- Donald Trump dituntut memenuhi janji menurunkan harga minyak setelah kesepakatan damai perang Iran.
- Pemulihan distribusi minyak terhambat oleh ancaman ranjau laut yang ditanam Iran di Selat Hormuz.
- Pelaku industri pelayaran global masih ragu mengirim kapal karena lonjakan biaya premi asuransi.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini dituntut membuktikan janjinya kepada publik global. Kesepakatan damai perang Iran yang segera diteken akhir pekan ini menjadi pertaruhan atas stabilitas ekonomi dunia.
Selama ini, Trump berulang kali menegaskan bahwa harga energi akan segera merosot tajam begitu konflik selesai. Faktanya, memulihkan jalur pasokan komoditas hitam tersebut ke posisi normal tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Harga minyak mentah Brent memang sempat melandai ke bawah angka 85 dolar AS per barel. Namun, situasi di pasar berjangka menunjukkan kecemasan mendalam bahwa pemulihan total baru terjadi tahun 2031.
![Ilustrasi harga minyak bertahan di atas USD 100 meskipun AS tambah pasokan minyaknya [Suara.com/HD]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/07/60704-ilustrasi-harga-minyak.jpg)
Kondisi psikologis pasar dipengaruhi oleh realitas hancurnya infrastruktur logistik pasca-perang di Timur Tengah. Harapan kembalinya harga bahan bakar murah bentrok dengan fakta lapangan yang rumit.
"Kita akan melihat seperti apa kondisi normal yang baru nanti," ujar Dan Pickering, pendiri sekaligus kepala investasi di Pickering Energy Partners dikutip dari CNN.
"Namun, kondisinya tidak akan menghasilkan bensin seharga 2,85 dolar AS lagi."
Ketika pemblokiran jalur laut dibuka resmi hari Jumat, ratusan juta barel minyak terjebak di kapal tanker. Distribusi tersebut tersendat karena Iran menanam banyak ranjau laut di sepanjang kawasan Selat Hormuz.
![Donald Trump [The White House]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/27/67083-donald-trump.jpg)
Kondisi tersebut memaksa kapal-kapal tanker raksasa hanya bisa melewati dua jalur navigasi yang sangat sempit. Akibatnya, terjadi penumpukan armada yang memperlambat arus keluar masuk pasokan energi secara drastis.
Nakhoda kapal harus ekstra waspada memandu jalannya armada agar tidak saling bertabrakan atau kandas. Proses pembersihan ranjau berisiko tinggi oleh Angkatan Laut AS diperkirakan memakan waktu berminggu-minggu.
Aspek lain yang memperlambat normalisasi pasokan adalah ketersediaan armada tanker yang siap muat di sekitar selat. Jumlah kapal yang bersiap di lokasi saat ini jauh lebih sedikit dari kondisi normal.
Dunia internasional juga masih mengkhawatirkan stabilitas keamanan regional jika kesepakatan damai tersebut dilanggar sepihak. Premi asuransi kapal otomatis melonjak drastis, membuat banyak perusahaan logistik enggan berspekulasi mengirim armada mereka.
"Pemilik kapal tidak akan bergerak dalam jumlah besar tanpa gencatan senjata yang kredibel dan stabil dari kedua belah pihak yang berkonflik," kata Jakob Larsen, petugas keselamatan & keamanan di BIMCO.
Ketegangan bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran sebelumnya telah melumpuhkan aktivitas ekonomi di Selat Hormuz sejak Februari lalu. Jalur strategis ini merupakan urat nadi utama yang mendistribusikan seperlima pasokan minyak dunia.
Sektor industri memproyeksikan proses pemulihan operasional pelayaran membutuhkan waktu minimal dua hingga enam bulan. Selama masalah mendasar di jalur distribusi ini belum selesai, harga energi global dipastikan tetap tinggi.