- Pengelola pusat perbelanjaan di Jakarta dan Surabaya memasang pagar besi tinggi pada akhir Juli 2026.
- APPBI menyatakan pemasangan pagar tersebut bertujuan menertibkan arus pengunjung serta sebagai langkah antisipasi keamanan perimeter.
- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta pengelola melepas pagar jika situasi tetap terkendali karena Jakarta aman.
Suara.com - Fenomena pemasangan pagar besi tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan memicu tanda tanya publik. Banyak yang mengaitkannya dengan isu keamanan menjelang Agustus.
Sementara para pengelola menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari penataan akses dan pengamanan rutin.
Lantas, mengapa pagar-pagar ini bermunculan hampir bersamaan, dan apa dampaknya bagi masyarakat?
Pagar Besi Mendadak Bermunculan
Perbincangan soal pagar tinggi mulai ramai di media sosial pada akhir Juli 2026, ketika warganet mengunggah foto dan video sejumlah mal besar di Jakarta dan Surabaya yang tiba-tiba dikelilingi pagar besi setinggi 2,5–3 meter.
Mal yang terpantau memasang pagar antara lain Kota Kasablanka, Gandaria City, dan Blok M Plaza di Jakarta, serta Pakuwon Mall Surabaya, Pakuwon City Mall, Royal Plaza, Tunjungan Plaza, dan Pakuwon Mall Bekasi.
Di Kota Kasablanka misalnya, pagar besi putih setinggi 2,5 meter dipasang di atas pagar beton lama, membentang sekitar 100 meter di dekat pintu masuk kendaraan dari Jalan Raya Casablanca. Di Blok M Plaza, pagar baru jauh lebih tinggi dibandingkan pembatas lama yang hanya sekitar satu meter.
Karena pemasangannya terjadi hampir bersamaan di berbagai kota dan bertepatan dengan menjelang Agustus, publik langsung mengaitkannya dengan potensi kerusuhan atau demonstrasi besar. Narasi ini kian menyebar lewat unggahan di Threads dan platform media sosial lain yang menyebut pengelola mal 'sudah diberi tahu' soal potensi kerusuhan.
Menunggu Momentum
Dua narasumber dari komunitas intelijen kepada Suara.com, mengakui sejak beberapa bulan terakhir terdapat kelompok-kelompok yang ingin membuat kerusuhan demi ambisi politik.
"Ada sejumlah kelompok elite yang ingin Presiden Prabowo jatuh pada Oktober. Jadi, dimulai pada Agustus dengan kerusuhan. Ini menggunakan memomentum bahwa Agustus tahun lalu juga ada aksi yang berujung rusuh," kata Sumber tersebut.
Ia mengatakan, kelompok-kelompok tersebut mulai membangun narasi melalui media-media sosial. Terutama menggunakan pidato-pidato Prabowo yang berujung blunder.
Seorang Sumber lainnya mengatakan, "Prabowo selama Agustus diminta meminimalisasi pidato tanpa teks, supaya tak digunakan kelompok lain untuk mendelegitimasinya."
Meski begitu, kata dia, komunitas intelijen maupun aparat penegak hukum berupaya mengantisipasi hal tersebut.
"Saya rasa sudah ada tindakan-tindakan preventif ya. Karena bagaimana pun juga, yang rugi adalah masyarakat," kata dia.
Mengapa Mal Memasang Pagar Besi?

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, membantah pagar dipasang karena ancaman kerusuhan. Menurutnya, tujuan utamanya adalah menertibkan arus keluar-masuk pengunjung.
"Kalau terbuka itu kan pengunjung bisa masuk dari mana saja, bisa keluar dari mana saja. Sehingga itu kan membahayakan lalu lintas sekitar," kata Alphonzus.
Alphonzus juga menegaskan penggunaan pagar bukan hal baru di industri pusat perbelanjaan. Sejumlah mal bahkan sudah memakai pagar sejak awal beroperasi, sehingga kemunculan pagar belakangan ini menurutnya 'kebetulan saja' dan tidak bisa langsung dikaitkan dengan isu keamanan tertentu.
Meski begitu, APPBI mengakui pagar juga berfungsi sebagai pengamanan perimeter tambahan bagi mal yang lokasinya berada di dekat titik-titik yang kerap menjadi lokasi demonstrasi. Bukan karena ada informasi spesifik mengenai ancaman, melainkan sebagai langkah antisipatif.
Penjelasan berbeda juga datang dari Pakuwon Group. Pemasangan pagar di Surabaya diklaim berkaitan dengan keselamatan pejalan kaki pasca-beroperasinya Jalan Radial Road. Sementara di Royal Plaza dan Pakuwon City Mall, pagar lama yang rusak hanya diganti.
Publik Justru Curiga
Pemasangan pagar tinggi secara serentak, tanpa penjelasan awal dari pengelola, menciptakan efek psikologis tersendiri. Sesuatu yang dimaksudkan sebagai langkah pengamanan justru ditafsirkan sebagai sinyal bahaya.
Warganet yang biasa melihat mal sebagai ruang terbuka merasa 'asing' dengan pemandangan pagar tinggi yang mengelilingi bangunan, seperti dikeluhkan beberapa pengguna Threads yang menanyakan langsung kepada akun resmi mal, seperti Kota Kasablanka.
