-
Perang Iran memicu lonjakan harga BBM global dan memperburuk gizi buruk anak di Nigeria.
-
Inflasi tinggi membuat keluarga miskin Afrika kesulitan membeli makanan bergizi untuk anak-anak mereka.
-
UNICEF memperingatkan puluhan juta anak berisiko jatuh miskin jika konflik geopolitik terus berlanjut.
Suara.com - Lonjakan harga bahan bakar minyak akibat perang di Iran menjadi pukulan mematikan bagi ketahanan pangan keluarga miskin di Nigeria.
Kondisi ekonomi yang memburuk memicu gelombang kambuhnya kasus gizi buruk kronis pada balita di wilayah utara.
Maryam Aminu pasrah saat anak bungsunya yang berusia 18 bulan kembali terdiagnosis mengalami malnutrisi pada April lalu.

Keluarga miskin di Kware, Sokoto ini kehilangan sumber pendapatan setelah sang suami terkena pemutusan hubungan kerja PHK sebagai sopir taksi.
"Saat dia terdiagnosis untuk kedua kalinya, meskipun saya sudah menduganya, saya merasa sedih dan marah karena saya tahu penyebabnya," kata Aminu di ruang tamu rumah dua kamar mereka yang belum dicat di kota tenang Kware, Sokoto, saat abu dari kompor batu bara mengepul ke dalam ruangan.
"Masa-masa sedang sulit, dan makanan tidak selalu ada."
Tenaga kesehatan setempat mencatat kenaikan signifikan jumlah anak yang kembali menderita gizi buruk pasca-penanganan medis.
Penutupan Selat Hormuz memicu hambatan pasokan minyak dunia yang berdampak langsung pada kenaikan harga kebutuhan pokok di Afrika.
Di Nigeria, harga eceran BBM melonjak drastis dari 800 naira menjadi 1.400 naira per liter hanya dalam kurun dua bulan.
Laporan UNICEF memperingatkan bahwa perang yang berkepanjangan berpotensi mendorong 23,4 juta anak tambahan ke dalam jurang kemiskinan ekstrem.
"Anak-anak menanggung akibat dari konflik yang meningkat di Timur Tengah, termasuk anak-anak yang berada jauh di luar wilayah tersebut," kata Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell.
"Semakin lama ini berlanjut, semakin buruk konsekuensinya."
Data rumah sakit di Sokoto menunjukkan puluhan pasien anak yang sebelumnya dinyatakan sembuh kini harus menjalani perawatan ulang.
Petugas medis mengkhawatirkan dampak jangka panjang gangguan tumbuh kembang dan tenggat pendidikan anak-anak tersebut.
"Saya khawatir dan terkadang marah melihat peningkatan jumlah yang kami lihat," kata petugas kesehatan Halimah Muhammad.
Kenaikan harga pupuk juga mengancam musim tanam petani lokal yang sebelumnya sudah tertekan oleh gangguan keamanan.
Keluarga tidak mampu kini hanya mengandalkan olahan bubur jagung dan nasi tanpa nutrisi yang memadai.
"Perkembangan mereka akan terganggu. Mereka kecil kemungkinan untuk tetap bersekolah karena orang tua mereka berada di bawah tekanan finansial yang sangat besar. Jadi implikasi jangka panjang bagi anak-anak sangat mengerikan," kata Russell.
Daya beli masyarakat merosot tajam sehingga anggaran belanja harian tidak lagi mencukupi kebutuhan makan seluruh anggota keluarga.
Para ayah terpaksa merantau keluar negeri demi mencari lapangan kerja baru yang belum pasti.
"Saya bangun setiap pagi dengan tidak bahagia, melihat saya tidak lagi bisa menafkahi keluarga saya," kata Shehu, suami Maryam.
"Dulu, 2.000 naira bisa membelikan makanan bergizi untuk seluruh keluarga. Sekarang, Anda membutuhkan 5.000 naira untuk membeli apa yang dulu bisa dibeli dengan 2.000 naira."
Masyarakat Nigeria Utara berada dalam tekanan ganda akibat ancaman kelompok bersenjata serta krisis reformasi ekonomi domestik.
Pencabutan subsidi BBM dan devaluasi mata uang telah mendorong 139 juta warga Nigeria ke dalam garis kemiskinan.
"Perang di tempat yang jauh ini tidak memberikan kelegaan bagi warga rentan di utara," kata Ikemesit Effiong, mitra di SBM Intelligence, sebuah lembaga penasihat risiko geopolitik yang berbasis di Lagos.
Ibu rumah tangga seperti Larai Malami kini berjuang sendirian merawat sepuluh anaknya di tengah ketidakpastian ekonomi.
Kondisi bayi mereka terus memburuk seiring melambungnya harga bahan pangan pokok di pasar local.
"Saya khawatir anak itu mungkin tidak akan pernah benar-benar pulih," katanya.
Asa para ibu untuk melihat anak-anak mereka tumbuh sehat kini bergantung pada stabilitas harga dan kondisi geopolitik global.
"Saya berharap dia gembira dan penuh semangat hidup," katanya.