Kasus TPA Jatiwaringin: Mengapa Kebakaran TPA Terus Berulang, Apa Sebenarnya Akarnya?

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:50 WIB
Kasus TPA Jatiwaringin: Mengapa Kebakaran TPA Terus Berulang, Apa Sebenarnya Akarnya?
Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (1/7/2026). [ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU]
baca 10 detik
  • Kebakaran di TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, telah berlangsung tujuh hari dan baru berhasil dipadamkan sekitar 45 persen.
  • Petugas gabungan menggunakan metode injeksi air serta helikopter water bombing untuk menjangkau bara api di dalam sampah.
  • WALHI menilai kebakaran terjadi karena praktik pengelolaan sampah sistem open dumping yang memicu akumulasi gas metana mudah terbakar.

Suara.com - Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, telah memasuki hari ketujuh dan hingga kini belum sepenuhnya berhasil dipadamkan. Namun, bagi pemerhati lingkungan, persoalan yang terjadi bukan sekadar api yang sulit dipadamkan, melainkan cerminan lemahnya sistem pengelolaan sampah yang membuat bencana serupa terus berulang.

Hingga Senin (6/7), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat proses pemadaman baru mencapai sekitar 45 persen dari total area terbakar seluas 14 hektare. Sebanyak 300 personel gabungan diterjunkan dengan dukungan 19 mobil pemadam kebakaran, empat mobil tangki air, delapan ekskavator, delapan bulldozer, tiga helikopter water bombing, serta dua drone untuk memantau titik api.

Menurut BNPB, kebakaran di TPA membutuhkan penanganan berbeda dibanding kebakaran biasa. Api tidak hanya berada di permukaan, tetapi juga membara di dalam timbunan sampah, sehingga sulit dijangkau.

"Upaya pemadaman kebakaran lahan TPA ini membutuhkan penanganan khusus karena jenis lahannya menyerupai lahan gambut, di mana api tidak berada di permukaan namun membara di dalam tumpukan sampah," kata Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB Brigjen TNI Djohan Darmawan.

Infografis kebakaran TPA Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. [Suara.com/Rendra]
Infografis kebakaran TPA Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. [Suara.com/Rendra]

Karena itu, selain penyemprotan dari permukaan dan water bombing menggunakan helikopter, petugas juga menerapkan metode injeksi air ke dalam timbunan sampah untuk membasahi titik api yang berada di bawah permukaan. Operasi darat bahkan diperpanjang hingga pukul 22.00 WIB untuk mempercepat pemadaman.

Bukan sekadar kebakaran

Di balik upaya pemadaman, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai kebakaran TPA Jatiwaringin merupakan konsekuensi dari persoalan yang lebih mendasar, yakni sistem pengelolaan sampah yang belum berbenah.

Menurut WALHI, TPA Jatiwaringin menerima sekitar 1.366 hingga 2.700 ton sampah setiap hari atau hampir satu juta ton per tahun. Namun, kapasitas tersebut baru mampu menangani sekitar 59 persen dari total timbulan sampah di Kabupaten Tangerang.

Pengkampanye Urban Berkeadilan WALHI Nasional, Wahyu Eka Styawan, mengatakan kebakaran ini melengkapi deretan persoalan yang sebelumnya juga terjadi di sejumlah TPA lain, seperti TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung, TPA Rawa Kucing di Kota Tangerang, TPA Suwung di Denpasar, hingga kasus longsor di TPA Cipayung dan Bantargebang.

baca juga

Menurutnya, berbagai kejadian tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya musim kemarau atau cuaca panas, melainkan praktik open dumping yang masih digunakan di banyak daerah.

"Selama metana terus diproduksi dalam sistem open dumping dan penumpukan sampah organik bercampur dengan jenis lainnya, kebakaran seperti ini bukan sekadar kemungkinan, melainkan keniscayaan. Ini bukan kejadian tak terduga, melainkan akibat dari cara pengelolaan yang salah," ujar Wahyu.

Mengapa TPA mudah terbakar?

Proses pemadaman api di TPA Jatiwaringin. [Suara.com/Lilis]
Proses pemadaman api di TPA Jatiwaringin. [Suara.com/Lilis]

Dalam sistem open dumping, sampah dibuang begitu saja tanpa pengolahan maupun penutupan yang memadai. Sampah organik kemudian membusuk dan menghasilkan gas metana (CH), gas yang mudah terbakar sekaligus memiliki efek pemanasan global yang jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida.

Ketika gas tersebut terakumulasi di dalam timbunan sampah, sedikit percikan api atau suhu tinggi dapat memicu kebakaran yang sulit dipadamkan karena sumber api berada jauh di bawah permukaan.

WALHI menilai penyiraman air, termasuk melalui operasi water bombing, hanya membantu memadamkan api di bagian luar. Sementara itu, bara api di dalam timbunan sampah dapat terus menyala jika sumber pembentukan gas metana tidak diatasi.

