- Puluhan ton ikan mati setiap bulan di keramba warga Muaro Jambi akibat pencemaran Sungai Batanghari.
- Pencemaran air dipicu oleh limbah tambang ilegal, limbah domestik, dan musim kemarau sejak tiga bulan terakhir.
- Kerusakan lingkungan hulu sungai menurunkan jumlah spesies ikan drastis dari 300 menjadi 135 jenis.
Suara.com - Kematian ikan dalam jumlah besar di keramba petani di Kecamatan Jambi Luar Kota (Jaluko), Kabupaten Muaro Jambi, menjadi sinyal memburuknya kondisi Sungai Batanghari. Fenomena itu tidak hanya menyebabkan petani mengalami kerugian, tetapi juga disebut berkaitan dengan ancaman terhadap ekosistem sungai.
Puluhan ton ikan dilaporkan mati setiap bulan di sejumlah desa yang berada di sepanjang aliran Sungai Batanghari. Petani menduga kematian tersebut dipicu pencemaran air, termasuk limbah merkuri dari aktivitas pertambangan emas ilegal di bagian hulu sungai.
Petani keramba di Desa Sarang Burung, Kecamatan Jaluko, Musa Yusuf mengatakan tingkat kematian ikan meningkat dalam tiga bulan terakhir.
"Jumlahnya banyak, paling hanya 10 persen yang hidup dari total yang kita tabur, sisanya mati," kata Musa di Desa Sarang Burung, Kecamatan Jaluko, Jambi, Minggu.
Menurut Musa, kondisi tersebut semakin parah ketika debit Sungai Batanghari menyusut akibat musim kemarau. Penurunan volume air dinilai memperburuk kualitas air yang digunakan petani untuk membudidayakan ikan.
Musa menduga pencemaran juga berasal dari aktivitas tambang emas ilegal di wilayah hulu. Limbah beracun, termasuk merkuri, disebut terbawa aliran sungai hingga mencapai wilayah keramba warga.
Ia berharap pemerintah segera turun tangan karena persoalan tersebut tidak hanya mengancam penghasilan petani keramba, tetapi juga masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada Sungai Batanghari.
Kecamatan Jaluko sendiri merupakan salah satu sentra ikan air tawar di Provinsi Jambi. Keramba milik petani tersebar antara lain di Desa Sungai Duren, Sarang Burung, Mendalo Laut, dan Pematang Jering.
Petani membudidayakan sejumlah jenis ikan, terutama ikan mas (Cyprinus carpio) dan nila (Oreochromis niloticus).
Besarnya jumlah ikan yang mati membuat kerugian petani diperkirakan mencapai puluhan ton setiap bulan.
"Untuk Kecamatan Jaluko saja mungkin ada puluhan ton ikan mati setiap bulan, karena di daerah ini ada ribuan tambak. Bayangkan saja, dari delapan ribu ikan yang ditabur, mungkin hanya 800 sampai 900 ekor yang hidup, ini untuk satu petak. Kalau setiap petani punya 10 petak, tinggal kalikan saja," urainya.
Bukan Sekadar Ikan Mati
Anggota DPRD Provinsi Jambi Ivan Wirata menilai kematian ikan di keramba merupakan bagian dari persoalan yang lebih besar di Sungai Batanghari.
Menurut dia, pencemaran terjadi akibat akumulasi berbagai persoalan dari wilayah hulu hingga hilir. Selain aktivitas pertambangan ilegal, pencemaran juga dipengaruhi pembuangan limbah rumah tangga dan industri serta abrasi akibat minimnya penghijauan.
Indikasi memburuknya kualitas air juga terlihat dari tingkat kekeruhan air baku. Berdasarkan laporan perusahaan air minum (PDAM), tingkat kekeruhan air yang diukur menggunakan Nephelometric Turbidity Unit (NTU) mencapai 1.400 NTU.
Angka tersebut hampir empat kali lipat dibandingkan batas normal yang berada di kisaran 250-300 NTU.