Kasus Febrie Adriansyah Dinilai Mengarah ke Skenario 'Peti Es', Mirip Perkara Firli Bahuri

Bella, Hiskia Andika Weadcaksana

Senin, 20 Juli 2026 | 16:25 WIB
Kasus Febrie Adriansyah Dinilai Mengarah ke Skenario 'Peti Es', Mirip Perkara Firli Bahuri
Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah menyampaikan keterangan saat konferensi pers di Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (10/7/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Peneliti Pukat UGM Zaenur Rohman menyoroti penanganan kasus korupsi mantan Jampidsus Febrie Adriansyah yang dinilai lamban dan menggantung.
  • Ketiadaan penahanan serta transparansi pemeriksaan terhadap Febrie Adriansyah memicu kekhawatiran publik terkait adanya perlakuan istimewa oleh Kejaksaan Agung.
  • Pukat UGM mengusulkan pengalihan penanganan perkara kepada KPK guna mencegah potensi konflik kepentingan dan memastikan kasus diusut tuntas.

Suara.com - Belum ditahannya mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah setelah ditetapkan sebagai tersangka memunculkan kekhawatiran baru.

Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) UGM, Zaenur Rohman, menilai sejumlah perkembangan dalam penanganan perkara itu mulai mengarah pada skenario "peti es", yakni kasus yang dibiarkan menggantung tanpa kejelasan hingga perlahan hilang dari perhatian publik.

Keraguan tersebut muncul bukan tanpa alasan. Pasalnya, hingga kini belum terlihat langkah-langkah penegakan hukum yang lazim dilakukan dalam perkara korupsi besar.

"FA (Febrie Adriansyah) belum ditahan, betul, karena memang FA ini memang masih sangat kuat ya, pengaruhnya masih sangat kuat, jejaringnya juga masih sangat kuat di dalam internal tubuh Kejaksaan," kata Zaenur kepada Suara.com, Senin (20/7/2026).

Menurut Zaenur, kuatnya pengaruh dan jejaring Febrie di lingkungan Kejaksaan berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap independensi penanganan perkara. Situasi itu diperparah dengan munculnya kesan adanya perlakuan khusus yang tidak ditemukan dalam banyak kasus korupsi lainnya.

"Sehingga ini semakin menguatkan keraguan publik, akan diungkap dengan jelas tidak nih gitu kan. Ada berbagai bentuk perlakuan istimewa terhadap FA," ucapnya.

Ia menyoroti belum adanya keterbukaan mengenai proses pemeriksaan terhadap Febrie. Publik, kata Zaenur, bahkan tidak mengetahui di mana keberadaan tersangka maupun bagaimana proses pemeriksaan dilakukan setelah status hukumnya ditetapkan.

"Sampai sekarang belum ditahan, tidak diperlihatkan dia ada di mana, kalau diperiksa dia juga lewat jalan khusus atau seperti apa ya," imbuhnya.

Tak hanya soal penahanan, minimnya tindakan penyidikan yang menyentuh lingkungan kerja Febrie saat masih menjabat juga menjadi sorotan. Padahal, dugaan tindak pidana yang disangkakan berkaitan dengan penanganan perkara korupsi yang berlangsung di institusi Kejaksaan Agung (Kejagung).

baca juga

"Penyidik juga sama sekali misalnya belum menggeledah tuh tempat FA bekerja dulunya. Karena kan ini dugaan tindak pidananya adalah terkait dengan penanganan perkara korupsi. Lah penanganan perkara korupsi ada di mana? Ya di gedung Kejaksaan Agung lah, sampai sekarang juga belum diperiksa," tandasnya.

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah menyampaikan keterangan saat konferensi pers di Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (10/7/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah menyampaikan keterangan saat konferensi pers di Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (10/7/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

Rangkaian kondisi tersebut, menurut Zaenur, semakin menguatkan kekhawatiran bahwa perkara ini tidak akan diusut secara terang-benderang hingga tuntas.

"Jadi ini memang semakin menguatkan ya keraguan publik perkara ini tidak akan diusut dengan tuntas. Dan ini tentu sangat memalukan kalau sampai FA ini tidak diusut sampai tuntas," ujarnya.

