-
Demonstran mengibarkan bendera Palestina di luar Gedung Putih menolak kunjungan Perdana Menteri Netanyahu.
-
Unjuk rasa mengecam bantuan militer Amerika Serikat untuk Israel di tengah kehancuran Jalur Gaza.
-
Invasi Tel Aviv sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina.
Suara.com - Gelombang protes membendung kedatangan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Washington menjelang agenda agungnya bersama Presiden AS Donald Trump.
Ratusan demonstran membentangkan bendera Palestina tepat di depan Gedung Putih untuk mengecam keterlibatan Washington dalam agresi militer di Gaza.
Aksi ini menegaskan eskalasi tekanan publik domestik Amerika Serikat yang menolak aliran bantuan persenjataan ke Tel Aviv secara terbuka.
![Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan, Duduk di Kursi Terdakwa [Channel 14]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/09/21575-benjamin-netanyahu.jpg)
Dikutip dari Anadolu, penolakan tajam masyarakat sipil tersebut membayangi diplomasi tatap muka kedelapan antara kedua pemimpin negara.
Para pengunjuk rasa membawa pesan-pesan eksplisit yang menargetkan kebijakan luar negeri pemerintah federal.
Poster bertuliskan "Hentikan mesin perang AS / Israel" membentang di tengah kerumunan massa.
Pesan penolakan lain turut disuarakan melalui spanduk bertuliskan "Bongkar kendali Israel atas Washington" yang dibawa peserta aksi.
Tulisan "Hak asasi manusia Palestina juga penting" menjadi sorotan utama di tengah gelombang unjuk rasa.
Kedatangan Netanyahu ke Washington secara khusus dijadwalkan untuk melakoni diskusi krusial dengan Trump di Gedung Putih.
Pertemuan bilateral tersebut direncanakan berlangsung resmi pada hari Selasa.
Agenda ini mencatatkan perjumpaan kedelapan bagi Netanyahu bersama Trump sejak sang presiden terpilih menjalani masa jabatan keduanya.
Diskusi kedua pihak diprediksi membahas kelanjutan hubungan strategis dan dukungan keamanan.
Usai merampungkan pembicaraan dengan Trump, Netanyahu dijadwalkan menghadiri acara peringatan mengenang mendiang Senator Partai Republik Lindsey Graham.
Mendiang Graham dikenal luas sebagai figur politik kawakan yang konsisten mendukung kebijakan Israel.
Sikap politik Amerika Serikat sekian lama memicu kritik global akibat dukungan tanpa henti terhadap invasi di Jalur Gaza.
Data mencatat lebih dari 73.000 jiwa melayang di Gaza, di mana mayoritas korban tewas merupakan perempuan dan anak-anak.
Angka fatalitas membengkak sejak Tel Aviv melancarkan perang genosida yang dimulai pada 7 Oktober 2023.