- Empat penyidik NCID Malaysia tiba di Jakarta untuk memeriksa pilot Mohd Saufi bin Othman.
- Pemeriksaan bertujuan menggali informasi tambahan, mencocokkan keterangan, dan menyelidiki keterkaitan pilot dengan sindikat narkoba internasional.
- Penggunaan identitas palsu pada nomor telepon oleh sindikat menjadi kendala utama dalam proses pelacakan penyelidikan.
Suara.com - Empat penyidik Departemen Investigasi Kejahatan Narkotika (NCID) Malaysia telah tiba di Jakarta, Indonesia, untuk memeriksa pilot Malaysia Mohd Saufi bin Othman yang ditahan terkait kasus narkoba.
Direktur NCID Bukit Aman, Datuk Hussein Omar Khan, mengatakan pemeriksaan tersebut bertujuan menggali informasi tambahan sekaligus mencocokkan keterangan yang telah diperoleh polisi Malaysia dengan informasi dari pilot tersebut.
Menurut Hussein, pemeriksaan juga akan difokuskan pada kemungkinan keterkaitan pilot dengan jaringan sindikat narkoba internasional.
“Kami telah mendapat akses untuk bertemu dengan warga negara Malaysia tersebut pada 12 dan 13 Agustus, selama dua hari, untuk mewawancarainya guna mendapatkan lebih banyak informasi dan membandingkan apa yang telah kami kumpulkan di sini terkait sindikat dan hal-hal lainnya,” kata Hussein dinukil dari The Star.

Ia mengatakan penyidik ingin memverifikasi sejumlah informasi lain yang berkaitan dengan kasus tersebut.
Langkah itu diharapkan dapat menghasilkan gambaran yang lebih rinci dan akurat mengenai jaringan yang terlibat.
“Kami ingin memverifikasi beberapa hal lain yang berkaitan dengan kasus ini agar dapat memperoleh informasi yang lebih terperinci dan akurat darinya,” ujarnya.
Hussein Omar Khan juga membeberkan fakta baru dalam penyelidikan kasus pilot Malaysia tersebut.
Hussein mengatakan penggunaan identitas palsu membuat polisi kesulitan mengidentifikasi orang yang sebenarnya berada di balik nomor tersebut.
Menurut Hussein, penyidik tidak bisa begitu saja menganggap pemilik resmi sebuah nomor telepon sebagai pengguna sebenarnya.
Hal itu menjadi salah satu kendala dalam membongkar jaringan sindikat yang diduga terlibat.
“Dalam kasus ini, nomor telepon yang digunakan diduga terdaftar atas nama orang lain,” kata Hussein.
Ia menjelaskan, metode pendaftaran nomor menggunakan identitas pihak lain membuat proses pelacakan menjadi lebih kompleks.
Hussein sebelumnya menegaskan bahwa penyidik tidak dapat sekadar mendapatkan data pemilik nomor dari perusahaan telekomunikasi lalu langsung mendatangi orang tersebut.
“Tidak sesederhana kami mendapatkan nomor telepon, melacak pemiliknya dan kemudian langsung menangkap mereka,” ujarnya.
Menurut polisi, sindikat diduga sengaja memanfaatkan identitas palsu untuk menyamarkan komunikasi mereka.