Minimnya penjelasan resmi di awal membuat ruang kosong itu diisi spekulasi di media sosial, yang kemudian membesar menjadi narasi soal demonstrasi besar dan kerusuhan pada Agustus. Media sosial berperan besar membentuk persepsi ini karena video dan foto pagar menyebar lebih cepat dibandingkan klarifikasi resmi dari pengelola maupun pemerintah.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana langkah pengamanan fisik, tanpa komunikasi publik yang memadai, dapat berbalik menimbulkan rasa tidak aman alih-alih rasa aman.
"Kenapa kemudian pihak manajemen mal tidak serta merta memberikan informasi publik yang utuh? Padahal kan itu yang penting," sorot pengamat kebijakan publik Prof. Trubus Rahardiansah dalam perbincangannya dengan Suara.com melalui sambungan telepon, Senin [3/8/2026].
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan pemasangan pagar tinggi di mal-mal milik Pakuwon Group. Mengingat aturan yang berlaku juga tidak melarang sebuah pusat perbelanjaan memasang pagar tinggi.
Kebijakan itu pun bisa saja disampaikan kepada publik sebagai standar prosedur pengamanan yang lumrah dilakukan kapan saja.
"Tapi kan nggak ada penjelasan apa-apa. Nah akhirnya malah diviralkan ke mana-mana, ya jadi gaduh begitu," kata Prof. Trubus.
Apakah Mal Rentan Terdampak Kerusuhan?
![Infografis pembangunan pagar mal. [Suara.com/Syahda]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/08/03/92534-infografis-pembangunan-pagar-mal.jpg)
Sejumlah mal yang memasang pagar berada di kawasan strategis dan padat aktivitas bisnis, seperti Casablanca dan Blok M di Jakarta Selatan. Kawasan tersebut pernah menjadi lokasi maupun titik terdekat aksi demonstrasi dan kerusuhan pada Agustus 2025.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sendiri mengaitkan kekhawatiran pengelola dengan trauma peristiwa tahun lalu.
Bagi pengelola, mal menyimpan risiko ganda, yakni keselamatan pengunjung, keamanan tenant dan aset properti, sekaligus reputasi sebagai ruang publik yang nyaman.
Karena itu, APPBI membedakan antara langkah mitigasi umum, yakni memperkuat perimeter sebagai antisipasi standar di kawasan yang dinilai rawan, dengan adanya ancaman nyata yang bersifat spesifik.
Alphonzus menegaskan, tidak ada informasi konkret mengenai ancaman. Pagar lebih merupakan langkah kehati-hatian ketimbang respons atas ancaman yang telah teridentifikasi.
"Untuk kepentingan ketertiban saja," kata dia.
Respons Pemerintah

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan telah mengamati fenomena ini dan menilai pemasangan pagar mungkin memang lahir dari kekhawatiran akan terulangnya kerusuhan seperti Agustus 2025.
Namun, ia menegaskan akan meminta pengelola melepas kembali pagar-pagar tersebut apabila situasi tetap terkendali, karena pemerintah daerah tidak ingin Jakarta dipenuhi penghalang yang memberi kesan kota tertutup dan tidak aman.
"Saya meyakini bahwa Jakarta aman," tegas dia.
Pramono menilai kekhawatiran itu wajar, tetapi berharap tidak berlebihan. Ia juga memastikan Pemprov DKI terus berkoordinasi dengan TNI dan Polri untuk menjaga keamanan ibu kota.
Soal kewenangan, pemerintah daerah pada dasarnya tidak melarang pemasangan pagar di properti privat, namun dapat meminta pengelola menyesuaikannya agar tidak permanen dan tidak mengubah wajah ruang publik kota.
"Saya berpikir, pagarnya itu nggak perlu tinggi-tinggi. Yang penting pohonnya yang banyak, lebih hijau, antara satu dan sebelah bersebelahan itu juga mungkin lebih baik dibuka," tutur eks Sekretaris Kabinet itu.
Pihak Istana melalui Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, turut meminta publik dan media tidak membesar-besarkan narasi yang menebar ketakutan, sembari mengajak melakukan pengecekan fakta di lapangan.
"Kita doakan bangsa kita aman," ucapnya.
Kata Polisi
Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi, Komjen Fadil Imran, memastikan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) saat ini tetap kondusif.
Berdasarkan data Daily Operating Reporting System (DORS) Polri, tidak ditemukan kejadian menonjol yang perlu dikhawatirkan hingga awal Agustus 2026.
Fadil menilai pemasangan pagar oleh pemilik properti merupakan hal yang wajar, layaknya rumah yang dipagari.
"Jangan kemudian dibangun narasi seolah-olah kalau bangun pagar akan terjadi sesuatu," tuturnya.
Fadil juga menegaskan tidak ada pengamanan khusus tambahan yang disiapkan menjelang Agustus karena personel kepolisian, termasuk Brimob dan Sabhara, pada dasarnya selalu dalam kondisi siaga setiap hari tanpa perlu menunggu momen tertentu.
Senada dengan Istana, Polri mengimbau masyarakat untuk tidak terpengaruh spekulasi dan isu liar yang beredar di media sosial terkait fenomena ini.