Evaluasi MBG Dipertanyakan, Minimnya Pelacakan Penyebab Keracunan Jadi Sorotan

Bangun Santoso, Hiskia Andika Weadcaksana

Kamis, 23 Juli 2026 | 13:53 WIB
Evaluasi MBG Dipertanyakan, Minimnya Pelacakan Penyebab Keracunan Jadi Sorotan
Foto sebagai ILUSTRASI: Relawan mengevakuasi siswa yang diduga keracunan hidangan makan bergizi gratis (MBG) untuk menjalani perawatan medis di Poned Cibodas, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (29/10/2025). [ANTARA FOTO/Abdan Syakura/nz]
baca 10 detik
  • Guru Besar UGM Sri Raharjo menyatakan kasus keracunan makanan Program Makan Bergizi Gratis masih terjadi di berbagai daerah.
  • Hasil investigasi laboratorium sering tidak disampaikan kepada SPPG sehingga evaluasi pemerintah berjalan tanpa data yang kuat.
  • Ketiadaan pencatatan rinci rantai produksi makanan membuat identifikasi sumber masalah keracunan menjadi tidak akurat.

Suara.com - Kasus dugaan keracunan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih terjadi di beberapa daerah. Hal ini memperkuat kekhawatiran bahwa sistem pengamanan pangan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) belum berjalan efektif.

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Sri Raharjo menyatakan bahwa berulangnya insiden dengan melibatkan penyedia yang berbeda, menunjukkan evaluasi yang dilakukan pemerintah belum menyentuh akar persoalan.

Menurut Sri, persoalan terbesar bukan hanya munculnya kasus keracunan. Melainkan ketidakjelasan tindak lanjut dari hasil investigasi kasus-kasus sebelumnya.

Sampel makanan memang sering diuji di laboratorium, namun hasil akhirnya kerap tidak diketahui publik maupun pelaksana di lapangan. Akibatnya, peluang untuk memperbaiki kesalahan dan mencegah kejadian serupa menjadi hilang.

"Hasilnya kan perlu dikomunikasikan kembali, apakah betul terkonfirmasi atau tidak. Bagian ini ya karena saya tidak dapat informasi apakah itu ikutan disampaikan atau tidak, saya mengasumsikannya ya informasi hasil uji laboratorium itu mungkin tidak sepenuhnya disampaikan kembali kepada pihak SPPG untuk dilakukan tindakan koreksi," kata Sri saat dihubungi, Kamis (23/7/2026).

Pola tersebut membuat evaluasi berjalan tanpa fondasi data yang kuat. Pemerintah maupun penyelenggara hanya bergerak dalam ruang dugaan ketika penyebab keracunan tidak pernah dipetakan secara terbuka dan sistematis.

Hasilnya, kasus yang sama berpotensi terus berulang di tempat berbeda.

"Nah, kalau kondisinya tadi itu nunggu hasil pemeriksaan laboratorium sering malah tidak muncul atau hilang ceritanya, maka ini menunjukkan bahwa upaya untuk mencegahnya, upaya pencegahannya itu, ya, keberhasilannya bisa dibilang relatif rendah," tandasnya.

Sri mengatakan kemampuan SPPG untuk mencegah keracunan makanan saat ini patut dipertanyakan. Sebab jika insiden terus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, itu menunjukkan sistem pengendalian keamanan pangan belum bekerja secara konsisten.

baca juga

"Ya, kadang mungkin terjadi di SPPG-nya A, kemudian lain waktu di C, lain waktu lagi di Y, dan seterusnya. Ini kan hanya gantian saja, kalau seperti itu menunjukkan upaya untuk menjaga, mencegah gangguan keamanan pangannya itu belum berjalan dengan baik, kan," ujarnya.

Setiap SPPG, lanjut Sri, semestinya memiliki sistem penjaminan keamanan pangan yang terdokumentasi secara rinci. Mulai dari kondisi bahan baku saat diterima, suhu penyimpanan, proses pemasakan, hingga distribusi makanan harus dicatat dan dapat ditelusuri kembali apabila terjadi insiden.

Catatan tersebut menjadi instrumen utama untuk menemukan titik kegagalan dalam rantai produksi makanan. Namun, ia melihat praktik tersebut belum menjadi budaya kerja yang kuat di lapangan.

Banyak proses berjalan tanpa dokumentasi yang memadai sehingga ketika terjadi keracunan. Hal ini membuat evaluasi tidak memiliki bukti yang cukup untuk mengidentifikasi sumber masalah secara akurat.

"Ya, itu yang membuat yang namanya kayaknya sih sudah dievaluasi, tapi kan kualitas evaluasinya menjadi sangat tumpul kan, karena tidak disertai dengan data-data yang benar," tegasnya.

Menurutnya, pencatatan sederhana seperti suhu freezer, suhu pemasakan ayam, durasi pengolahan, hingga waktu distribusi makanan bisa menjadi alat penting untuk menelusuri penyebab keracunan. Tanpa data tersebut, investigasi hanya akan berakhir pada kesimpulan umum tanpa menghasilkan perbaikan yang nyata.

