-
Militer Amerika Serikat meluncurkan serangan udara baru ke Iran untuk memaksakan kesepakatan damai.
-
Eskalasi bersenjata ini memicu lonjakan harga minyak dunia hingga mencapai 94 Dolar AS per barel.
-
Iran menuduh AS melakukan kejahatan perang setelah serangan mengenai reservoir air bersih warga.
Konflik yang telah berjalan selama tiga bulan ini telah menelan ribuan korban jiwa dan memutus seperlima pasokan minyak serta gas alam global.
Harga minyak mentah dunia langsung melonjak hampir 3 Dolar AS hingga menyentuh angka 94 Dolar AS per barel sesaat setelah ancaman Trump mencuat.
Di tengah situasi kritis ini, Donald Trump mengklaim adanya misi militer rahasia untuk mengawal kapal-kapal pembawa 100 juta barel minyak melintasi blokade Selat Hormuz.
Hegseth menambahkan bahwa armada kapal tersebut bergerak secara senyap di bawah radar pertahanan musuh.
"Di tengah malam, dilindungi oleh Amerika Serikat dengan cara yang tidak dapat dihentikan oleh Iran, mereka tidak dapat melihatnya."
Di sisi lain, sekutu Iran di Lebanon, milisi Hezbollah, juga terus terlibat kontak senjata sengit dengan pasukan Israel di wilayah selatan.
Perang terbuka antara AS dan Iran ini dipicu oleh kebuntuan negosiasi jangka panjang mengenai kontrol jalur maritim dan program nuklir.
Iran menuntut pencabutan sanksi ekonomi total, pengembalian aset yang dibekukan, serta pengakuan atas kendali mereka di Selat Hormuz.
Sebaliknya, Donald Trump bersikeras bahwa Iran harus membuka jalur pelayaran internasional dan menghentikan seluruh ambisi pengembangan senjata nuklir mereka.
Situasi domestik AS turut memanas karena lonjakan harga bahan bakar akibat perang ini mulai menggerus elektabilitas Trump menjelang pemilu paruh waktu.
Meskipun tensi militer berada di titik tertinggi, upaya diplomasi masih diusahakan melalui kedatangan delegasi Qatar di Teheran sebagai mediator pihak ketiga.