- Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menanggapi ucapan Londo Ireng Presiden Prabowo Subianto pada Minggu, 26 Juli 2026.
- PDIP berpegang pada komitmen Presiden Prabowo bahwa demokrasi memerlukan pengawasan serta kritik yang penting.
- Hasto memperingatkan bahwa pembungkaman suara kritis berpotensi menimbulkan letupan sosial yang tidak diinginkan di masyarakat.
Suara.com - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menanggapi ucapan "Londo Ireng" Presiden Prabowo Subianto yang ditujukan kepada pengamat, LSM, hingga jurnalis.
Merespons pernyataan Kepala Negara, Hasto mengatakan PDIP berpegang pada komitmen Prabowo bahwa kritik merupakan bagian penting dalam demokrasi.
"Ya sebenarnya kami berpegang pada pernyataan Presiden Prabowo ketika di hadapan sidang gabungan di DPR, yang juga dihadiri representasi dari DPD RI, di mana Presiden Prabowo menyampaikan bahwa demokrasi memerlukan check and balances. Demokrasi memerlukan kritik," kata Hasto usai peringatan "30 Tahun Kudatuli" di Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta, Minggu (26/7/2026).

"Itulah yang menjadi pegangan PDI Perjuangan dalam forum resmi yang disampaikan oleh Presiden," sambung Hasto.
Menurut Hasto, saat ini rakyat menuntut agar apa yang disampaikan Prabowo dapat dibuktikan melalui tindakan-tindakan yang konkret.
Berkaca dari pengalaman Kudatuli, Hasto mengingatkan dampak pembungkaman terhadap kritik. Ia mengatakan apabila suara-suara kritis dibungkam, hal itu berpotensi menimbulkan letupan-letupan yang tidak diinginkan.
"Di Nepal sudah terjadi, di beberapa wilayah Bangladesh. Sehingga jangan sampai suara-suara kritis yang mereka sampaikan dengan rasa patriotik dan cinta terhadap tanah air justru tidak diberikan ruang," kata Hasto.