-
Universitas Islam Gaza mendirikan lima cabang darurat untuk melanjutkan kegiatan perkuliahan mahasiswa.
-
Mahasiswa kedokteran menjalani pelatihan praktikum langsung di ruang perawatan darurat rumah sakit.
-
Blokade impor peralatan medis memicu tantangan besar dalam merekonstruksi fasilitas laboratorium kampus.
Suara.com - Civitas akademika Universitas Islam Gaza mengoperasikan 5 kampus darurat untuk menyelamatkan masa depan pendidikan para mahasiswa. Langkah terobosan ini memutus hambatan geografis dan ancaman keselamatan di wilayah gempuran serangan Israel.
Kerusakan masif pada gedung utama tidak menghentikan proses pementoran calon tenaga medis dan insinyur. Pengelola kampus menggabungkan simulasi digital dengan praktik lapangan langsung di fasilitas kesehatan setempat.
Langkah adaptasi ini memunculkan tradisi baru pembelajaran ikhtiar medis di tengah krisis kemanusiaan. Mahasiswa kedokteran kini belajar langsung di samping tempat tidur pasien rumah sakit yang sesak.

Infrastruktur akademik hancur lebur akibat agresi militer yang meratakan fasilitas riset utama sejak Oktober 2023. Bombardir udara merusak 19 gedung pendidikan, 500 ruang kelas, dan 200 laboratorium sains.
Perpustakaan pusat kehilangan 240 ribu koleksi buku serta referensi ilmiah berharga akibat pengeboman. Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, Abdulraouf Ali al-Manama, menyebut periode ini sebagai salah satu bencana terbesar dalam sejarah universitas.
Al-Manama menegaskan serangan militer menyisakan puing-puing universitas yang hancur total. Kampus juga kehilangan ribuan peralatan medis penting yang terkumpul selama 5 dekade.
Gedung yang tersisa terpaksa beralih fungsi menjadi tempat pengungsian warga sipil Gaza. Pemadaman listrik berkepanjangan serta gangguan jaringan internet memperparah tantangan proses belajar mengajar.
Kerusakan laboratorium memaksa materi praktikum dialihkan ke format rekaman eksperimen virtual. Mahasiswa kedokteran seperti Deema Muhaisen kehilangan ruang belajar permanen sejak Desember 2023.
Muhaisen membagikan pengalamannya belajar di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan.
"Dalam banyak kasus, kami menerima kuliah di sudut-sudut rumah sakit dan di antara ruang pasien, berkumpul di sekitar dokter, di tempat-tempat yang tidak menyediakan persyaratan minimum untuk lingkungan pendidikan," ungkapnya, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (28/7/2026).
Ia merindukan atmosfer praktikum klinis yang ideal di bawah bimbingan langsung dosen akademis.
"Hal yang paling saya rindukan adalah interaksi klinis secara teratur dengan pasien di bawah pengawasan akademis, karena pengalaman ini merupakan fondasi untuk membangun keterampilan dan rasa percaya diri seorang mahasiswa kedokteran," tutur Muhaisen.
Para dokter ahli terfokus penuh menangani korban luka akibat gempuran yang terus berlanjut. Kondisi ini mendorong Muhaisen menjadi relawan di unit perawatan darurat dan bedah.
Inisiatif mandiri tersebut membantunya mengasah keterampilan medis secara nyata di lapangan.
"Saya mulai membantu di ruang operasi, memantau banyak pasien setelah operasi, dan merespons kebutuhan serta kekhawatiran mereka. Ini memberi saya pengalaman praktis yang mendalam dan memperkuat rasa tanggung jawab saya," paparnya.