- Intelijen Amerika Serikat sedang menyelidiki jatuhnya pesawat F-15 oleh formasi drone terkoordinasi di wilayah Iran pada April lalu.
- Pilot melaporkan formasi drone menyerupai ubur-ubur, memicu analisis penggunaan teknologi *one-to-many meshed networking* yang canggih dalam pertempuran.
- Perdebatan muncul mengenai akurasi kesaksian pilot serta potensi dampak signifikan teknologi drone otonom terhadap strategi militer masa depan.
Ada pula dugaan bahwa Iran tengah menguji teknologi tersebut dengan dukungan Rusia atau China.
Namun, tidak menutup kemungkinan fenomena yang dilihat pilot merupakan ilusi akibat kondisi fisik dan psikologis pasca-insiden.
Menurut pakar pertahanan memperingatkan bahwa jika teknologi ini terbukti nyata, dampaknya akan signifikan terhadap strategi militer modern.
Koordinasi otonom antar-drone dinilai dapat meningkatkan efektivitas serangan secara drastis.
“Jika drone dapat berkoordinasi, mempertahankan formasi, membawa bahan peledak, dan menyimpan cadangan untuk serangan lanjutan, itu adalah pendekatan yang sangat mampu,” ujar spesialis peperangan drone, Emma Bates.