-
Serangan militer AS di pemukiman Qeshm menewaskan tiga orang warga sipil Iran.
-
Centcom melancarkan gempuran balasan masif ke puluhan target strategis milik pasukan IRGC Iran.
-
Konflik AS dan Iran telah berlangsung selama lima bulan tanpa kepastian solusi diplomasi.
Suara.com - Satu keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri dan anak berusia 2 tahun tewas akibat gempuran militer Amerika Serikat di area pemukiman Pulau Qeshm, Iran. Peristiwa tragis ini menambah daftar korban jiwa sipil di tengah eskalasi perang yang kembali membara setelah sempat mereda beberapa hari.
Laporan dari Universitas Ilmu Medis Hormozgan mengonfirmasi dua anak lainnya berusia tujuh dan sembilan tahun mengalami luka berat dan kini menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Tragedi di bangunan tempat tinggal ini menjadi bukti nyata dampak fatal dari aksi saling balas antara Washington dan Teheran.
Konflik yang semula diprediksi Presiden Donald Trump hanya berlangsung beberapa pekan kini justru meluas tanpa kepastian usai memasuki bulan kelima. Eskalasi terbaru ini menandai kegagalan upaya diplomasi informal yang sempat diusahakan kedua belah pihak akhir pekan lalu.

Gempuran udara yang meluluhlantakkan bangunan warga tersebut diluncurkan Komando Pusat AS (Centcom) sebagai aksi balasan atas serangan rudal balik Iran. Centcom mengklaim telah menggempur puluhan sasaran strategis milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di berbagai lokasi.
Operasi militer yang berlangsung selama satu jam sejak pukul 20.00 waktu AS tersebut menargetkan berbagai infrastruktur pertahanan utama Teheran. Target yang dihantam mencakup pusat komando militer, fasilitas rudal dan drone, serta situs pengawasan pesisir pantai Iran.
Pihak AS mengklaim seluruh rudal balistik yang sebelumnya ditembakkan Iran menuju markas militer Amerika berhasil dicegat di udara. Namun, aksi saling gempur ini langsung memicu kehancuran fisik dan memakan korban dari kalangan warga yang tidak terlibat.
Sebelum gelombang serangan dimulai, Presiden Donald Trump secara terbuka telah menegaskan niatnya untuk melayangkan aksi balasan keras terhadap Iran.
"Kami akan menghantam mereka dengan sangat keras karena sekarang giliran kami untuk menghantam mereka," kata Trump.
Trump juga menyebut bahwa pihak Teheran sebenarnya telah memohon agar serangan balasan tersebut tidak dilaksanakan oleh pihak militer Amerika Serikat.
"Mereka tahu hal itu akan terjadi. Mereka meminta kami untuk tidak melakukannya," ujar Presiden Amerika Serikat tersebut.
Di sisi lain, pasukan IRGC menyatakan telah menggempur pangkalan udara dan pusat komando militer Amerika Serikat yang berada di wilayah Yordania. Langkah penyerangan tersebut diklaim Teheran sebagai bentuk perlawanan atas aksi agresi yang dilancarkan oleh pasukan militer Amerika Serikat.
IRGC juga mengumumkan bahwa armada laut mereka telah menghantam tiga kapal tanker minyak yang melintas di kawasan strategis Selat Hormuz. Pihak Iran menuduh kapal-kapal tanker tersebut melanggar peringatan dengan melintasi jalur pelayaran yang dianggap berbahaya dan ilegal.
Keterlibatan Arab Saudi dalam konfrontasi ini turut memperluas jangkauan konflik setelah jet tempur gabungan AS-Saudi menggempur Irak timur. Operasi bersama tersebut diklaim berhasil memusnahkan puluhan fasilitas logistik dan persenjataan kelompok proksi Iran di wilayah tersebut.
Di tengah situasi perang yang memanas, Pangeran Khalid bin Salman dari Arab Saudi dilaporkan telah bertemu Donald Trump untuk mendorong penurunan tensi militer. Langkah diplomasi tertutup ini diambil demi mencegah krisis keamanan kawasan Teluk meluas lebih jauh.
Eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran ini bermula dari serangan gabungan AS dan Israel ke wilayah Iran pada Februari lalu. Meskipun Presiden Donald Trump awal mulanya memprediksi pertempuran hanya akan berlangsung singkat, pertempuran telah merentang selama lima bulan.
Sebelum gelombang penyerangan terbaru pada Rabu malam, kedua negara sempat menghentikan aksi saling gempur selama beberapa hari untuk memberi ruang negosiasi diplomasi. Namun, kegagalan kesepakatan dan saling klaim negosiasi memicu kembali aksi pertempuran terbuka yang memakan korban jiwa dari masyarakat sipil.