-
Serangan udara Israel menewaskan enam anggota keluarga Al-Masri di Sabra, Gaza City.
-
Lebih dari 1.160 warga Gaza tewas sejak gencatan senjata Oktober disepakati kedua pihak.
-
Upaya diplomasi internasional belum membuahkan hasil nyata untuk menghentikan gempuran militer Israel.
Suara.com - Gencatan senjata dukungan Amerika Serikat gagal melindungi warga sipil dari gempuran militer Israel di Gaza City. Sebuah serangan udara menghancurkan kediaman warga pada Selasa dan menewaskan satu keluarga seketika.
Petugas medis mengonfirmasi bahwa Firas Al-Masri, istrinya Salsabeel, serta empat anak mereka tewas di pemukiman Sabra. Kebakaran hebat langsung membakar bangunan rumah tempat mereka berlindung saat serangan terjadi.
Militer Israel membenarkan operasi udara tersebut dengan klaim mengincar seorang militan Hamas di lokasi kejadian. Namun, pihak militer mengaku masih menginvestigasi hasil akhir dari serangan yang menewaskan warga sipil ini.

Rekaman video memperlihatkan tim penyelamat bersusah payah memadamkan kobaran api untuk mengevakuasi jenazah berbalut kain kafan putih. Ledakan mematikan itu menghantam ketika seluruh anggota keluarga sedang tertidur lelap tanpa adanya peringatan awal.
"Kami tidak mampu menyelamatkan cucu-cucu dan anak-anak kami dari kobaran api dan kehancuran. Sekitar lima atau enam orang gugur, sebagian besar anak-anak dan perempuan, tanpa rasa kemanusiaan dan tanpa peringatan terlebih dahulu," ujar kakek korban, Abu Yusuf Al-Masri.
"Tidak ada ketenangan yang relatif dan tidak ada tempat yang aman sama sekali," tegas pria berjanggut abu-abu tersebut.
Eskalasi ketegangan meningkat dalam beberapa hari terakhir melalui serangkaian serangan udara terpisah di berbagai titik. Pihak Israel mengklaim telah menewaskan empat militan dari kelompok Hamas dan Islamic Jihad sejak Jumat lalu.
Tiga dari militan yang ditargetkan dituduh terlibat langsung dalam serangan 7 Oktober 2023 ke wilayah Israel. Selain itu, mereka diduga ikut menyandera warga Israel dalam peristiwa pembuka konflik skala besar tersebut.
Pada Selasa sore, dua jet tempur Israel kembali menghantam sebuah kendaraan dan gedung asosiasi di Gaza. Enam orang tewas seketika dalam dua lokasi terpisah tersebut, menambah daftar panjang korban harian menjadi 12 orang.
Militer Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait dua insiden pemboman kendaraan dan fasilitas warga di sore hari itu. Rentetan aksi militer ini memperpanjang daftar panjang korban jiwa di kawasan kantong Palestina tersebut.
Otoritas kesehatan Gaza mencatat lebih dari 1.160 warga Palestina tewas sejak kesepakatan gencatan senjata Oktober lalu berlaku. Mayoritas korban jiwa dalam rentetan serangan balasan tersebut merupakan warga sipil yang tidak bersenjata.
Pihak Hamas sendiri sangat jarang merilis jumlah pasti kerugian personil atau pejuang mereka ke publik. Sementara itu, empat tentara Israel dilaporkan tewas oleh pejuang Palestina dalam rentang waktu yang sama.
Meski gencatan senjata membatasi pertempuran skala penuh, jet tempur Israel terus meluncurkan serangan udara harian. Pemerintah Israel bergeming dan mengklaim seluruh operasi militer tersebut murni menargetkan kelompok militan.
Sejumlah mediator internasional dari Mesir, Qatar, Turki, dan Amerika Serikat terus mengupayakan formula perdamaian permanen. Rencana yang didorong Presiden AS Donald Trump menuntut pembubaran senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel.
Namun, perundingan diplomasi tersebut belum menunjukkan kemajuan berarti di lapangan hingga saat ini. Perang meluas sejak militer Israel merespons serangan pejuang Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu.
Lebih dari 73.000 warga Palestina tewas sejak invasi darat dan udara Israel dimulai secara masif. Kini, hampir dua juta warga Gaza bertahan hidup di tenda darurat dan bangunan rusak di garis pantai.