-
Dua ABK Indonesia korban serangan misil kapal MT Belma berhasil dipulangkan ke tanah air.
-
Kementerian Perhubungan memfasilitasi proses repatriasi dan memastikan hak-hak pelaut terpenuhi secara utuh.
-
Kapal MT Belma sempat terombang-ambing akibat kerusakan mesin sebelum seluruh awak dievakuasi ke Iran.
Suara.com - Dua pelaut Indonesia akhirnya selamat dan menginjakkan kaki di tanah air usai kapal tanker yang mereka awaki dihantam serangan misil di perairan Selat Hormuz.
Kementerian Perhubungan bersama pihak keagenan turun tangan secara langsung untuk memastikan seluruh hak dan keselamatan kerja para pelaut tersebut terpenuhi.
Langkah cepat ini membuktikan komitmen nyata pemerintah dalam melindungi para pekerja migran sektor maritim yang terjebak di area konflik global.

Dua awak kapal tersebut mendarat dengan selamat di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pada Rabu (22/7) pukul 18.30 WIB.
Petugas Direktorat Perkapalan dan Kepelautan menyambut langsung kedatangan mereka bersama Nur Suwanto selaku Direktur PT Utama Bahari Indonesia.
Pemerintah menegaskan keberadaannya di tengah situasi genting guna memberikan kepastian perlindungan bagi warga negara yang bertugas di perairan internasional.
“Pemerintah terus berkomitmen memberikan perlindungan kepada pelaut Indonesia, termasuk dalam kondisi darurat akibat konflik atau gangguan keamanan di wilayah pelayaran internasional,” kata Samsuddin dalam keterangan terkonfirmasi di Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Samsuddin melayangkan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak yang sigap berkoordinasi dalam merespons insiden berbahaya ini hingga evakuasi berhasil.
Proses repatriasi ini berjalan lancar berkat kolaborasi erat antara Kementerian Perhubungan dan Direktorat PWNI Kementerian Luar Negeri.
"Untuk itu, kami menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang turut berkontribusi dalam proses pemulangan ini,” ujarnya.
Pelayaran kapal tanker MT Belma menuju Kharg Island Anchorage pada 15 Juli 2026 mendadak berubah menjadi petaka usai dua roket menghantam bagian funnel.
Dentuman tajam itu melumpuhkan mesin utama hingga membuat posisi kapal melayang tak terkendali mendekati daratan.
Melihat kondisi kapal yang kian kritis, nakhoda mengambil keputusan darurat untuk melepas jangkar pada 16 Juli.
Situasi mencekam kembali berulang pada 17 Juli saat serangan rudal susulan menghantam lokasi yang sama.
Nakhoda dengan cepat memobilisasi seluruh awak untuk berkumpul di area haluan demi mengantisipasi bahaya yang lebih besar.
Penyelamatan darurat akhirnya terealisasi sekitar pukul 18.00 waktu setempat melalui bantuan kapal penolong yang merapat ke lokasi.
Seluruh personel kapal langsung dievakuasi menuju Pulau Kharg, Iran, untuk memperoleh pertolongan medis dan pengamanan sementara.
Jalur pelayaran Selat Hormuz memang dikenal sebagai wilayah rawan konflik geo-politik yang sering mengancam keselamatan kapal niaga internasional.