-
Iran mendesak memorandum bersama Amerika Serikat ditandatangani dalam bahasa Inggris dan Farsi.
-
Kebijakan penggunaan dua bahasa resmi ini bertujuan untuk menjaga transparansi publik yang tinggi.
-
Langkah tersebut diambil guna mencegah munculnya terjemahan subjektif atau perbedaan tafsir isi.
Suara.com - Pemerintah Iran memastikan nota kesepahaman terbaru dengan Amerika Serikat ditandatangani menggunakan bahasa Inggris dan Farsi secara bersamaan. Langkah berani ini diambil untuk menjamin keterbukaan mutlak dan mencegah kesalahpahaman di masa depan.
Desakan Teheran terhadap penggunaan 2 bahasa tersebut menjadi sinyal kuat bahwa mereka tidak ingin ada celah manipulasi. Kesepakatan ini sekaligus menjadi standar baru dalam pola komunikasi diplomatik kedua negara yang kerap bersitegang.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa kebijakan ini memegang peranan sangat vital. Struktur dokumen bilateral kini dipastikan memiliki kekuatan hukum yang setara di kedua belah pihak.

"Ini mewakili tingkat transparansi tertinggi dalam komunikasi publik kami," ujar Baghaei dalam wawancara khusus bersama stasiun penyiaran negara, IRIB.
Baghaei juga menambahkan bahwa langkah taktis ini menutup ruang bagi munculnya perdebatan interpretasi naskah di kemudian hari. Komitmen tersebut dinilai sebagai benteng utama untuk menjaga keaslian isi kesepakatan politik tersebut.
"Jika teks tersebut hanya ada dalam bahasa Inggris, mungkinkah ada terjemahan yang subjektif atau berbeda," kata Baghaei menjelaskan alasan mendasar di balik ketegasan pihak Iran.
Oleh karena itu, penyusunan naskah Farsi dibuat dengan ketelitian tingkat tinggi agar selaras sepenuhnya dengan versi Inggris. Teheran memandang naskah berbahasa resmi mereka tersebut memiliki legitimasi yang tidak dapat diganggu gugat.
Kemenlu Iran secara tegas menyatakan dokumen Farsi itu kini berstatus sah dan berotoritas penuh secara hukum internasional. Langkah ini diambil guna memitigasi risiko distorsi informasi yang berpotensi merugikan kepentingan nasional mereka.
Di sisi lain, publik global melihat dinamika ini sebagai metode baru dalam memperkuat akuntabilitas kontrak politik antarkeduanya. Ketegangan historis yang panjang membuat setiap klausul tertulis menjadi sangat sensitif bagi stabilitas kawasan.
Dua dokumen yang identik ini diharapkan mampu meredam kecurigaan domestik maupun internasional terkait isi perjanjian. Kedua negara kini terikat pada diksi yang sama tanpa ada ruang untuk mengelak.
Sebagai latar belakang, hubungan bilateral antara Amerika Serikat dan Iran telah lama diwarnai oleh ketidakpercayaan yang mendalam. Berbagai negosiasi sebelumnya sering kali mengalami kebuntuan akibat perbedaan persepsi terhadap teks kesepakatan.
Persoalan bahasa dan interpretasi hukum kerap kali menjadi batu sandungan besar dalam mengimplementasikan kesepakatan bersama. Melalui penerapan aturan 2 bahasa yang setara ini, Iran mencoba membangun benteng hukum yang lebih kokoh.
Keberadaan dokumen dalam bahasa Farsi ini memberikan rasa aman bagi publik Iran terhadap transparansi kinerja pemerintahnya. Kini, dokumen resmi tersebut menjadi acuan utama yang valid bagi masa depan hubungan diplomatik kedua negara.
Berikut adalah isi lengkap dari poin-poin kesepakatan yang telah disetujui:
1. Amerika Serikat dan Republik Islam Iran beserta sekutu mereka dalam perang saat ini menandatangani MOU ini untuk menyatakan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon, dan berjanji mulai sekarang tidak akan memulai perang atau operasi militer apa pun terhadap satu sama lain, dan untuk menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap satu sama lain, serta menjamin integritas wilayah dan kedaulatan Lebanon. Kesepakatan akhir akan mengonfirmasi penghentian permanen perang di semua lini, termasuk di Lebanon dan ketentuan lain dari paragraf ini.