Jawa ke Sumatera liatnya sawit, ke depan tuh ke Papua Bang, mungkin naik bus dari sini bisa juga Bang, sawit semua nanti Bang," ujarnya.

Patria menyoroti dampak yang sudah dirasakan masyarakat di sekitar kawasan industri dan tambang. Salah satunya terjadi di Pulau Obi, Maluku Utara, di mana nelayan harus melaut lebih jauh akibat aktivitas industri nikel.

"Nelayan itu sudah harus melaut lebih jauh dari tempat mereka biasanya melaut. Padahal perahu mereka itu mesinnya kecil, jadi mereka nggak bisa melaut lebih jauh," katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa peningkatan pertumbuhan ekonomi selama ini berjalan beriringan dengan kenaikan emisi karbon nasional.

Berdasarkan data yang ia sampaikan, emisi Indonesia pada 2024 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, terutama dari sektor energi, industri, transportasi, dan eksploitasi bahan bakar.

Karena itu, WALHI meminta pemerintah memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dirasakan masyarakat luas, bukan hanya korporasi besar.

"Masyarakat, kelompok rentan, petani, nelayan, masyarakat adat, perempuan, mereka yang tinggal di pesisir-pesisir dan pulau-pulau kecil itu mereka harus merasakan juga manfaatnya. Jangan sampai ruang hidup mereka direnggut atas nama pertumbuhan ekonomi itu," tegasnya.

Senada, Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Riau, Ahlul Fadli, menilai eksploitasi sumber daya alam selama puluhan tahun telah menyebabkan kerusakan lingkungan serius di Sumatra, khususnya di Riau.

Ia mengungkapkan luas hutan alam Riau yang sekitar 30 tahun lalu mencapai 5 juta hektare kini tersisa sekitar 1,3 juta hektare.

"Hutannya dari hutan alam di hampir 30 tahun yang lalu itu 5 juta dan sekarang itu 1,3 juta hektar yang tersisa," kata Ahlul.

Menurutnya, berbagai rezim pembangunan telah mendorong eksploitasi melalui industri kayu, hutan tanaman industri, perkebunan sawit hingga pertambangan yang berdampak pada rusaknya daerah aliran sungai dan ekosistem gambut.

WALHI menegaskan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi momentum evaluasi kebijakan pembangunan yang selama ini dinilai lebih berpihak pada investasi ketimbang perlindungan lingkungan hidup dan hak-hak masyarakat.

“Jangan sampai ruang hidup mereka nih direnggut atas nama pertumbuhan ekonomi itu… Kebijakan itu harus berpihak kepada masyarakat luas gitu bukan 1% terkaya,” pungkas Patria. (Reporter: Dinda Pramesti K)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dari Pesisir Sorong, Ibu Ragaia Wujudkan Rumah Layak dan Pendidikan Anak Bersama PNM Mekaar

Dari Pesisir Sorong, Ibu Ragaia Wujudkan Rumah Layak dan Pendidikan Anak Bersama PNM Mekaar

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 21:00 WIB

Rencana 750 Batalyon Teritorial Tuai Penolakan, Peneliti Soroti Ancaman Militerisasi Sipil

Rencana 750 Batalyon Teritorial Tuai Penolakan, Peneliti Soroti Ancaman Militerisasi Sipil

News | Kamis, 04 Juni 2026 | 19:10 WIB

Aksi Kamisan 910: Indonesia Darurat Militerisme, Anak Papua Jadi Korban Agresi di Pengungsian

Aksi Kamisan 910: Indonesia Darurat Militerisme, Anak Papua Jadi Korban Agresi di Pengungsian

News | Kamis, 04 Juni 2026 | 19:47 WIB

Ancaman Belum Usai! Mortir dan Amunisi Aktif PD II Ditemukan di Lokasi Ledakan Maut Biak

Ancaman Belum Usai! Mortir dan Amunisi Aktif PD II Ditemukan di Lokasi Ledakan Maut Biak

News | Rabu, 03 Juni 2026 | 10:18 WIB

Korban Meninggal Ledakan Bom Biak Jadi 6 Orang, Sempat Luka Ringan Sebelum Tiada

Korban Meninggal Ledakan Bom Biak Jadi 6 Orang, Sempat Luka Ringan Sebelum Tiada

News | Selasa, 02 Juni 2026 | 19:52 WIB

Papua Barat Punya Sekolah Berbasis Konservasi Pertama di Indonesia, Apa Beda dengan Sekolah Biasa?

