Wacana Pergantian Kapolri Berisiko Rugikan Presiden Prabowo, Ini Penjelasan Analis Politik

Bangun Santoso

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:08 WIB
Wacana Pergantian Kapolri Berisiko Rugikan Presiden Prabowo, Ini Penjelasan Analis Politik
Momen Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo anugerahkan Presiden Prabowo Subianto Medali Loka Praja Samrakshana. (dok. Biro Pers Sekretariat Presiden)
baca 10 detik
  • Analis Boni Hargens menyatakan wacana pergantian Kapolri saat ini berisiko merugikan Presiden Prabowo Subianto secara politik.
  • Kelompok oposisi berpotensi mengeksploitasi kebijakan tersebut untuk membangun narasi menyesatkan yang merusak kredibilitas penegakan hukum.
  • Presiden disarankan menunda pergantian tersebut demi menghindari dampak berantai negatif terhadap kepercayaan publik.

Suara.com - Analis politik, hukum, dan isu intelijen Boni Hargens menilai wacana pergantian Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) bakal merugikan Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Boni Hargens, dalam situasi politik yang sedang panas, khususnya setelah berakhirnya polemik kasus korupsi yang melibatkan mantan petinggi kejaksaan, pergantian Kapolri berisiko diartikan secara keliru oleh berbagai pihak, terutama kelompok oposisi yang aktif membangun narasi alternatif di ruang publik.

Boni memperingatkan bahwa dalam lanskap politik Indonesia saat ini, setiap kebijakan eksekutif yang sensitif akan diuji bukan hanya dari sisi legalitasnya, tetapi juga dari sisi narasinya.

Menurut Boni, opini yang secara objektif keliru pun bisa menjadi sangat efektif apabila didistribusikan pada momen yang tepat dan diarahkan kepada segmen masyarakat yang sudah memiliki kecurigaan terhadap pemerintah.

"Kita baru selesai dengan polemik soal kasus korupsi yang melibatkan mantan petinggi kejaksaan. Ada kelompok dalam masyarakat yang menilai itu bentuk konflik antarlembaga kepolisian dan kejaksaan meskipun penilaian itu tidak benar," ujar Boni dalam keterangannya, Kamis (6/8/2026).

Salah satu pokok argumen terpenting dari Boni Hargens adalah bagaimana keputusan yang secara substansial sah dan legitim dapat dieksploitasi secara naratif oleh pihak-pihak yang berseberangan dengan pemerintah. Ia menyebut secara spesifik kelompok oposisi jalanan sebagai aktor yang berpotensi memanfaatkan momentum pergantian Kapolri untuk membangun opini yang merugikan presiden.

"Kelompok oposisi dapat mengklaim bahwa pergantian Kapolri dilakukan karena Kapolri terlalu berani mengusut kasus korupsi yang melibatkan oknum dari Kejaksaan Agung, sebuah narasi yang menghubungkan keputusan administratif dengan dugaan intervensi terhadap penegakan hukum," beber Boni.

Boni secara eksplisit menyebut opini semacam itu sebagai menyesatkan, namun dalam waktu yang sama ia mengakui bahwa dalam konteks politik, narasi yang menyesatkan pun bisa sangat efektif, terutama apabila disebarkan melalui jaringan yang terorganisasi dan menyasar segmen publik yang sudah memiliki praduga negatif terhadap pemerintahan.

Boni pun mengidentifikasi dua entitas yang paling rentan dirugikan dengan isu pergantian Kapolri, yakni Presiden Prabowo secara personal sebagai pemimpin eksekutif, dan institusi penegakan hukum Indonesia secara keseluruhan.

baca juga

Menurut dia, persepsi publik tentang independensi dan integritas hukum adalah aset yang rapuh dan sulit dipulihkan jika sudah terkikis oleh narasi yang beredar luas.

"Saya tidak mengadvokasi penolakan permanen terhadap wacana pergantian Kapolri, melainkan menyarankan agar ide tersebut diabaikan sementara oleh presiden. Rekomendasi ini didasarkan pada konsep butterfly effect atau efek kupu-kupu, di mana satu keputusan kecil yang diambil dalam konteks yang kurang tepat dapat memicu serangkaian reaksi berantai yang dampaknya jauh melebihi perkiraan awal," ujarnya lagi.

Menurut Boni, seorang pemimpin yang efektif bukan hanya yang mampu mengambil keputusan yang secara hukum sah, melainkan juga yang mampu membaca medan komunikasi politik dan memilih momen terbaik untuk bertindak.

Dia menegaskan menunda bukan berarti lemah, melainkan bentuk kecerdasan strategis yang mempertimbangkan keseluruhan ekosistem politik, sosial, dan persepsi publik.

