IEA memperingatkan risiko fatal terhadap keamanan energi global akibat penutupan Selat Hormuz.
Blokade sejak 28 Februari menghentikan seperlima pasokan energi dunia yang melintasi selat.
Negara berkembang di Asia seperti Pakistan dan India menderita dampak ekonomi terparah.
Suara.com - Dunia kini menghadapi ancaman kelangkaan energi yang serius akibat tersumbatnya pengiriman pasokan minyak dunia melewati Jalur Selat Hormuz.
Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) menegaskan situasi ini menuntut pemulihan lalu lintas logistik secara cepat demi menjaga stabilitas pasar global.
"Keamanan minyak masih menjadi isu kritis," cetus Fatih Birol dalam acara Council on Foreign Relations.
![Ilustrasi harga minyak dunia [Shutterstock]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2016/01/22/o_1a9j7gdg531d1g58fn15p210ska.jpg)
"Kita harus khawatir, dan saya khawatir, jika situasi tidak membaik dalam beberapa minggu ke depan," tambah Birol menegaskan kecemasannya.
Jalur sempit yang memisahkan Iran dan Oman ini biasanya menampung seperlima dari total distribusi energi dunia. Namun roda perdagangan di kawasan tersebut lumpuh total sejak pertempuran pecah pada 28 Februari lalu.
Tersendatnya pasokan bahan bakar berimbas buruk pada perekonomian lintas benua secara tidak proporsional. Birol menyoroti bahwa ketimpangan dampak ini sangat merugikan wilayah tertentu yang memiliki ketergantungan tinggi.
"Ini terutama Asia, karena Asia memperoleh 80 hingga 90 persen energi ini dari Selat Hormuz," urai Birol mengenai basis data distribusi.
Negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan ikut merasakan tekanan ekonomi yang berat. Meski demikian, hantaman paling telak justru dirasakan oleh negara-negara yang sedang berkembang.
Birol memaparkan bahwa Pakistan, Bangladesh, dan India menjadi korban yang menderita kerugian paling parah.
Selat Hormuz merupakan urat nadi logistik minyak mentah paling vital di dunia yang menghubungkan produsen Timur Tengah dengan pasar global. Blokade total yang terjadi selama beberapa bulan terakhir dipicu oleh eskalasi konflik bersenjata di wilayah sekitarnya.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda ketegangan mereda sehingga memicu kekhawatiran kelangkaan energi yang berkepanjangan. Jika jalur ini tidak segera dibuka, inflasi dan krisis energi di berbagai negara berkembang diprediksi akan semakin memburuk.