- Lembaga survei SMRC merilis data tren elektabilitas Prabowo Subianto yang merosot tajam dari 35 persen menjadi 15 persen pada Juli 2026.
- Penurunan elektabilitas Prabowo tersebut sangat berbanding terbalik dengan tren kepemimpinan SBY dan Joko Widodo pada awal masa jabatan mereka.
- Survei nasional yang melibatkan 749 responden tersebut juga mencatat kenaikan elektabilitas signifikan pada tokoh lain seperti Dedi Mulyadi.
Suara.com - Lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis data terbaru mengenai tren elektabilitas Prabowo Subianto sebagai Presiden petahana di awal periode pertama masa jabatan kekinian.
Berdasarkan hasil pemantauan tren tersebut, terdapat perbedaan signifikan antara performa elektabilitas Prabowo dibandingkan dengan dua pendahulunya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo alias Jokowi.
Dalam grafik yang dirilis, elektabilitas Prabowo Subianto tercatat menunjukkan tren penurunan yang cukup tajam. Pada November 2025, tingkat elektabilitas Prabowo berada di angka 35 persen.
Angka ini kemudian mengalami penurunan tipis menjadi 33 persen pada periode Februari-Maret 2026, dan merosot drastis hingga menyentuh angka 15 persen pada Juli 2026.
Tren ini berbanding terbalik dengan data elektabilitas SBY pada periode Desember 2005 hingga Agustus 2006 yang bertahan di kisaran 39 persen hingga 44 persen.
Demikian pula dengan Jokowi pada periode Oktober 2015 hingga Juni 2016 yang justru menunjukkan kenaikan dari 31 persen ke 44 persen.
"Elektabilitas SBY di awal periode pertama cenderung stabil, Jokowi naik, sementara Prabowo menurun," tulis kesimpulan hasil survei terbaru SMRC dikutip Suara.com, Rabu (29/7/2026).
Sebelumnya, Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, menyampaikan, bahwa dalam 9 bulan terakhir, elektabilitas Prabowo di simulasi semi terbuka menurun dari 34,9 persen di survei November 2026 menjadi 14,5 persen di survei Juli 2026.
Sementara, di periode yang sama, elektabilitas Dedi Mulyadi naik dari 19,7 persen menjadi 35 persen.
"Dalam 9 bulan terakhir, elektabilitas Prabowo di simulasi semi terbuka menurun dari 34.9% di survei November 2026 menjadi 14.5% di survei Juli 2026. Sementara, di periode yang sama, elektabilitas Dedi Mulyadi naik dari 19.7% menjadi 35%," kata Deni dikutip dalam siaran pers resmi SMRC, Rabu (29/7/2026).
Selain dua nama tersebut, survei ini juga memotret pergerakan calon lainnya:
- Anies Baswedan: Sempat naik dari 6.1% (Nov 2025) menjadi 10.8% (Feb-Mar 2026), namun menurun ke angka 8.2% pada Juli 2026.
- Gibran Rakabuming Raka: Menunjukkan tren kenaikan perlahan tapi stabil, mulai dari 5.1% (Nov 2025) naik menjadi 6.8% (Feb-Mar 2026), dan terakhir berada di angka 7.7% pada Juli 2026.
- Massa Mengambang (Tidak Tahu/Tidak Jawab): Kelompok pemilih yang belum menentukan pilihan mengalami penurunan dari 17.3% pada November 2025 menjadi 12.8% pada Juli 2026.
Untuk diketahui, hasil survei nasional SMRC ini dilakukan pada periode 5-19 Juli 2026. Deni menjelaskan populasi survei ini adalah seluruh warga Indonesia yang punya hak pilih.
Sebanyak 749 dari mereka dipilih secara random, dan yang punya telepon diwawancarai lewat telpon (83,8 persen), sementara yang tidak punya telepon diwawancarai dengan tatap muka (16,2 persen).
Proporsi ini sesuai dengan populasi pengguna cellphone dan yang tak menggunakannya. Margin of error survei ini +/- 3.7 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.