- Anyerica Futsal League di Menteng hadir sebagai solusi atas minimnya fasilitas olahraga bagi pemuda di Jakarta.
- Turnamen ini mempertandingkan 48 tim untuk meresmikan lapangan permanen baru menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
- Kegiatan tersebut bertujuan menjauhkan pemuda dari pengaruh negatif serta menjadi sarana pembinaan bakat futsal usia dini.
Suara.com - Anyerica Futsal League, turnamen yang digagas Unit Karang Taruna (UKKT) RW 09 Menteng ikut mewarnai maraknya fenomena liga sepak bola swadaya warga di Jakarta belakangan ini.
Fenomena serupa sebelumnya lebih dulu viral lewat Liga Akamsi di Tambora, Jakarta Barat, yang digagas Firqi Hidayatulah alias Kiwil bersama rekan-rekannya sesama suporter Persija Jakarta setelah sebelumnya sukses digelar di kawasan tempat tinggal Kiwil di Penjaringan, Jakarta Utara.
Bahkan, lokasi Liga Aspal yang digagas Karang Taruna RW 08 juga masih berada satu kawasan dengan Anyerica Futsal League, yakni sama-sama di Menteng, meski beda RW.
Ketua Karang Taruna RW 08 Menteng, Andicka Prasetia atau Odoy, mengungkapkan Liga Aspal lahir dari keresahannya melihat anak-anak yang terpaksa bermain bola di tengah jalan kampung setiap hari, dan turut terinspirasi dari gerakan serupa di media sosial yang sebelumnya berhasil menarik perhatian publik, yaitu Liga Akamsi.
Wakil UKKT RW 09 Menteng, Arpit, menuturkan Anyerica Futsal League juga berangkat dari persoalan yang sama, yakni ketiadaan lapangan futsal di wilayahnya.
"Paling adanya Lapangan Borobudur, tapi itu untuk lapangan bola besar. Jadi untuk futsal memang belum ada," ujarnya di lokasi.

Berbeda dengan Liga Akamsi dan Liga Aspal yang memanfaatkan badan jalan aspal sebagai arena tanding, Anyerica Futsal League kini memiliki lapangan permanen.
"Sebelum dibangun secara permanen, lapangannya masih berupa tanah merah. Kami tetap bertanding di sini, tapi dengan gawang yang tiangnya dicor dari semen. Sebelumnya ini adalah urukan tanah yang banyak bekas puing bangunannya," kata Arpit.
Persoalan minimnya lapangan olahraga di permukiman padat Jakarta ini turut mendapat sorotan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.
Pramono menyebut fenomena liga sepak bola jalanan seperti Liga Akamsi dan Liga Aspal muncul akibat keterbatasan fasilitas olahraga di tengah kepadatan penduduk Ibu Kota, yang juga dipicu oleh mahalnya sewa lapangan futsal serta minimnya ruang terbuka hijau di kampung padat penduduk.
Ia pun mengaku turut mengikuti perkembangan Liga Aspal karena melihat kegembiraan anak-anak yang memanfaatkannya, meski mengakui pembangunan fasilitas olahraga di Jakarta belum bisa dilakukan secara menyeluruh dalam waktu dekat.
Di tengah keterbatasan itu, keberadaan lapangan permanen membuat Anyerica Futsal League memiliki modal lebih untuk berkembang lebih jauh dibanding liga jalanan sejenis.
Arpit menjelaskan, pertandingan berlangsung dengan sistem grup yang dilanjutkan babak gugur.
"Dari satu grup akan diambil dua tim terbaik, kemudian lanjut ke babak semifinal dan final," terangnya.
Turnamen yang mempertandingkan 24 tim kategori U-13 dan 24 tim U-18 ini dijadwalkan usai menjelang peringatan 17 Agustus, bertepatan dengan momen peresmian lapangan.