-
AS dan Iran menyepakati perjanjian sementara untuk membuka kembali jalur vital Selat Hormuz.
-
Kesepakatan damai ini dijadwalkan akan ditandatangani di Swiss pada hari Jumat mendatang.
-
Perjanjian baru ini memperpanjang gencatan senjata pasca tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Suara.com - Hubungan membara antara Amerika Serikat dan Iran akhirnya memasuki babak baru yang krusial. Kedua negara resmi mencapai kesepakatan sementara demi mengakhiri perang dan memulihkan jalur perdagangan di Selat Hormuz.
Rencana penandatanganan kesepakatan damai ini dijadwalkan berlangsung pada hari Jumat di Swiss. Kendati demikian, bayang-bayang kegagalan masa lalu tetap mengintai karena detail poin perjanjian masih memicu perdebatan sengit.
Ketegangan nuklir dan militer yang melibatkan Washington dan Teheran sebenarnya telah berlangsung selama puluhan tahun melalui dinamika yang sangat kompleks.

Berikut ini sejarah program nuklir Iran dan ketegangan dengan Amerika Serikat dikutip dari AP:
1967 — Iran resmi mengoperasikan Reaktor Penelitian Teheran yang dipasok oleh Amerika Serikat melalui program "Atoms for Peace".
1979 — Shah Mohammad Reza Pahlavi yang sedang sakit parah melarikan diri dari Iran akibat gelombang protes massal. Ayatollah Ruhollah Khomeini mengambil alih kekuasaan lewat Revolusi Islam, disusul krisis penyanderaan Kedutaan Besar AS selama 444 hari yang membekukan program nuklir Iran.
Agustus 2002 — Intelijen Barat bersama kelompok oposisi Iran membongkar keberadaan fasilitas pengayaan uranium rahasia milik Teheran di Natanz.

Juni 2003 — Inggris, Prancis, dan Jerman mulai menginisiasi negosiasi formal terkait aktivitas nuklir dengan pemerintah Iran.
Oktober 2003 — Di bawah tekanan hebat dari dunia internasional, Teheran akhirnya bersedia membekukan sementara aktivitas pengayaan uranium mereka.
Februari 2006 — Iran nekat mengaktifkan kembali pengayaan uranium setelah presiden bergaris keras Mahmoud Ahmadinejad terpilih, yang membuat negara-negara Eropa langsung walk out dari perundingan.
Juni 2009 — Kemenangan kontroversial Ahmadinejad memicu demonstrasi besar bernama Gerakan Hijau yang berujung pada tindakan represif dan mematikan oleh aparat.
Oktober 2009 — Pemerintahan Presiden AS Barack Obama membuka jalur diplomasi rahasia dengan Teheran melalui perantara Kesultanan Oman.
Juli 2012 — Pejabat tinggi jajaran pemerintah Amerika Serikat dan Iran menggelar pertemuan tatap muka secara rahasia di Oman.
Juli 2015 — Iran dan kekuatan dunia menyepakati perjanjian nuklir jangka panjang yang membatasi pengayaan uranium dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi.
8 Mei 2018 — Presiden AS Donald Trump secara sepihak keluar dari perjanjian nuklir tersebut dan menyebutnya sebagai "perjanjian terburuk yang pernah ada." Trump sesumbar akan mendapatkan persyaratan yang lebih baik guna menghentikan rudal Iran dan milisi regional, namun negosiasi itu tidak pernah terjadi di periode pertama jabatannya.