-
Perang Iran memicu lonjakan harga BBM global dan memperburuk gizi buruk anak di Nigeria.
-
Inflasi tinggi membuat keluarga miskin Afrika kesulitan membeli makanan bergizi untuk anak-anak mereka.
-
UNICEF memperingatkan puluhan juta anak berisiko jatuh miskin jika konflik geopolitik terus berlanjut.
Kenaikan harga pupuk juga mengancam musim tanam petani lokal yang sebelumnya sudah tertekan oleh gangguan keamanan.
Keluarga tidak mampu kini hanya mengandalkan olahan bubur jagung dan nasi tanpa nutrisi yang memadai.
"Perkembangan mereka akan terganggu. Mereka kecil kemungkinan untuk tetap bersekolah karena orang tua mereka berada di bawah tekanan finansial yang sangat besar. Jadi implikasi jangka panjang bagi anak-anak sangat mengerikan," kata Russell.
Daya beli masyarakat merosot tajam sehingga anggaran belanja harian tidak lagi mencukupi kebutuhan makan seluruh anggota keluarga.
Para ayah terpaksa merantau keluar negeri demi mencari lapangan kerja baru yang belum pasti.
"Saya bangun setiap pagi dengan tidak bahagia, melihat saya tidak lagi bisa menafkahi keluarga saya," kata Shehu, suami Maryam.
"Dulu, 2.000 naira bisa membelikan makanan bergizi untuk seluruh keluarga. Sekarang, Anda membutuhkan 5.000 naira untuk membeli apa yang dulu bisa dibeli dengan 2.000 naira."
Masyarakat Nigeria Utara berada dalam tekanan ganda akibat ancaman kelompok bersenjata serta krisis reformasi ekonomi domestik.
Pencabutan subsidi BBM dan devaluasi mata uang telah mendorong 139 juta warga Nigeria ke dalam garis kemiskinan.
"Perang di tempat yang jauh ini tidak memberikan kelegaan bagi warga rentan di utara," kata Ikemesit Effiong, mitra di SBM Intelligence, sebuah lembaga penasihat risiko geopolitik yang berbasis di Lagos.
Ibu rumah tangga seperti Larai Malami kini berjuang sendirian merawat sepuluh anaknya di tengah ketidakpastian ekonomi.
Kondisi bayi mereka terus memburuk seiring melambungnya harga bahan pangan pokok di pasar local.
"Saya khawatir anak itu mungkin tidak akan pernah benar-benar pulih," katanya.
Asa para ibu untuk melihat anak-anak mereka tumbuh sehat kini bergantung pada stabilitas harga dan kondisi geopolitik global.
"Saya berharap dia gembira dan penuh semangat hidup," katanya.