-
Iran mengancam akan membalas setimpal setiap serangan terhadap fasilitas infrastruktur vital mereka.
-
Donald Trump berjanji menghancurkan pembangkit listrik Iran jika kapal komersial di Hormuz diserang.
-
Teheran memastikan jalur perdagangan minyak Selat Hormuz akan lumpuh total akibat konflik ini.
Suara.com - Iran menegaskan kesiapan penuh melancarkan pembalasan skala besar jika Amerika Serikat berani menyasar fasilitas vital milik mereka. Isyarat perang terbuka ini berpotensi menghentikan total pasokan energi dunia melalui Selat Hormuz.
Langkah balasan tersebut tidak hanya membidik Amerika Serikat, melainkan seluruh negara sekutu yang memberikan bantuan militer maupun logistik. Eskalasi konflik kawasan kini merembet menuju titik nadir terburuknya.
Ketegangan ekstrem ini dipicu oleh manuver keras Washington yang mengancam akan merusak instalasi listrik hingga jembatan utama Teheran. Ancaman tersebut seketika mengunci kawasan Timur Tengah dalam posisi siap tempur.
![Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas setelah kapal perusak Angkatan Laut AS, USS Spruance (DDG-111), mencegat kapal kargo Iran yang mencoba menembus blokade laut. [NY Post]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/20/73573-kapal-perang-as-tembak-tanker-iran.jpg)
"Doktrin pertahanan kami jelas, mata ganti mata. Setiap agresi terhadap Iran, termasuk terhadap infrastruktur kami, akan memaksa kami untuk memberikan respons yang kuat dan tegas," kata Araghchi.
Peringatan keras tersebut dikirimkan langsung melalui unggahan resmi sang diplomat di media sosial X. Ia memastikan siap memburu siapa saja yang terlibat.
Dia menambahkan siapa pun yang ikut andil dalam agresi semacam itu dan dalam bentuk dukungan apa pun juga akan dianggap sebagai sasaran sah Iran untuk dibalas.
Pernyataan menohok Teheran meletup tepat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumandangkan gertakan militer. Trump berjanji meluluhlantakkan infrastruktur kunci Iran jika pelayaran komersial di Selat Hormuz diganggu.
Gedung Putih menyoroti potensi gempuran rudal hingga pesawat nirawak yang menyasar kapal kargo di perairan internasional. Pembangkit listrik serta akses jembatan Iran langsung ditempatkan dalam sasaran bidik militer AS.
Menanggapi hal tersebut, otoritas tertinggi legislatif Iran memastikan tidak ada satu pun negara Teluk yang bisa mengekspor minyak jika Teheran diisolasi. Selat Hormuz dipastikan berstatus tertutup rapat bagi aktivitas ekonomi internasional.
Pihak Teheran menilai stabilitas keamanan Selat Hormuz hanya bisa terwujud jika armada militer AS angkat kaki sepenuhnya. Kehadiran pasukan asing dianggap sebagai biang kerok utama kekacauan kawasan.
Perang kata-kata antar-pemimpin kedua negara ini mempertegas situasi kritis yang sedang menyelimuti navigasi global pasca-konflik bersenjata AS-Iran. Sengketa jalur vital perdagangan energi ini kini berpotensi memicu krisis ekonomi dunia secara mendadak.
Saling lempar ancaman antara Teheran dan Washington merupakan puncak ketegangan panjang pasca-bentrokan militer langsung yang melibatkan kedua negara. Selat Hormuz, sebagai urat nadi distribusi sepertiga minyak mentah dunia lewat laut, terus menjadi titik panas perebutan pengaruh dan keamanan kawasan.
Konfrontasi ini diperparah oleh kegagalan kesepakatan navigasi internasional serta pengerahan kekuatan tempur AS yang terus membayangi wilayah pesisir Iran.