-
Perang AS-Iran dan aksi Houthi mengancam dua jalur pelayaran utama dunia.
-
Gangguan distribusi minyak bumi mendorong harga minyak Brent menembus 90 dolar.
-
Pakistan berusaha menjadi mediator diplomatik guna mencegah perang kawasan meluas.
Suara.com - Ancaman krisis energi global kian nyata saat perang Amerika Serikat vs Iran melumpuhkan dua jalur maritim paling vital di dunia secara bersamaan. Blokade baru di Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz kini mengunci lalu lintas kapal tanker hingga meroketkan harga minyak mentah.
Aksi sepihak yang mencekik arus logistik minyak bumi ini memaksa pasar internasional berhadapan langsung dengan lonjakan biaya distribusi. Pasokan komoditas energi dunia pun terancam terputus total jika eskalasi militer di wilayah pesisir tak segera diredam.
Kondisi genting ini tak hanya mengguncang kawasan Timur Tengah, melainkan turut mengancam stabilitas ekonomi dan jalur perdagangan bebas di Indo-Pasifik. Imbasnya, peta konflik geopolitik kini bergeser dari adu serangan udara menjadi perang ekonomi maritim secara terbuka.

Langkah agresif Teheran yang menuntut pungutan liar dan mengarahkan kapal komersial ke wilayah perairan mereka memicu kemarahan diplomatik Washington. Amerika Serikat menilai aksi pemaksaan tarif navigasi di perairan internasional tersebut sebagai tindakan ilegal yang membahayakan.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio melontarkan peringatan keras terhadap manuver Iran yang berpotensi merusak tatanan navigasi global.
“Jika kita menciptakan preseden bahwa sebuah negara dapat memutuskan untuk mengendalikan jalur pelayaran internasional, memungut biaya, dan menghancurkan kapal yang menolak membayar, maka itu akan menjadi preseden yang sangat berbahaya,” kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dikutip dari DW Jerman, Jumat (24/7/2026).
Kondisi semakin memanas ketika milisi Houthi Yaman mengumumkan penutupan jalur laut bagi seluruh armada yang terhubung dengan Arab Saudi. Ancaman serangan terhadap kapal pengangkut minyak di Selat Bab el-Mandeb membuat rantai pasok energi dunia tercekik dari dua titik sekaligus.
Reaksi keras datang langsung dari Gedung Putih guna merespons gertakan kelompok yang disokong penuh oleh Iran tersebut. Presiden AS Donald Trump menegaskan kesiapan militernya untuk mengamankan kawasan Laut Merah dari gangguan milisi.
“Sejauh ini itu belum terjadi. Jika hal seperti itu terjadi, kami akan menanganinya,” kata Trump.
Kepanikan pasar global tak terhindarkan hingga mendorong harga minyak jenis Brent melonjak melewati angka US$90 atau setara Rp1,61 juta per barel. Gejolak harga ini menjadi perhatian utama dalam forum diplomatik Menteri Luar Negeri ASEAN di Manila.
Rubio kembali menekankan bahaya besar jika praktik pemerasan rute pelayaran ini dibiarkan tanpa perlawanan tegas.
“Jika kita menciptakan preseden bahwa sebuah negara dapat memutuskan untuk mengendalikan jalur pelayaran internasional, memungut biaya, dan menghancurkan kapal yang menolak membayar, maka itu akan menjadi preseden yang sangat berbahaya dan bisa terulang di kawasan lain, termasuk kawasan ini,” kata Rubio.
Kekhawatiran akan penularan krisis ke wilayah Indo-Pasifik memicu kesepakatan empat negara Quad yaitu AS, Australia, India, dan Jepang. Mereka sepakat memperketat penjagaan demi menjamin kebebasan navigasi kapal komersial di seluruh perairan strategis.
Di tengah dentuman meriam, Pakistan bergerak cepat mengambil posisi sebagai juru damai antara Washington dan Teheran. Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni menggelar pertemuan intensif dengan jenderal dan petinggi pemerintah di Islamabad.
Upaya rahasia ini dilakukan untuk mencegah konfrontasi militer berdarah meluas menjadi perang terbuka kawasan.
“Pakistan kembali mulai memainkan peran sebagai mediator untuk menghentikan perang agar tidak meluas,” ujar seorang diplomat.
Selain membujuk Iran membuka kembali Selat Hormuz, Pakistan menyerukan permohonan bantuan dana stabilisasi devisa US$10 miliar kepada Departemen Keuangan AS. Bantuan sebesar Rp179,3 triliun ini dibutuhkan demi memperkuat mata uang rupee di tengah tekanan reformasi ekonomi IMF.
Sejumlah negara tetangga seperti Yordania, Bahrain, dan Kuwait kini menguatkan persenjataan mereka karena khawatir terseret arus konflik. Di sisi lain, pembengkakan biaya operasi militer AS telah menembus angka fantastis mencapai US$37,5 miliar atau sekitar Rp672 triliun.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sampai mengajukan pendorong dana cadangan baru kepada Kongres demi melanggengkan aksi militer. Kendati demikian, AS menawarkan insentif ekonomi bagi Lebanon dengan rencana pembukaan penerbangan langsung yang sempat terhenti sejak 1985.
Eskalasi perang AS-Iran sejatinya bermula dari perseteruan sanksi ekonomi dan ketegangan nuklir yang merembet ke konflik regional. Situasi memuncak ketika serangan balasan meluas ke jalur navigasi vital seperti Selat Hormuz dan Laut Merah.
Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb merupakan urat nadi utama perdagangan dunia yang mengalirkan porsi terbesar minyak mentah global. Gangguan permanen pada kedua selat ini berpotensi memicu krisis ekonomi dunia yang sulit dipulihkan dalam waktu singkat.