-
AS dan Iran mendekati kesepakatan teknis untuk membuka kembali pelayaran Selat Hormuz.
-
Oman memediasi pembagian rute masuk dan keluar untuk menjamin keamanan kapal komersial.
-
Kesepakatan darurat ini diharapkan mencegah lonjakan harga minyak global akibat kelangkaan pasokan.
Ketegangan Tarif dan Keamanan Navigasi
Trump juga menolak keras gagasan pembukaan tarif atau retribusi bagi kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.
"Saya tidak akan membiarkan mereka memungut biaya," kata Trump.
Ia menegaskan posisi AS terkait pemungutan biaya lintas laut. "Jika ada yang memungut biaya, kami yang akan memungut biaya," ucapnya.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menjelaskan bahwa perundingan Selat Hormuz dipisahkan dari negosiasi program nuklir Iran.
"Ada kesepakatan besar, yaitu kesepakatan yang berkaitan dengan ambisi nuklir mereka," kata Rubio.
Rubio menekankan fokus diplomasi saat ini berada pada pengamanan jalur laut.
"Kesepakatan mendesak dan yang saat ini menjadi fokus utama adalah masalah selat," ujarnya.
Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft, Trita Parsi, menilai AS tidak perlu memaksakan dominasi mutlak dalam penguasaan selat.
"Pemerintahan Trump makin membingkai tujuannya untuk mencegah Iran 'mengendalikan' selat tersebut. Padahal, kepentingan utama Amerika di jalur perairan strategis secara historis bukanlah tentang siapa yang mengelolanya, melainkan apakah kapal dapat melintas dengan bebas, terprediksi, dan tanpa diskriminasi," jelas Parsi.
Realita Diplomatik di Jalur Laut
Parsi menambahkan bahwa mencegah kontrol musuh hanyalah sarana untuk menjamin kelancaran navigasi. Karena itu, Washington "tidak boleh menolak kesepakatan hanya karena gagal mempertahankan kesan dominasi mutlak Amerika."
Mantan direktur urusan Semenanjung Arab di Departemen Pertahanan AS, David Des Roches, menyebut penghentian serangan menjadi kunci utama diplomasi.
"Yang benar-benar dibutuhkan di sini adalah semacam kesepakatan yang mengarah pada pengumuman resmi Iran bahwa mereka akan berhenti menyerang pelayaran sipil netral, baik di perairan Oman maupun di perairan internasional," kata Des Roches.
Des Roches menilai kompromi teritorial merupakan opsi paling realistis saat ini.
"Saya pikir garis besar kesepakatan adalah bahwa Iran akan menolak perlintasan internasional bebas di area laut teritorialnya," ujarny.
Ia menutup analisisnya dengan menekankan keterbatasan opsi yang ada.
"Saya pikir itu mungkin hal terbaik yang dapat dicapai pada titik waktu ini," ucap Des Roches.
Kondisi geopolitik kawasan sejauh ini masih bergerak sangat dinamis dan memicu ketidakpastian tinggi. Peneliti senior Center for Middle East Strategic Studies, Abas Aslani, menggambarkan situasi kawasan yang berubah cepat.
"Saya pikir kawasan ini terasa seperti 'roller-coaster' berkecepatan tinggi karena beberapa hari lalu semua orang bersiap untuk eskalasi masif," kata Aslani.
Eskalasi krisis di Selat Hormuz bermula sejak pecahnya perang antara AS-Israel melawan Iran pada 28 Februari. Penutupan selat oleh Iran langsung melumpuhkan rute perdagangan yang biasanya dilalui sepertiga pasokan minyak mentah jalur laut dunia.
Volume pelayaran merosot drastis dari rata-rata 130 kapal per hari menjadi hanya delapan kapal saat krisis memuncak. Ketegangan militer semakin memanas setelah sebuah kapal kargo dihantam proyektil misterius di lepas pantai Oman, yang mempercepat diplomasi pembukaan kembali selat tersebut.