Sebagai langkah darurat, WALHI menyarankan timbunan sampah ditutup menggunakan tanah untuk mengurangi suplai oksigen dan menekan pelepasan gas metana. Namun, menurut organisasi tersebut, langkah tersebut hanya bersifat sementara.

Perlu pembenahan dari hulu

Menurut WALHI, kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi pengingat bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan respons darurat ketika kebakaran terjadi.

Pengurangan sampah dari sumber, pemilahan sampah, serta pengolahan sampah organik dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah terbentuknya gas metana yang memicu kebakaran.

WALHI juga mengingatkan agar pemerintah tidak hanya berfokus pada solusi di hilir, seperti pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), karena dinilai belum menyentuh akar persoalan.

"Kebakaran di TPA Jatiwaringin adalah pengingat bahwa selama akar masalah di hulu tidak diselesaikan, negara akan terus berhadapan dengan bencana yang sama, dan warga akan terus menjadi pihak yang menanggung akibatnya," kata Wahyu.

Sementara itu, BNPB menyebut kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi pelajaran bagi pemerintah daerah lain menjelang musim kemarau. Salah satu langkah mitigasi yang disarankan adalah melakukan pembasahan lahan di area TPA serta mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah di sekitar permukiman.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dokter Paru Ingatkan Dampak Kesehatan Kebakaran TPA Jatiwaringin, Kelompok Rentan Harus Waspada

Dokter Paru Ingatkan Dampak Kesehatan Kebakaran TPA Jatiwaringin, Kelompok Rentan Harus Waspada

News | Selasa, 07 Juli 2026 | 11:43 WIB

Kebakaran TPA Jatiwaringin Baru Padam 45 Persen Meski Tiga Helikopter Dikerahkan

Kebakaran TPA Jatiwaringin Baru Padam 45 Persen Meski Tiga Helikopter Dikerahkan

News | Selasa, 07 Juli 2026 | 10:31 WIB

Tragedi Kebakaran Palmerah: Dikira Sudah Selamat, Kakek Suratman Ditemukan Tewas Terpanggang

Tragedi Kebakaran Palmerah: Dikira Sudah Selamat, Kakek Suratman Ditemukan Tewas Terpanggang

News | Senin, 06 Juli 2026 | 15:12 WIB

Terkini

Pencarian Hari Ketujuh Jurnalis Hilang, Tim SAR Fokus ke Wilayah Ditemukannya Life Jacket

Pencarian Hari Ketujuh Jurnalis Hilang, Tim SAR Fokus ke Wilayah Ditemukannya Life Jacket

Video | Senin, 14 September 2026 | 20:05 WIB

Dibalik Pencopotan Purbaya: Ada Andil Bos Pajak-Bea Cukai dan Geng SMI?

Dibalik Pencopotan Purbaya: Ada Andil Bos Pajak-Bea Cukai dan Geng SMI?

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 20:03 WIB

Siswi Yang Diduga Hilang Ingatan Karena Keracunan MBG Dirujuk ke RSCM, Ahli Turun Tangan

Siswi Yang Diduga Hilang Ingatan Karena Keracunan MBG Dirujuk ke RSCM, Ahli Turun Tangan

News | Senin, 14 September 2026 | 19:58 WIB

Dukung Tumbuh Kembang Anak Sungai Rebo, Kilang Plaju Salurkan PMT di Posyandu Asparagus

Dukung Tumbuh Kembang Anak Sungai Rebo, Kilang Plaju Salurkan PMT di Posyandu Asparagus

Sumsel | Senin, 14 September 2026 | 19:56 WIB

Kenali Identitas Bangsa Lewat Manuskrip: Perpusnas Gelar Pameran Merawat Ingatan Sepanjang September

Kenali Identitas Bangsa Lewat Manuskrip: Perpusnas Gelar Pameran Merawat Ingatan Sepanjang September

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 19:54 WIB

Kesaksian Pengasuh Daycare Little Aresha Bongkar Penipuan Fasilitas Anak

Kesaksian Pengasuh Daycare Little Aresha Bongkar Penipuan Fasilitas Anak

News | Senin, 14 September 2026 | 19:51 WIB

Sederet Pekerjaan Rumah Menkeu Suahasil: Fiskal Daerah Terjepit, MBG-KDMP Disorot

Sederet Pekerjaan Rumah Menkeu Suahasil: Fiskal Daerah Terjepit, MBG-KDMP Disorot

News | Senin, 14 September 2026 | 19:49 WIB

Lebih dari Beasiswa, PNM Bekali Anak Nasabah Mekaar Jadi Future Changemaker

Lebih dari Beasiswa, PNM Bekali Anak Nasabah Mekaar Jadi Future Changemaker

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 19:48 WIB

Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'

Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 19:47 WIB

Asa Belum Padam, Operasi Pencarian 5 Jurnalis di Selat Sunda Diperpanjang Tiga Hari

Asa Belum Padam, Operasi Pencarian 5 Jurnalis di Selat Sunda Diperpanjang Tiga Hari

News | Senin, 14 September 2026 | 19:44 WIB

×