- Kuasa hukum Yayasan Harapan Ibu mengungkapkan penemuan 995 pucuk senjata di ruang sekolah Pondok Pinang, Jakarta Selatan.
- Pendiri yayasan Yan Sofyan Syafe'i menyatakan Adam Malik turut serta membantu mendirikan sekolah tersebut pada 7 Juni 1979.
- Kuasa hukum menduga IWD beserta keluarganya melakukan pengambilalihan yayasan secara sistematis untuk kepentingan pribadi melalui berbagai tindakan pelanggaran.
Suara.com - Wakil Presiden ke-3 RI, Adam Malik tercatat menjadi salah satu pendiri Yayasan Harapan Ibu, yang kini mengurus Sekolah Isalam Harapan Ibu di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Sekolah tersebut menjadi sorotan usai temuan 995 pucuk senjata di salah satu ruang sekolah.
Fakta tersebut merupakan salah satu fakta yang diungkapkan kuasa hukum dalam konferensi pers.
Hadir tiga kuasa hukum yayasan, yakni Alvon Kurnia Palma, Hermawanto, dan Annisa E F Ismail.
Kuasa hukum yayasan sekolah, dalam keterangan pers, menghadirkan salah seorang pendiri, Yan Sofyan Syafe'i.

Adam Malik jadi Pendiri
Yan bercerita pendiri yang masih hidup kini tersisa dirinya.
Lainnya, Adam Malik, Letjen TNI (Purn) H. KPH Soerjo Wirjohadipoetro, KH Mawardi Labay el-sulthani, serta Otto Malik, putra dari Adam Malik, telah tiada.
Ia bercerita awal mula pendirian sekolah di bawah Yayasan Harapam Ibu.
Berawal dari pengajian, di mana Mawardi Labay yang saat itu menjdi guru, mencetuskan ihwal pendirian sekolah.
Kemudian mereka bertanya ke Adam Malik, untuk mencari solusi atas modal dan dana untuk pendirian sekolah pada 7 Juni 1979.
"Kalau sekolah itu kan kita harus perlu dana perlu modal coba kita ke Pak Adam kemudian kita sama-sama ke Pak Adam. Sampai di sana diarahkan oleh beliau bahwa beliau selaku Wakil Presiden pada waktu itu dan diarahkan bahwa ada tanah kami di sana di di Kebayoran katanya di apa di Pondok Pinang nah itu bisa dimanfaatkan," kata Yan.
Pendirian yayasan tersebut mengusung tujuan untuk meluaskan dan meningkatkan mutu pendiikan tunas-tunas bangsa.
Guna mewujudkan tujuan tersebut, yayasan kemudian memiliki layanan pendidikan TK, SD, SMP, dan SMA Islam.
"Kita berkeinginan agar anak-anak bangsa kita itu dapat betul-betul menjadi manusia yang seutuhnya yaitu yang beragama yang berpendidikan dan juga mudah-mudahan dapat menjadi pemimpin bangsa di kemudian hari," kata Yan.