-
Menteri Pertahanan AS mengajukan tambahan anggaran $87 miliar akibat pembengkakan biaya perang Iran.
-
Persidangan Senat berlangsung panas diwarnai penolakan anggaran dari kubu Demokrat dan demonstran.
-
Eskalasi konflik Iran terus memakan korban jiwa tentara AS serta mengancam kesiapan pertahanan.
Bos Pentagon tersebut beralih mengklaim bahwa persetujuan anggaran ini akan menjadi investasi jangka panjang yang krusial. Langkah tersebut dinilai vital agar AS tidak tertinggal dari kekuatan militer negara-negara pesaing utama.
Ganjalan pengesahan anggaran juga datang dari internal partai pengusung yang menuntut adanya pemotongan belanja pada sektor lain. Situasi makin rumit karena jadwal reses DPR AS membuat pembahasan anggaran dipastikan tertunda hingga beberapa bulan ke depan.
Di saat yang sama, deretan peti jenazah prajurit yang gugur dalam tugas mulai dipulangkan kembali ke tanah air. Pemerintah mengonfirmasi tambahan korban jiwa dari personel militer yang tewas dalam konfrontasi bersenjata di Irak dan Yordania.
Sejarah mencatat pertempuran yang dimulai sejak akhir Februari ini telah menelan belasan nyawa prajurit AS. Pemimpin negara dijadwalkan hadir langsung di pangkalan udara untuk menyambut kedatangan jasad para tentara tersebut.
Peningkatan eskalasi militer ini melengkapi catatan panjang keterlibatan angkatan bersenjata AS dalam konflik berdarah di kawasan Timur Tengah. Publik kini menanti apakah pengorbanan anggaran dan nyawa ini akan memuaskan ambisi geopolitik pemerintah.