Sri juga mengingatkan bahwa keamanan pangan harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan MBG. Ia menilai keberhasilan program tidak bisa hanya diukur dari jumlah penerima manfaat atau kandungan gizi makanan yang disalurkan, tetapi juga dari kemampuan negara menjamin makanan tersebut aman dikonsumsi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Indonesia Beli Susu Belarus Rp 1,3 Triliun untuk MBG, 20 Ribu Ton Susu Bubuk akan Dikirim

Indonesia Beli Susu Belarus Rp 1,3 Triliun untuk MBG, 20 Ribu Ton Susu Bubuk akan Dikirim

News | Kamis, 23 Juli 2026 | 11:08 WIB

UU Tipikor Dianggap Masih Abaikan Pemenuhan HAM, Kasus Eks Jampidsus hingga MBG Jadi Sorotan

UU Tipikor Dianggap Masih Abaikan Pemenuhan HAM, Kasus Eks Jampidsus hingga MBG Jadi Sorotan

News | Kamis, 23 Juli 2026 | 09:28 WIB

Sudaryono dari Partai Apa? Ditunjuk Jadi Kepala BGN yang Baru

Sudaryono dari Partai Apa? Ditunjuk Jadi Kepala BGN yang Baru

News | Kamis, 23 Juli 2026 | 07:12 WIB

Serahkan Dugaan Korupsi MBG ke Penegak Hukum, Kepala BGN Baru Pilih Fokus Kerja

Serahkan Dugaan Korupsi MBG ke Penegak Hukum, Kepala BGN Baru Pilih Fokus Kerja

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 21:07 WIB

Sudaryono Warning Sahabat hingga Alumni, Jangan Harap Dapat 'Jatah' di Program MBG

Sudaryono Warning Sahabat hingga Alumni, Jangan Harap Dapat 'Jatah' di Program MBG

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 19:11 WIB

Purbaya Akan Temui Kepala BGN Bahas Efisiensi Anggaran MBG 2027

Purbaya Akan Temui Kepala BGN Bahas Efisiensi Anggaran MBG 2027

Bisnis | Rabu, 22 Juli 2026 | 17:40 WIB

Prabowo Ngaku Diserang karena MBG: Salah Kaprah Pemimpin Memahami Kritik

Prabowo Ngaku Diserang karena MBG: Salah Kaprah Pemimpin Memahami Kritik

Your Say | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:20 WIB

Terkini

Evaluasi MBG Dipertanyakan, Minimnya Pelacakan Penyebab Keracunan Jadi Sorotan

Evaluasi MBG Dipertanyakan, Minimnya Pelacakan Penyebab Keracunan Jadi Sorotan

News | Kamis, 23 Juli 2026 | 13:53 WIB

Review Serum Glow FX Glow Bomb, Harga Rp30 Ribuan Ampuh Libas Bekas Jerawat Tanpa Perih

Review Serum Glow FX Glow Bomb, Harga Rp30 Ribuan Ampuh Libas Bekas Jerawat Tanpa Perih

Lifestyle | Kamis, 23 Juli 2026 | 13:51 WIB

Lupakan Lari Ngos-ngosan, Ini Alasan Slow Jogging Lebih Efektif Bakar Lemak

Lupakan Lari Ngos-ngosan, Ini Alasan Slow Jogging Lebih Efektif Bakar Lemak

Your Say | Kamis, 23 Juli 2026 | 13:48 WIB

Teka-teki Kematian Dokter Magang di Metro: IDI Lampung Ungkap Fakta Mengejutkan

Teka-teki Kematian Dokter Magang di Metro: IDI Lampung Ungkap Fakta Mengejutkan

Lampung | Kamis, 23 Juli 2026 | 13:46 WIB

Analisis Eks Utusan AS Nilai Perdamaian AS - Iran Makin Sulit karena Ini, Singgung Peran China

Analisis Eks Utusan AS Nilai Perdamaian AS - Iran Makin Sulit karena Ini, Singgung Peran China

News | Kamis, 23 Juli 2026 | 13:46 WIB

Direktur Politeknik Negeri Medan Tinjau Langsung Pelaksanaan Ujian Masuk

Direktur Politeknik Negeri Medan Tinjau Langsung Pelaksanaan Ujian Masuk

Sumut | Kamis, 23 Juli 2026 | 13:43 WIB

Mau Jadi Justice Collaborator, Tersangka Suap BPK Angga Wajib Seret Nama Lain ke KPK

Mau Jadi Justice Collaborator, Tersangka Suap BPK Angga Wajib Seret Nama Lain ke KPK

News | Kamis, 23 Juli 2026 | 13:41 WIB

Saham-saham Bakrie Jadi Buruan Asing di Sesi I

Saham-saham Bakrie Jadi Buruan Asing di Sesi I

Bisnis | Kamis, 23 Juli 2026 | 13:41 WIB

9 Kali Beraksi dengan Sepeda Onthel: Pengakuan Mengejutkan Begal Payudara di Surabaya

9 Kali Beraksi dengan Sepeda Onthel: Pengakuan Mengejutkan Begal Payudara di Surabaya

Jatim | Kamis, 23 Juli 2026 | 13:39 WIB

Kursi Wamentan Kosong, Prasetyo Ungkap Pemerintah Belum Bahas Pengganti Sudaryono

Kursi Wamentan Kosong, Prasetyo Ungkap Pemerintah Belum Bahas Pengganti Sudaryono

News | Kamis, 23 Juli 2026 | 13:37 WIB

×