Papua Barat Punya Sekolah Berbasis Konservasi Pertama di Indonesia, Apa Beda dengan Sekolah Biasa?

News | Selasa, 02 Juni 2026 | 12:00 WIB

Tim Jibom Temukan 'Granat Maut' di Lokasi Ledakan Biak, Olah TKP Terpaksa Ditunda

Tim Jibom Temukan 'Granat Maut' di Lokasi Ledakan Biak, Olah TKP Terpaksa Ditunda

News | Senin, 01 Juni 2026 | 21:18 WIB

Terkini

Pemprov DKI Kebut Pembersihan Sampah Muara Angke, Ditargetkan Tuntas Akhir Pekan

Pemprov DKI Kebut Pembersihan Sampah Muara Angke, Ditargetkan Tuntas Akhir Pekan

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 20:09 WIB

'Nyerah Jadi WNI tapi Sayang sama RI', Aksi Ibu di Yogya Soroti Ekonomi hingga Korupsi

'Nyerah Jadi WNI tapi Sayang sama RI', Aksi Ibu di Yogya Soroti Ekonomi hingga Korupsi

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 19:55 WIB

Geledah 5 Jam, KPK Sita Moge Harley Davidson hingga Porsche di Rumah Silmy Karim

Geledah 5 Jam, KPK Sita Moge Harley Davidson hingga Porsche di Rumah Silmy Karim

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 19:44 WIB

Mapala Kritik Kemenhut: Kami Bawa Data Kerusakan, Malah Disuruh Tanam Pohon

Mapala Kritik Kemenhut: Kami Bawa Data Kerusakan, Malah Disuruh Tanam Pohon

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 19:42 WIB

Siap-siap! Tarif Transjabodetabek Naik Hingga Rp15 Ribu, Bukan Lagi Rp3.500

Siap-siap! Tarif Transjabodetabek Naik Hingga Rp15 Ribu, Bukan Lagi Rp3.500

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 19:12 WIB

Jadi Kasus Langka, Peneliti UGM Beberkan Hasil Penelitian Kebakaran Misterius Sleman

Jadi Kasus Langka, Peneliti UGM Beberkan Hasil Penelitian Kebakaran Misterius Sleman

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 19:06 WIB

Singapura Beri Jalan, KPK Targetkan Ekstradisi Paulus Tannos Rampung Cepat

Singapura Beri Jalan, KPK Targetkan Ekstradisi Paulus Tannos Rampung Cepat

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 18:57 WIB

Bantah Sembunyi, Silmy Karim Ngaku Cuma Jalani Agenda Biasa Saat Jadi Buruan KPK

Bantah Sembunyi, Silmy Karim Ngaku Cuma Jalani Agenda Biasa Saat Jadi Buruan KPK

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 18:51 WIB

Harga MinyaKita Bakal Naik, DPR Warning Pemerintah: Jangan Biarkan Penimbun Ambil Untung

Harga MinyaKita Bakal Naik, DPR Warning Pemerintah: Jangan Biarkan Penimbun Ambil Untung

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 18:46 WIB

Bakal Jadi Presiden Rusia Sampai 2036, Vladimir Putin: Hanya Tuhan yang Tahu

Bakal Jadi Presiden Rusia Sampai 2036, Vladimir Putin: Hanya Tuhan yang Tahu

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 18:41 WIB