-
Ratusan anak imigran tanpa pendamping terancam aksi kekerasan dan eksploitasi di jalanan Ceuta.
-
Fasilitas penampungan Ceuta mengalami overkapasitas parah karena menampung 1.100 anak dari kapasitas 90 orang.
-
Pemerintah Spanyol dan Maroko masih terkendala hambatan regulasi dalam memproses pemulangan anak imigran.
Suara.com - Ratusan anak-anak tanpa pendamping menghadapi ancaman kekerasan fisik dan eksploitasi ekstrem di jalanan wilayah kantong Spanyol, Ceuta. Kondisi darurat kemanusiaan ini memicu desakan evaluasi total atas prosedur hukum penanganan anak lintas batas negara.
Mayoritas imigran dewasa telah kembali melintasi perbatasan menuju Maroko pasca-gelombang masuk massal. Kendati demikian, hukum internasional melarang deportasi kilat terhadap anak-anak, sehingga pemerintah lokal terjebak dalam kelumpuhan logistik penampungan.
Fakta lapangan menunjukkan ancaman kekerasan seksual dan kejahatan perdagangan manusia kini mengintai anak perempuan yang bertahan di ruang publik tanpa pengawasan. Jalur birokrasi yang lamban memperparah penderitaan fisik para korban yang rata-rata berumur di bawah 14 tahun.
![Para migran tiba di pesisir kota Ceuta, Spanyol, Afrika Utara, setelah berupaya berenang dari Maroko pada Jumat (31/7/2026). [ANTARA/Marcos Moreno - Anadolu Agency/pri]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/06/79522-para-migran-tiba-di-pesisir-kota-ceuta-spanyol-berenang-dari-maroko.jpg)
"Setiap hari yang berlalu tanpa solusi dan tanpa akomodasi yang aman berarti membiarkan anak-anak ini - terutama anak perempuan - terpapar segala jenis pelecehan," kata Jose Miguel Morales, kepala Federacion Sur Acoge.
Jose menekankan pentingnya respons cepat mengingat kelompok rentan tersebut masih berusia sangat muda.
"Kita bicara tentang anak-anak nyata - berusia 10 tahun atau lebih muda dalam beberapa kasus. Banyak yang di bawah 14 tahun," ujarnya.
Lembaga Save the Children mendesak pencatatan identitas seluruh anak segera dilakukan demi menekan potensi kejahatan tindak pidana perdagangan orang. Sementara itu, sebagian besar imigran dewasa dilaporkan telah kembali ke negara asal.
Pemerintah Spanyol mengklaim sekitar 70.000 dari 72.000 imigran yang menerobos perbatasan pada akhir Juli telah keluar dari Ceuta. Namun, otoritas kota Ceuta mencatat data berbeda dengan menyebut ada lebih dari 1.000 anak tanpa pendamping yang tertinggal.
Kondisi fisik anak-anak tersebut kian memprihatinkan akibat terbatasnya akses terhadap makanan, air bersih, serta tempat tinggal yang layak. Kelompok pemuda dan pria asal Afrika Sub-Sahara tampak bertahan di kawasan hutan dan pesisir pantai.
Aktivitas harian anak-anak dan remaja tersebut kini hanya berpusat di sekitar area terbuka kota. Sebagian tidur di atas pasir pantai dengan wajah tertutup kantong plastik atau kaus demi menghindar dari sengatan matahari.
Pemandangan tumpukan sepatu, botol air, dan buntalan pakaian kecil yang tergeletak di tanah mempertegas tiadanya tempat tinggal permanen bagi mereka. Banyak imigran akhirnya terpaksa tidur di jalanan permukiman warga karena pusat penerimaan resmi ditutup akibat kelebihan kapasitas.
Otoritas setempat mengungkapkan terdapat sekitar 1.100 anak yang membutuhkan penanganan medis dan sosial mendesak. Padahal, kapasitas teoritis fasilitas penampungan yang dimiliki Ceuta sebenarnya hanya mampu menampung 90 orang.
"Kapasitas kami telah sepenuhnya terlampaui," kata Wakil Presiden Ceuta Alejandro Ramirez kepada saluran televisi swasta La Sexta.
Alejandro menegaskan bahwa situasi penanganan imigran di wilayahnya sudah berada pada titik yang sangat kritis.
"Tidak berkelanjutan," tambahnya.