-
Remaja 14 tahun menembak mati kakek, nenek, guru, siswa, lalu membunuh dirinya sendiri.
-
Penembakan massal di sekolah luar Bangkok ini juga menyebabkan 23 orang mengalami luka-luka.
-
Pelaku beraksi menggunakan senjata api kakeknya dengan membawa puluhan butir amunisi aktif.
Suara.com - Polisi merilis foto siswa berusia 14 tahun pelaku penembakan massal di sekolah Thailand. Dia menghabisi delapan nyawa termasuk kakek, nenek, dan dirinya sendiri di sebuah sekolah. Peristiwa berdarah di pinggiran Bangkok ini menjadi kasus pembantaian terburuk di Negeri Gajah Putih sejak 2 tahun terakhir.
Dalam foto yang dirilis kepolisian kerajaan Thailand, tampak siswa berkulit putih itu mengenakan seram sekolah berwarna ungu.
Rentetan tembakan memicu kepanikan massal hingga ribuan siswa berhamburan menyelamatkan diri dari area sekolah. Tak hanya merenggut korban jiwa, insiden tragis ini juga menyebabkan 23 orang mengalami luka-luka.

Pelaku melancarkan aksinya menggunakan senjata api milik kakeknya setelah terlebih dahulu membunuh kedua orang tua dari orang tuanya di rumah. Polisi menemukan setidaknya 26 selongsong peluru yang telah dimuntahkan serta 34 butir amunisi aktif di lokasi.
Saksi mata di lokasi kejadian sempat mengira suara letusan senjata api tersebut sebagai ledakan petasan yang biasa dimainkan anak-anak.
Seorang siswa berusia 18 tahun menceritakan kepanikannya saat menyadari letusan tersebut merupakan tembakan beruntun.
"Awalnya saya tidak menyangka itu adalah senjata api," katanya dikutip dari CNA, Jumat (7/8/2026).
"Ada banyak tembakan: bang bang bang. Lalu hening. Kemudian mulai lagi."
Pihak kepolisian mengonfirmasi bahwa remaja laki-laki yang menjadi dalang penembakan tersebut ditemukan tewas di tempat.
Juru bicara Kepolisian Nasional, Letnan Jenderal Trairong Phophan, memastikan status hukum pelaku penembakan tersebut.
"Terduga penembak termasuk di antara tujuh orang yang tewas di sekolah," ujarnya kepada Reuters.
Menteri Pendidikan Prasert Jantararuangtong menyatakan bahwa korban meninggal di lingkungan sekolah terdiri dari pendidik dan peserta didik.
Situasi di dalam gedung sekolah menggambarkan kepanikan luar biasa saat petugas medis berupaya menolong para korban.
Petugas penyelamat Kiatikhun Verapongpradith menceritakan kondisi para korban luka yang menderita tembakan di dada, punggung, serta tangan.
Ia menemukan seorang guru laki-laki tewas di lantai atas, serta guru perempuan yang bersimbah darah di ruangan lain.
Kiatikhun juga menjadi orang pertama yang menangani kondisi fisik sang pelaku usai mendengar letusan senjata terakhir.
"Kami bergegas ke atas dan menemukan pelaku telah menembak dirinya sendiri di kepala bagian kanan lalu roboh. Ketika kami sampai di sana, kami memeriksa nadinya, dia masih memilikinya, jadi kami memulai CPR," tuturnya.
Petugas medis langsung melarikan remaja tersebut ke rumah sakit sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Kemacetan parah sempat melumpuhkan akses jalan di sekitar Debsirin Nonthaburi School akibat tumpah ruahnya kendaraan orang tua murid.
Sekolah yang menampung sekitar 3.100 siswa dan 147 tenaga pengajar tersebut langsung menghentikan seluruh aktivitas belajar mengajar.
Pemerintah pusat memberikan tanggapan resmi terkait duka mendalam yang kembali mencoreng dunia pendidikan nasional.
Perdana Menteri Anutin Charnvirakul menyampaikan keprihatinannya saat ditemui awak media di Gedung Pemerintah Bangkok.
"Ini kejadian yang sangat mengerikan. Ini seharusnya tidak pernah terjadi. Bagaimana ini bisa terjadi di negara kita?" ujar Anutin.
Peristiwa di Debsirin Nonthaburi School ini menambah catatan kelam aksi kekerasan bersenjata yang melibatkan fasilitas pendidikan di Thailand. Sebelum tragedi ini terjadi, penembakan di lingkungan sekolah juga sempat memakan korban jiwa seorang guru di wilayah selatan Thailand pada Februari lalu.