-
Konflik militer AS dan Iran yang intensif memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga di atas 85 dolar.
-
Pasar saham Asia bergolak dengan anjloknya indeks Nikkei 225 Jepang lebih dari 3 persen akibat sentimen perang.
-
DPR AS meloloskan anggaran pertahanan 95 miliar dolar untuk membiayai operasional perang dan subsidi pertanian.
Suara.com - Harga minyak dunia kembali meroket tajam setelah aksi perang saling serang antara militer Amerika Serikat dan Iran terus memanas sepanjang malam. Konfrontasi bersenjata di Timur Tengah ini langsung memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Kontrak berjangka Brent kini menembus angka di atas 85 dolar AS per barel setelah mengalami kenaikan lebih dari 1 persen. Tren serupa juga dialami oleh minyak mentah AS yang merangkak naik hingga mendekati 80 dolar AS per barel.
Peningkatan ini membalikkan seluruh tren kerugian transaksi yang sempat terjadi pada sesi perdagangan sebelumnya. Sepanjang pekan ini, kedua patokan pasar minyak internasional tersebut telah melesat hampir 12 persen.
![Ilustrasi fasilitas minyak mentah di mana harga mulai melonjak kembali. [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/09/21722-harga-minyak-dunia-fasilitas-minyak-mentah.jpg)
Catatan ini menempatkan Brent dalam jalur pertumbuhan mingguan ketiga berturut-turut di pasar global. Dikutip dari Al Jazeera Jumat pagi, WTI juga sukses mempertahankan tren positifnya untuk kenaikan mingguan kedua secara beruntun.
Eskalasi geopolitik ini tidak hanya mengguncang sektor energi, tetapi juga memukul sektor finansial di kawasan Asia. Beberapa bursa saham di Asia langsung terjerembab ke zona merah pada pembukaan perdagangan Jumat pagi.
Indeks acuan Nikkei 225 di Jepang menjadi salah satu yang paling terdampak dengan koreksi tajam. Indeks saham terkemuka di negeri sakura tersebut dilaporkan anjlok hingga lebih dari 3 persen.
Menanggapi ketegangan yang meningkat, kubu Republik di Komite Anggaran DPR Amerika Serikat mengambil langkah taktis. Mereka resmi meloloskan paket anggaran belanja jumbo senilai 95 micron dolar AS untuk mendanai kebutuhan operasional terkait perang.
Paket pendanaan fantastis ini secara spesifik mengalokasikan dana sebesar 60 miliar dolar AS untuk sektor pertahanan negara. Selain itu, otoritas Amerika Serikat juga menyiapkan 13 miliar dolar AS khusus untuk memperkuat sektor intelijen.
Sektor domestik tidak luput dari alokasi dana darurat tersebut dengan menyisipkan anggaran 12 miliar dolar AS untuk bidang pertanian. Langkah mitigasi ini diambil demi menyelamatkan ketahanan pangan dalam negeri akibat pembengkakan biaya operasional.
Para pelaku sektor pertanian di Amerika Serikat kini memang tengah menghadapi lonjakan hebat biaya bahan bakar. Tekanan ekonomi tersebut semakin diperparah oleh melambungnya harga pupuk global akibat rantai pasok yang terganggu perang.
Anggota parlemen dari Partai Republik menegaskan bahwa dana pertahanan ini akan difokuskan untuk membiayai operasi militer. Uang tersebut juga akan dipakai untuk mengisi kembali komoditas senjata AS yang terkuras akibat pertempuran.
Sebagian dana lainnya bakal dialokasikan langsung demi mendongkrak kesiapan tempur seluruh elemen militer Amerika Serikat. Keputusan ini diambil di tengah perdebatan politik yang sengit di dalam internal parlemen.
"Kita tidak akan mendapatkan bantuan apa pun dari rekan-rekan Demokrat kami untuk melakukan apa yang saya yakini sebagai ... hal-hal kritis," ujar Ketua Komite Anggaran Jodey Arrington, seorang politisi Republik asal Texas.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Arrington di hadapan anggota panel sesaat sebelum mereka melakukan pemungutan suara. Paket anggaran militer ini akhirnya resmi dikirim ke DPR yang dikuasai penuh oleh Partai Republik untuk mendapatkan persetujuan akhir.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah berlangsung lama dan kerap kali melibatkan benturan kepentingan di kawasan Timur Tengah. Namun, serangan balasan yang terjadi berturut-turut dalam beberapa hari terakhir telah membawa konflik ini ke tingkat yang jauh lebih berbahaya.
Ketidakpastian geopolitik di wilayah penghasil minyak utama dunia ini selalu menjadi pemicu utama fluktuasi harga energi global. Pasar saat ini terus mengantisipasi dampak jangka panjang dari perang ini terhadap jalur distribusi minyak di Selat Hormuz.