Selat Hormuz Memanas: Asuransi Tolak Jamin Kapal RI, Pemerintah Siapkan Skenario Darurat Energi

Muhammad Yasir, Bagaskara Isdiansyah

Kamis, 11 Juni 2026 | 17:09 WIB
Selat Hormuz Memanas: Asuransi Tolak Jamin Kapal RI, Pemerintah Siapkan Skenario Darurat Energi
ilustrasi Selat Hormuz (Google Gemini)
baca 10 detik
  • Wamenlu Arif Havas menyatakan kapal Indonesia terkendala ancaman keamanan dan penolakan asuransi saat melintasi Selat Hormuz.
  • Perusahaan asuransi menolak menjamin kapal yang berlayar di jalur sempit Selat Hormuz karena risiko konflik yang tinggi.
  • Pemerintah mengantisipasi gangguan pasokan minyak nasional dengan mencari sumber impor alternatif dari kawasan Afrika dan Amerika Latin.

Suara.com -
Pemerintah mengungkap tantangan besar yang dihadapi kapal-kapal Indonesia di tengah memanasnya konflik di Selat Hormuz.

Bukan hanya ancaman keamanan, kapal yang melintas di jalur perdagangan energi paling vital di dunia itu kini menghadapi persoalan lain: perusahaan asuransi menolak memberikan perlindungan.

Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno mengatakan keputusan kapal untuk berlayar di kawasan konflik tidak semata ditentukan oleh kondisi politik atau militer, tetapi juga bergantung pada jaminan asuransi.

"Jadi, kalau untuk kapal, itu dalam industri kapal, keputusan untuk navigasi dalam kondisi konflik, itu pertama tentunya ada jaminan dari negara. Oke. Negara maksudnya yang, yang berkonflik di situ. Tapi ada satu lagi yang tidak banyak diketahui adalah asuransi. Jadi, saat ini kondisinya adalah asuransi itu asuransi kapal, ya. Tidak ada yang mau menanggung kalau dia masuk Selat Hormuz," ujar Havas di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Menurut Havas, selain faktor keamanan dan asuransi, keputusan pelayaran juga bergantung pada pertimbangan kapten kapal serta pemilik kargo.

"Jadi, banyak sekali kapal yang tidak mau jalan karena memang asuransinya nggak mau meng-cover. Lalu yang ketiga adalah kapten. Keputusan kapten seperti apa untuk keselamatan kapal, kan? Lalu yang keempat, kargo owner. Jadi, faktor itu semua harus align gitu," jelasnya.

Ia menerangkan, perusahaan asuransi masih bersedia memberikan perlindungan selama kapal berada di pelabuhan atau titik aman. Namun situasi berubah ketika kapal mulai memasuki Selat Hormuz yang sempit dan berisiko tinggi.

"Asuransi posisinya jelas. Pokoknya kalau kapalnya hanya parkir, ya dia tetap di-cover asuransi. Tapi begitu kapal-kapal itu bergerak masuk ke Selat Hormuz, yang di atas ya. Kan ada yang di bawah, itu kan. Iya, Hormuz kan luas. Jadi ada yang kalau dia parkir di pulau atau di pantai itu ya di-cover asuransi. Ini berlaku semua, ya. Nggak cuma di Indonesia saja. Jadi, begitu kapal itu dia masuk ke dalam selat yang sempit, asuransi langsung tidak mau menanggung," katanya.

Havas membandingkan situasi tersebut dengan krisis pelayaran di Bab-el-Mandeb akibat serangan kelompok Houthi.

baca juga

Saat itu, lalu lintas kapal menuju Terusan Suez turun drastis sehingga banyak kapal memilih memutar lewat Afrika Selatan dengan biaya logistik tambahan mencapai jutaan dolar AS.

Di tengah situasi yang terus berkembang, Kementerian Luar Negeri memastikan komunikasi dengan berbagai pihak tetap berjalan.

"Kalau komunikasi ada terus, ada terus. Tapi kan kondisi politiknya kan memanas, ya, eskalasi gitu. Dan ya kita wait and see, terpaksa," ujar Havas.

Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno. [Suara.com/Bagaskara]
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno. [Suara.com/Bagaskara]

Antisipasi Pasokan Minyak

Pemerintah juga mengantisipasi dampak konflik terhadap pasokan energi nasional.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperluas sumber impor minyak dari negara-negara yang tidak bergantung pada jalur Selat Hormuz.

"Kalau mengenai masalah apa, minyak, ya, jadi strategi kita itu adalah sekarang ini kita mendapatkan pasokan dari kawasan yang tidak memerlukan lewat Hormuz. Jadi kita banyak kerjasama sekarang dengan Aljazair, Nigeria, Angola, di Afrika. Jadi banyak pasokan minyak dari Afrika," katanya.

Selain Afrika, Indonesia juga mulai menjajaki peluang investasi energi di kawasan Amerika Latin.

"Jadi, so far oke, so far so good. Dan kita juga baru saja mendapatkan izin untuk melanjutkan operasi di Venezuela. Kita akan coba ke investasi di daerah-daerah sekitar Latin Amerika begitu," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Klaim Serang 18 Pangkalan Militer AS, Iran Ancam Washington: Kawasan Ini akan Jadi Neraka!

Klaim Serang 18 Pangkalan Militer AS, Iran Ancam Washington: Kawasan Ini akan Jadi Neraka!

News | Kamis, 11 Juni 2026 | 14:33 WIB

Helikopter Apache Jatuh, AS Menggila! Iran Dibombardir di Selat Hormuz

Helikopter Apache Jatuh, AS Menggila! Iran Dibombardir di Selat Hormuz

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 13:03 WIB

Pasokan Minyak Dunia Terguncang Parah Akibat Serangan AS ke Dekat Selat Hormuz

Pasokan Minyak Dunia Terguncang Parah Akibat Serangan AS ke Dekat Selat Hormuz

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 12:29 WIB

Terkini

4 Pesona Surgawi Bhutan, Ada Proyek Pembangunan 108 Stupa dalam Sehari yang Bikin Takjub!

4 Pesona Surgawi Bhutan, Ada Proyek Pembangunan 108 Stupa dalam Sehari yang Bikin Takjub!

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:28 WIB

Kiprah Heyzer Harsono, Sosok di Balik Samator Indo Gas dan Voli Nasional

Kiprah Heyzer Harsono, Sosok di Balik Samator Indo Gas dan Voli Nasional

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:26 WIB

10 Pelaku UMKM Difabel di Palu Terima Bantuan Modal Usaha

10 Pelaku UMKM Difabel di Palu Terima Bantuan Modal Usaha

Sulsel | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:20 WIB

Urutan Skincare Pasca Pico Laser agar Flek Hitam Tidak Menghitam Lagi

Urutan Skincare Pasca Pico Laser agar Flek Hitam Tidak Menghitam Lagi

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:20 WIB

Kenapa Deretan Musisi Mundur dari Rans Carnival Jogja? Ini Kronologinya

Kenapa Deretan Musisi Mundur dari Rans Carnival Jogja? Ini Kronologinya

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:19 WIB

Sisi Gelap Solo Traveling yang Gak Ada di Algoritma Instagram, Perempuan Wajib Tahu!

Sisi Gelap Solo Traveling yang Gak Ada di Algoritma Instagram, Perempuan Wajib Tahu!

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:17 WIB

Hujan Mulai Turun, Ahmad Luthfi Optimis Target Produksi Padi Jateng 2026 Tercapai

Hujan Mulai Turun, Ahmad Luthfi Optimis Target Produksi Padi Jateng 2026 Tercapai

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:10 WIB

Menguak Andil Manusia, Benarkah Kepunahan Keenam akan Segera Tiba?

Menguak Andil Manusia, Benarkah Kepunahan Keenam akan Segera Tiba?

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:10 WIB

Berapa Harga Jual Maksimal Beras SPHP ? Bulog Awasi Pengoplosan di Kendari

Berapa Harga Jual Maksimal Beras SPHP ? Bulog Awasi Pengoplosan di Kendari

Sulsel | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:09 WIB

Menguatkan Tata Kelola Keuangan Haji, BPKH Jaga Asa Jemaah Hari Ini dan Masa Depan

Menguatkan Tata Kelola Keuangan Haji, BPKH Jaga Asa Jemaah Hari Ini dan Masa Depan

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:58 WIB

×