Ia mengingatkan kondisi serupa dengan pola penanganan perkara mantan Ketua KPK Firli Bahuri. Meski telah lama menjadi sorotan, perkara Firli hingga kini belum memiliki kepastian akhir sehingga menimbulkan kesan penegakan hukum berjalan di tempat.

"Jangan-jangan hanya seperti Firli itu, perkaranya tidak dituntaskan oleh kepolisian sampai sekarang," tuturnya.

Zaenur menegaskan, tekanan publik menjadi faktor penting untuk mencegah perkara tersebut masuk ke dalam "peti es".

"Ya harusnya presiden ketika sudah berpidato berapi-api akan kejar koruptor sampai ke antartika, koruptornya ada di sekitarnya nih, mau diapain tuh tersangka korupsinya," ujarnya.

Sebagai solusi, Pukat UGM berpandangan penanganan perkara sebaiknya dialihkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Langkah itu dinilai dapat mengurangi konflik kepentingan sekaligus memulihkan kepercayaan publik yang mulai tergerus akibat lambannya perkembangan kasus tersebut.

"Kalau bagi Pukat sih langkah paling tepat adalah ambil alih perkara ini dari Kejaksaan, tangani oleh KPK," tegasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Polri Buka Suara soal Dugaan Korupsi Hibah Lahan yang Libatkan Eks Wakapolri Oegroseno

Polri Buka Suara soal Dugaan Korupsi Hibah Lahan yang Libatkan Eks Wakapolri Oegroseno

News | Senin, 20 Juli 2026 | 16:22 WIB

Korupsi Pinjaman Proyek Batu Bara PLN Bikin Negara Rugi Rp38,8 Miliar, Dua Orang Jadi Tersangka

Korupsi Pinjaman Proyek Batu Bara PLN Bikin Negara Rugi Rp38,8 Miliar, Dua Orang Jadi Tersangka

News | Senin, 20 Juli 2026 | 16:01 WIB

Gerindra Semprot Hotman usai Bawa-bawa Nama Prabowo di Kasus Febrie

Gerindra Semprot Hotman usai Bawa-bawa Nama Prabowo di Kasus Febrie

News | Senin, 20 Juli 2026 | 15:51 WIB

Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK

Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK

News | Senin, 20 Juli 2026 | 15:24 WIB

UU Perampasan Aset Belum Disahkan, Penyitaan Kafe De Clan dan Rumah Sentul Dinilai Prematur

UU Perampasan Aset Belum Disahkan, Penyitaan Kafe De Clan dan Rumah Sentul Dinilai Prematur

News | Senin, 20 Juli 2026 | 15:13 WIB

Dewan Pers Sesalkan Ucapan Hotman Paris yang Dinilai Merendahkan Profesi Wartawan

Dewan Pers Sesalkan Ucapan Hotman Paris yang Dinilai Merendahkan Profesi Wartawan

News | Senin, 20 Juli 2026 | 14:30 WIB

Usai Nobar Final Pildun, Ruangan Bupati Lombok Barat Disegel KPK, Keberadaan Bupati Jadi Misteri

Usai Nobar Final Pildun, Ruangan Bupati Lombok Barat Disegel KPK, Keberadaan Bupati Jadi Misteri

News | Senin, 20 Juli 2026 | 13:58 WIB

Hotman Paris Kena 'Semprot' Istana dan Gerindra Usai Bawa-bawa Nama Prabowo di Kasus Jampidsus

Hotman Paris Kena 'Semprot' Istana dan Gerindra Usai Bawa-bawa Nama Prabowo di Kasus Jampidsus

News | Senin, 20 Juli 2026 | 13:38 WIB

Istana Minta Kasus Febrie Adriansyah Tak Dikaitkan dengan Presiden Prabowo

Istana Minta Kasus Febrie Adriansyah Tak Dikaitkan dengan Presiden Prabowo

News | Senin, 20 Juli 2026 | 13:30 WIB

Kejagung Belum Tahan Febrie, Alasan Kooperatif Dinilai Tak Menjawab Substansi

Kejagung Belum Tahan Febrie, Alasan Kooperatif Dinilai Tak Menjawab Substansi

News | Senin, 20 Juli 2026 | 13:21 WIB

Terkini

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:16 WIB

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:04 WIB

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:25 WIB

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:59 WIB

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:35 WIB

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:30 WIB

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:47 WIB

×