- Pakar hukum Romli Atmasasmita menyoroti dugaan korupsi dan pencucian uang yang menjerat mantan Jampidsus Febrie Adriansyah pada 20 Juli 2026.
- Romli mengkhawatirkan adanya campur tangan politik eksekutif yang berpotensi merusak independensi serta kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum nasional.
- Tim 9 yang terdiri dari mantan penyidik KPK diharapkan mampu menuntaskan kasus tersebut secara profesional dengan tuntutan hukum maksimal.
Suara.com - Pakar hukum Romli Atmasasmita memberikan analisis atas kasus eks Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febri Adriansyah.
Diketahui, Febrie Adriansyah diduga terlibat dalam tindak pidana korupsi sekaligus tindak pidana pencucian uang, dua kejahatan serius yang berpotensi membawa tuntutan hukuman berat di hadapan pengadilan.
Romli Atmasasmita secara tegas menyatakan bahwa proses penegakan hukum dalam kasus ini tidak terbebas dari pengaruh kekuatan di luar sistem peradilan.
Ia menilai adanya indikasi campur tangan politik dari pihak eksekutif yang berpotensi mengganggu independensi dan objektivitas dalam proses hukum yang sedang berlangsung.
Kondisi ini, menurut Romli, merupakan salah satu tantangan terbesar dalam penanganan perkara berdimensi tinggi seperti yang menjerat mantan pejabat senior Kejaksaan Agung tersebut.
"Intervensi semacam ini, jika dibiarkan, dapat merusak kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum dan mengikis prinsip equality before the law yang menjadi fondasi negara hukum”, ujar Romli dalam keterangannya, Senin (20/7/2026).
Romli menegaskan bahwa transparansi dan akuntabilitas dalam setiap tahapan penyidikan merupakan syarat mutlak agar kasus ini tidak hanya menjadi tontonan hukum tanpa kepastian.
Peran Tim 9 dan Kepastian Penuntutan
Di tengah kekhawatiran atas tekanan politik, Romli Atmasasmita menyampaikan optimisme. Ia menaruh harapan besar pada Tim 9.
Tim ini terdiri dari sembilan jaksa pilihan yang semuanya merupakan mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Diketahui, Kejagung menyatakan, kasus yang menyeret Febrie Adriansyah ditangani oleh jaksa berpengalaman dan diberi nama Tim 9.
Komposisi ini dinilai strategis karena para anggotanya memiliki pengalaman langsung dalam menangani perkara korupsi yang kompleks, serta memahami betul standar pembuktian yang tinggi yang dibutuhkan untuk membawa kasus hingga ke meja penuntutan.
Romli menegaskan bahwa apabila Tim 9 dapat bekerja secara profesional, independen, dan tanpa intervensi, terdapat harapan nyata bahwa perkara ini dapat diselesaikan hingga tahap penuntutan.
Bukan sekadar penuntutan biasa, Romli secara khusus menekankan bahwa tuntutan yang diajukan seharusnya bukan tuntutan ringan, melainkan tuntutan berat yang setimpal dengan bobot dugaan tindak pidana yang melibatkan korupsi dan pencucian uang secara bersamaan.