- Peserta aksi Dzakwan Falih mengaku mengalami kekerasan fisik oleh aparat kepolisian saat demonstrasi di depan Gedung DPR RI, Senin (15/6/2026).
- Dzakwan sempat ditangkap saat mencoba membakar ban, lalu dibebaskan polisi dengan peringatan agar tidak melakukan aksi demonstrasi secara anarkis.
- Aliansi Cipayung Menggugat menuntut Presiden dan Wakil Presiden mundur serta mendesak perbaikan kebijakan pendidikan, harga BBM, dan program makan gratis.
Suara.com -
Seorang peserta aksi dari aliansi Cipayung Menggugat mengaku mengalami kekerasan saat diamankan aparat kepolisian dalam demonstrasi di depan Gedung DPR RI, Senin (15/6/2026).
Demonstran bernama Dzakwan Falih (24) mengaku sempat ditangkap polisi ketika hendak membakar ban sebagai bentuk protes dalam aksi tersebut.
Usai diamankan, Dzakwan mengaku mendapat pemukulan di beberapa bagian tubuh.
"Saya dipukul di bagian perut dan bahu," kata Dzakwan kepada wartawan di depan DPR RI.
Dzakwan kemudian dibawa oleh aparat kepolisian sebelum akhirnya dibebaskan. Menurut dia, polisi memberikan pesan agar aksi demonstrasi tidak dilakukan dengan cara-cara yang dianggap anarkis.
"Kalau mau demo, jangan anarkis," ucapnya.
Meski telah dibebaskan, Dzakwan terlihat masih lemas saat kembali ke lokasi aksi. Ia juga mengaku mengalami trauma setelah peristiwa tersebut.

Aksi yang digelar aliansi Cipayung Menggugat membawa sejumlah tuntutan kepada pemerintah.
Massa mendesak Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengundurkan diri dari jabatannya sebagai bentuk pertanggungjawaban atas berbagai kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Selain itu, mereka menuntut pendidikan gratis dan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia, penurunan harga bahan bakar minyak (BBM), evaluasi total terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga penghentian sementara program tersebut sampai dilakukan perbaikan tata kelola dan sistem pelaksanaannya.