- Turki menegaskan Perjanjian Pertahanan Makkah tidak dirancang untuk menargetkan atau memusuhi Iran.
- Aliansi militer tiga negara mengadopsi mekanisme pertahanan kolektif mirip pasal lima NATO.
- Kesepakatan ini bertujuan membangun kemandirian keamanan kawasan tanpa bergantung pada kekuatan luar.
Suara.com - Turki menegaskan Perjanjian Pertahanan Makkah atau Pakta Pertahanan Makkah yang melibatkan Arab Saudi dan Pakistan murni ditujukan untuk stabilitas regional. Kesepakatan kolektif ini sama sekali tidak menetapkan Iran sebagai ancaman bersama.
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyebut Pakta Makkah tersebut bekerja mirip mekanisme pertahanan NATO. Namun, bantuan militer baru aktif saat negara anggota yang diserang mengajukan permintaan resmi.
Kehadiran aliansi tiga negara ini menawarkan arsitektur keamanan baru berbasis kekuatan mandiri kawasan. Langkah strategis ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan historis terhadap kekuatan luar.
![Wisatawan memadati Kawasan Uskudar, Istanbul, Turki, Sabtu (18/4/2026). [Suara.com/Iramdani]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/20/83212-kawasan-uskudar-di-istanbul-turki-maidens-tower-kiz-kulesi.jpg)
Penandatanganan pakta di Makkah mencakup komitmen bantuan intelijen, logistik, amunisi, hingga pengiriman pasukan. Ketiga negara juga menyepakati transfer teknologi pertahanan dan pembentukan sekretariat tetap di Arab Saudi.
Fidan menjelaskan penyusunan naskah ini sudah berlangsung selama dua tahun delapan bulan. Rentang waktu panjang tersebut membuktikan bahwa aliansi terbentuk bukan karena eskalasi mendadak dengan Tehran.
Dalam wawancara resmi, Fidan membeberkan bahwa tidak ada nama negara tertentu yang ditulis sebagai musuh.
“Tidak ada ancaman bersama yang kami tuangkan dalam bentuk tertulis,” tegasnya, dikutip dari Al Jazeera, Senin (10/8/2026).
Ia menambahkan negara mana pun yang tidak menyerang anggota aliansi tidak akan menjadi sasaran tindakan militer. Skema ini murni mekanisme bertahan demi menjaga kedaulatan tiap anggota dari serangan luar.
Di sisi lain, pejabat Iran menyampaikan keraguan atas efektivitas perjanjian tiga negara tersebut. Anggota Komisi Keamanan Nasional Iran Mahmoud Nabavian menilai kerja sama ini tidak menjamin keamanan Arab Saudi.
Senada dengan itu, Ebrahim Rezaei menyebut kesepakatan tersebut hanya sebatas perjanjian di atas kertas. Sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyerukan persaudaraan sejati sambil menegaskan kesiapan tempur pasukannya.
Respons skeptis dari Tehran muncul di tengah upaya penataan ulang keamanan di Timur Tengah. Turki justru berencana memperluas jangkauan kerja sama ini ke negara-negara tetangga lainnya.
Visi Ekspansi Aliansi Mandiri Kawasan
Fidan menekankan pentingnya peran aktif negara-negara regional dalam mengelola keamanan mandiri.
“Hegemon eksternal yang masuk ke kawasan tidak menyelesaikan masalah; mereka justru memperparahnya,” ujarnya.
Menurutnya, Turki, Arab Saudi, dan Pakistan hanyalah pilar inti dari gagasan aliansi yang lebih besar. Penguatan pertahanan kawasan dinilai memerlukan partisipasi aktif dari banyak pihak.