-
Rencana pembangunan masjid di Fujisawa memicu polemik imigrasi dan perubahan sosial di Jepang.
-
Komunitas Muslim Jepang terus mendorong dialog interaktif untuk mengatasi ketakutan serta prasangka warga lokal.
-
Lonjakan pekerja asing memaksa pemerintah memperketat imigrasi di tengah krisis penurunan populasi.
"Ketika itu terjadi, satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah bersabar. Mereka mencoba memprovokasi perkelahian atau menciptakan konfrontasi. Mereka ingin melihat berapa lama kita akan mentolerirnya," jelas Mohideen.
"Jadi kita tetap tenang, berbicara dengan lembut, dan memperlakukan mereka dengan baik, karena orang Jepang umumnya tidak banyak tahu tentang Islam," tutur Mohideen.
Mohideen mengakui adanya kelalaian dari sisi pendatang yang kurang aktif berbaur selama bertahun-tahun. Kurangnya pemahaman publik menjadi celah membesarnya jurang pemisah antara warga lokal dan imigran.
"Kami hanya fokus pada pekerjaan kami dan, untuk waktu yang lama, tidak cukup berupaya membantu orang memahami siapa kami. Kami juga tidak cukup berupaya untuk menjadi bagian dari masyarakat," akunya.
"Mulai sekarang, saya ingin bekerja lebih keras untuk meningkatkan dialog dan membangun pemahaman bersama yang lebih baik," tegas Mohideen.
Kepatuhan terhadap norma hukum lokal menjadi prioritas utama bagi komunitas pendatang di prefektur Saitama. Ketaatan pada aturan kebersihan hingga etika kesopanan harian dinilai wajib dijaga.
"Kami berusaha sekuat tenaga untuk menghormati cara-cara yang dilakukan di Jepang dan mengikuti aturan-aturannya," ujar Shakeel Mohamed, perwakilan Masjid Yashio. "Kesopanan juga penting, bahkan hal sesederhana menyapa orang."
"Tentu saja, ada beberapa orang Pakistan yang berperilaku buruk, tetapi mereka hanya minoritas kecil. Dan hal yang sama berlaku untuk orang Jepang," jelas Mohamed.
Data akademik mencatat jumlah umat Islam di Jepang melonjak dari 230.000 pada 2019 menjadi sekitar 420.000 pada akhir 2024. Sementara itu, total warga asing menembus empat juta jiwa pada 2025 dengan 2,57 juta di antaranya bekerja aktif.
Pemerintah Jepang merespons lonjakan ini dengan memperketat aturan visa dan menambah personel pengawasan imigrasi. Kebijakan ini diambil guna memperketat penindakan terhadap pelanggaran izin tinggal warga asing.
Di sisi lain, sebagian warga lokal yang awalnya ragu mulai menyadari bahwa ketakutan mereka berakar dari ketidaktahuan. Kesadaran ini menjadi awal penting bagi proses akulturasi budaya di Fujisawa.
Jepang mengalami krisis demografi parah ditandai penurunan populasi hampir satu juta jiwa dalam kurun waktu satu tahun. Untuk menjaga roda ekonomi tetap berputar, pemerintah terpaksa membuka pintu bagi jutaan pekerja asing dari berbagai negara.
Masuknya ratusan ribu imigran beragama Islam mengubah lanskap sosial di berbagai kota kecil seperti Fujisawa. Perubahan komposisi penduduk ini memicu pergolakan identitas nasional antara mempertahankan tradisi lama atau membuka diri pada keberagaman.