NO banyak dihasilkan dari aktivitas yang sangat dekat dengan kehidupan perkotaan, mulai dari emisi kendaraan bermotor, proses industri, hingga penggunaan berbagai produk konsumen.
Ketika gas ini bertemu dengan senyawa organik volatil tertentu di udara, interaksi kimianya dapat memicu pembentukan partikel baru yang memperburuk kualitas udara.
Menurut peneliti lainnya, Dr. Avinash Kumar, temuan tersebut menunjukkan bahwa pemahaman manusia tentang kimia atmosfer masih terus berkembang.
“Temuan kami mengungkapkan bahwa kimia udara perkotaan lebih kompleks daripada yang diasumsikan sebelumnya. Untuk memprediksi kualitas udara di masa depan secara akurat, kita perlu memahami semua jalur kimia yang berkontribusi pada pembentukan partikel,” ujarnya.
Apa artinya bagi kota-kota di Indonesia?
Temuan ini menjadi relevan bagi Indonesia yang masih menghadapi persoalan kualitas udara secara berulang.
Ketika sebuah kota mengalami polusi tinggi, penyebabnya sering kali tidak berasal dari satu polutan tunggal, melainkan dari berbagai senyawa yang saling bereaksi di atmosfer.
Artinya, upaya memperbaiki kualitas udara tidak cukup jika hanya berfokus pada penurunan emisi karbon atau pengurangan partikel tertentu.
Kebijakan pengendalian polusi juga perlu mempertimbangkan bagaimana berbagai gas—termasuk yang selama ini kurang mendapat perhatian seperti nitrogen monoksida—berinteraksi dan membentuk polusi sekunder.
Di tingkat praktis, langkah seperti memperkuat transportasi publik, mengurangi ketergantungan kendaraan pribadi, serta memperketat pengawasan emisi industri tetap menjadi bagian penting dari solusi.
Namun penelitian ini mengingatkan bahwa memahami polusi udara berarti memahami proses yang jauh lebih rumit daripada sekadar menghitung jumlah asap yang terlihat di jalan.
Penulis: Natasha Suhendra