- Presiden Prabowo Subianto menyinggung pihak bermental Londo Ireng dalam pemberitaan media saat Harlah PKB, Kamis (23/7/2026).
- Istilah Londo Ireng merujuk pada tentara asal Afrika Barat yang direkrut kolonial Belanda dalam KNIL abad ke-19.
- Ribuan serdadu Afrika Barat ditempatkan di Jawa dan keturunannya membentuk identitas unik yang dikenal sebagai Belanda Hitam.
Suara.com - Presiden Prabowo Subianto menyinggung adanya pihak yang ia sebut bermental Londo Ireng”dalam lingkungan media dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri Puncak Harlah ke-28 PKB di JCC Senayan, Kamis (23/7/2026).
Prabowo mengaku heran dengan sejumlah pemberitaan yang dinilainya tidak proporsional.
Ia mencontohkan, upaya pemerintah memperbaiki puluhan ribu sekolah justru diimbangi dengan sorotan pada sekolah yang belum tersentuh perbaikan.
“Walaupun kita sudah perbaiki 67.000 sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki, dia foto besar taruh di halaman pertama,” ujar Prabowo.

Ia menegaskan memahami maksud di balik pemberitaan tersebut, namun memilih tidak menyebutkan media yang dimaksud. Prabowo memberi sinyal bahwa ia mengetahui pihak-pihak yang dimaksud, meski belum mengungkapkannya secara terbuka.
“Aduh dia kira kita nggak ngerti. Saya nggak sebutlah media mana itu. Pada saatnya akan saya sebut,” katanya.
Lantas benarkah istilah Londo Ireng yang disampaikan oleh Prabowo Subianto ialah orang Indonesia yang berkhianat dan di masa lalu bekerja untuk kolonial Belanda?
Sejarah Londo Ireng
Tidak sedikit orang yang menduga istilah Londo Ireng adalah orang-orang Ambon yang bekerja sebagai tentara Belanda.
Memang ada kerancuan dalam hal ini, karena banyak juga orang Ambon menjadi tentara KNIL.
Demikian penjelasan Ineke van Kessel, penulis buku "Serdadu Afrika di Hindia Belanda, 1831-1945".
Di Belanda sendiri penyebutan Londo Ireng dikenal dengan istilah Zwarte Hollanders atau Belanda Hitam.
Kontroversi mengenai Londo Ireng juga sempat jadi sorotan di Belanda pada periode 2018 lalu.
Dalam diskusi publik yang digelar di Cultureel Centrum Rozet, Arnhem, Belanda pada 29 Maret 2018, sejarah Londo Ireng dikupas.
Di diskusi dengan tema “Verhalen uit diverse culturen die verbinden” itu, Londo Ireng merupakan ria-pria Afrika Barat yang direkrut untuk bergabung dalam Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) pada abad ke-19.
Mereka didatangkan dari wilayah yang kini dikenal sebagai Ghana dan Burkina Faso, lalu ditempatkan di berbagai garnisun di Jawa seperti Batavia, Semarang, dan Solo.
Sejarah mencatat, sekitar 3.000 pria muda dari Afrika Barat didatangkan ke Nusantara antara 1831 hingga 1872.
Mereka direkrut dari wilayah Elmina, yang kini masuk Ghana, untuk memperkuat Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) setelah Belanda kekurangan pasukan akibat berbagai perang.
Sebagian dari mereka direkrut secara sukarela, namun tidak sedikit yang berasal dari sistem yang menyerupai perbudakan.
Mereka bahkan harus menebus kebebasan dengan gaji militer yang diterima setelah bergabung sebagai tentara.
Dalam konteks lokal, masyarakat Jawa menyebut mereka sebagai Londo Ireng.
Dari hubungan mereka dengan perempuan pribumi, lahirlah keturunan yang dikenal sebagai Zwarte Hollanders atau Belanda Hitam, sebuah identitas unik dalam sejarah kolonial.
Komunitas ini bertahan hingga awal abad ke-20, dengan tradisi militer yang diwariskan antar generasi.
Namun, setelah kemerdekaan Indonesia, sebagian besar keturunannya berpindah ke Belanda dan membentuk diaspora yang masih terhubung hingga kini.
Sejarawan dan penulis turut mengangkat kisah ini dalam berbagai karya.
Novel De zwarte met het witte hart (1997) karya Arthur Japin serta buku Zwarte huid, Oranje hart (2014) oleh Griselda Molemans menjadi referensi penting dalam mengenalkan sejarah kelompok ini kepada publik luas.
Tak hanya melalui literatur, kisah Belanda Hitam juga dihadirkan lewat instalasi seni dan arsip keluarga pada diskusi publik tersebut.
Salah satunya adalah Het familie Toelanie Archief, yang menampilkan perjalanan keluarga keturunan Belanda Hitam dari masa kolonial hingga era modern.
Ritie Toelanie, yang menelusuri sejarah keluarganya, menyusun kisah tersebut dalam buku Familieverhaal van drie culturen 1850–2016.
“Ini adalah bagian dari identitas kami yang selama ini kurang mendapat perhatian,” ujarnya.