Pengamat politik, Boni Hargens usai menghadiri sebuah diskusi di Jakarta. (ist)
Pengamat politik, Boni Hargens saat menghadiri sebuah diskusi di Jakarta. (ist)

"Konsep "efek kupu-kupu" dalam konteks ini merujuk pada potensi dampak yang tidak proporsional dan tidak terduga dari satu keputusan administratif terhadap keseluruhan sistem kepercayaan publik dan stabilitas politik," tegas dia.

Lebih lanjut, Boni Hargens menegaskan wacana pergantian Kapolri yang bergulir saat ini mencerminkan dinamika yang lumrah dalam sistem politik Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI

Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 17:49 WIB

Ditanya soal Isu Surpres Pergantian Kapolri Listyo Sigit, Mensesneg: Hah? Kata Siapa?

Ditanya soal Isu Surpres Pergantian Kapolri Listyo Sigit, Mensesneg: Hah? Kata Siapa?

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 17:31 WIB

Prabowo Minta TNI Beri Sesuatu yang Spesial untuk Masyarakat di Bulan Kemerdekaan

Prabowo Minta TNI Beri Sesuatu yang Spesial untuk Masyarakat di Bulan Kemerdekaan

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 17:08 WIB

Komisi III Tegaskan Tak Ada Surpres Pergantian Kapolri, Publik Diminta Tak Percaya Isu Menyesatkan

Komisi III Tegaskan Tak Ada Surpres Pergantian Kapolri, Publik Diminta Tak Percaya Isu Menyesatkan

DPR | Kamis, 06 Agustus 2026 | 16:35 WIB

Temui Presiden Prabowo di Istana, Kepala BRIN Pamer Sepatu Inovasi Lokal Harga Rp75 Ribu

Temui Presiden Prabowo di Istana, Kepala BRIN Pamer Sepatu Inovasi Lokal Harga Rp75 Ribu

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 14:25 WIB

Gugatan Banjir Sumatera terhadap Empat Presiden Ditolak, Demokrat Sebut Salah Alamat Pengadilan

Gugatan Banjir Sumatera terhadap Empat Presiden Ditolak, Demokrat Sebut Salah Alamat Pengadilan

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 08:19 WIB

Watak Weton Rabu Pon Milik Presiden Prabowo Subianto, Simak Kelebihan dan Kekurangannya

Watak Weton Rabu Pon Milik Presiden Prabowo Subianto, Simak Kelebihan dan Kekurangannya

Lifestyle | Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:05 WIB

Terkini

100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI

100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:47 WIB

Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar

Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:40 WIB

Rekor Buruk Timnas Indonesia di Piala AFF Semakin Panjang, Pemain Naturalisasi Tak Berkutik

Rekor Buruk Timnas Indonesia di Piala AFF Semakin Panjang, Pemain Naturalisasi Tak Berkutik

Bola | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:39 WIB

100 Petani Sidomulyo Muba Serahkan Diri, Bela 4 Warga yang Dituduh Mencuri di Kebun Sendiri

100 Petani Sidomulyo Muba Serahkan Diri, Bela 4 Warga yang Dituduh Mencuri di Kebun Sendiri

Sumsel | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:34 WIB

Eks Penyidik KPK: Kasus Febrie Adriansyah Harus Dikembangkan ke Atas, Bawah, dan Samping

Eks Penyidik KPK: Kasus Febrie Adriansyah Harus Dikembangkan ke Atas, Bawah, dan Samping

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:29 WIB

Dari Batam Menuju Timnas Indonesia, Garudayaksa FC Buka Kesempatan bagi Talenta Muda

Dari Batam Menuju Timnas Indonesia, Garudayaksa FC Buka Kesempatan bagi Talenta Muda

Bola | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:15 WIB

Erick Thohir Evaluasi Skuad Timnas Indonesia Usai Gagal di Piala AFF 2026, John Herdman Out?

Erick Thohir Evaluasi Skuad Timnas Indonesia Usai Gagal di Piala AFF 2026, John Herdman Out?

Bola | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 22:59 WIB

Kata-kata Mengharukan Rizky Ridho Usai Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026

Kata-kata Mengharukan Rizky Ridho Usai Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026

Bola | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 22:36 WIB

Tangis Haru Karsa, Rumah Reotnya di Klapanunggal Kini Kokoh Direnovasi Indocement

Tangis Haru Karsa, Rumah Reotnya di Klapanunggal Kini Kokoh Direnovasi Indocement

Bogor | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 22:17 WIB

Singapura Tahan Indonesia: Garuda Terhenti, Wasit Oman Dituding Biang Kerok

Singapura Tahan Indonesia: Garuda Terhenti, Wasit Oman Dituding Biang Kerok

Bola | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 22:07 WIB

×