- Negosiasi Selat Hormuz macet total akibat Amerika Serikat dan Iran saling menuntut ganti rugi perang.
- Iran mengajukan enam syarat mutlak termasuk pencabutan sanksi ekonomi sebelum membuka kembali Selat Hormuz.
- Kebuntuan diplomasi AS dan Iran langsung memicu kenaikan harga minyak dunia di atas 5 persen.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa pembicaraan teknis pembagian jalur pelayaran baru dengan Oman telah memasuki tahap akhir.
Araghchi menegaskan kembali bahwa negaranya tidak melangsungkan komunikasi langsung dengan Washington.
"pesan-pesan dipahami telah dipertukarkan melalui perantara," ujar Araghchi mengenai mekanisme diplomasi yang berjalan.
Sikap mengeras dari kedua belah pihak ini dinilai para analis sebagai taktik tawar-menawar maksimal sebelum memasuki negosiasi inti.
Bagaimana Dampak Kebuntuan Ini Terhadap Perdamaian?
Analis senior Pusat Kebijakan Internasional, Negar Mortazavi, menilai bahwa posisi tawar kedua negara yang kian mengeras menutupi peluang tercapainya terobosan diplomatik.
"Kedua belah pihak tampaknya mengajukan tuntutan maksimalis menjelang negosiasi serius," kata Mortazavi kepada Al Jazeera.
Sikap terbaru AS dinilai sangat sensitif karena memasukkan isu-isu lampau yang berada di luar cakupan penghentian konflik militer saat ini.
"Tuntutan baru Trump sangat bermasalah karena mereka memperkenalkan masalah yang melampaui penghentian konflik saat ini. Jika ganti rugi atas protes dan peristiwa masa lalu lainnya menjadi kondisi nyata AS untuk kesepakatan, daripada sekadar posisi negosiasi, hal itu dapat membuat kesepakatan sangat sulit diterima oleh Teheran," tambahnya.
Mortazavi menambahkan bahwa Teheran membutuhkan jaminan keamanan agar konflik tidak kembali pecah di masa depan serta bantuan pemulihan ekonomi.
Krisis di jalur laut strategis ini pada akhirnya akan bermuara pada daya tahan ekonomi dan sosial dari masing-masing negara yang bertikai.
"Persamaan ini sekarang ada: penutupan vs blokade. Tapi pertanyaannya adalah, siapa yang berteriak duluan?" kata analis politik Hossein Royvaran yang berbasis di Teheran kepada Al Jazeera.
"Saat ini, Amerika menderita: dalam harga bensin, dalam inflasi, dalam kenaikan biaya hidup di dalam negeri. Ada ketidakpuasan mendalam di dalam Amerika atas perang ini dan konsekuensinya bagi masyarakat di sana," kata Royvaran kepada Al Jazeera.
"Hal yang sama juga terjadi di Iran, meskipun di Iran ada pembenaran yang dapat diterima masyarakat: bahwa perang ini dipaksakan kepada Iran dan Iran tidak punya pilihan selain membela diri."
Latar belakang krisis ini bermula dari pecahnya perang terbuka antara AS-Israel melawan Iran pada akhir Februari lalu yang berujung pada penutupan total Selat Hormuz oleh militer Teheran. Escalasi militer semakin memburuk setelah AS ikut serta dalam perang 12 hari Israel melawan Iran pada Juni 2025, yang memicu hilangnya kepercayaan Teheran terhadap komitmen diplomasi Washington.