Sederet Kritik soal Proyek Utopis Bahasa Asing Prabowo Sejak SD, Beban Siswa hingga Anggaran

Dythia Novianty, Hiskia Andika Weadcaksana

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 10:04 WIB
Sederet Kritik soal Proyek Utopis Bahasa Asing Prabowo Sejak SD, Beban Siswa hingga Anggaran
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan dalam Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR Tahun Sidang 2026-2027 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). [ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/bay/wsj]
baca 10 detik
  • Pengamat UGM Agustinus Subarsono mengkritisi rencana Presiden Prabowo mewajibkan belajar bahasa asing sejak kelas 1 SD pada 14 Agustus 2026.
  • Kebijakan tersebut dinilai memberatkan siswa dan terkendala minimnya jumlah guru, fasilitas sekolah, serta defisit fiskal negara.
  • Subarsono menegaskan bahwa prioritas pendidikan seharusnya juga mencakup pelestarian bahasa daerah di tengah ancaman kepunahan.

Suara.com - Pengamat Kebijakan Pendidikan UGM, Agustinus Subarsono, mengkritisi rencana Presiden Prabowo Subianto yang akan memberlakukan kewajiban belajar bahasa asing sejak kelas 1 sekolah dasar.

Wacana itu disampaikan Prabowo dalam pidato Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama MPR-DPR-DPD pada 14 Agustus 2026 kemarin. Prabowo menyebut bahwa penguasaan bahasa asing penting dimulai sejak usia dini.

"Pertanyaannya adalah, jenis bahasa asing yang mana yang dipilih dan apakah semuanya dimulai dalam jenjang pendidikan yang sama sejak Sekolah Dasar?" kata Subarsono kepada Suara.com, Sabtu (15/8/2026).

Adapun sejumlah bahasa yang disebut antara lain Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Korea, Spanyol, dan Prancis.

Menurut Subarsono, pemaksaan pengajaran berbagai bahasa asing sejak jenjang dasar hanya akan menjadi beban tambahan bagi peserta didik tanpa perencanaan matang. Apalagi para siswa sudah memiliki beban untuk mempelajari materi lain di luar bahasa asing.

Ia menilai, kebijakan tersebut tidak bisa diterapkan secara seragam tanpa mempertimbangkan kebutuhan nasional, ekonomi, politik, dan budaya.

Pemilihan bahasa asing, kata Subarsono, harus memiliki dasar yang jelas agar kebijakan pendidikan tidak sekadar mengejar banyaknya bahasa yang dikuasai siswa.

"Dari pendekatan politik, pilihan bahasa asing perlu dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan jenis bahasa asing yang dominan digunakan dalam pergaulan internasional, paling tidak yang diakui sebagai bahasa resmi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa," tegasnya.

Belum lagi terkait dengan persoalan implementasi di lapangan mengingat jumlah satuan pendidikan di Indonesia sangat besar. Berdasarkan data yang dihimpun, Indonesia memiliki setidaknya 177.234 SD, 64.710 SMP, 26.430 SMA, dan 14.458 SMK.

baca juga

Sebaran sekolah tersebut mencakup kawasan perkotaan, perdesaan hingga wilayah 3T dengan kondisi geografis yang beragam. Kondisi itu membuat penyediaan guru bahasa asing secara merata menjadi tantangan yang tidak sederhana.

"Saya yakin, sulit mencari guru bahasa asing yang jumlahnya sangat besar," imbuhnya.

Selain tenaga pengajar, kebijakan tersebut turut membawa konsekuensi terhadap fasilitas pendidikan.

Penambahan mata pelajaran bahasa asing membutuhkan buku pembelajaran dan jika ingin diterapkan secara ideal, laboratorium bahasa yang pada akhirnya menambah kebutuhan anggaran negara.

"Di samping itu, untuk efisiensi anggaran dan tercapainya jumlah pengajar (guru), barangkali sekolah diberikan pilihan untuk memilih dua atau tiga bahasa asing saja sudah termasuk bagus," ujarnya.

Pemerintah seharusnya menguji penerapan sejumlah bahasa asing melalui proyek percontohan di sekolah tertentu sebelum memutuskan kebijakan berskala nasional.

Hal ini berkaitan pula dengan kondisi fiskal Indonesia. Ia menyoroti defisit fiskal yang mencapai Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap PDB pada Mei 2026, meningkat menjadi Rp196,5 triliun atau 0,76 persen pada akhir Juni, dan mencapai 0,91 persen dari PDB pada Juli 2026.

Dalam kondisi tersebut, ia mempertanyakan apakah perluasan pengajaran bahasa asing di seluruh jenjang pendidikan benar-benar layak ditempatkan sebagai prioritas utama.

Pakar UGM Agustinus Subarsono. (Dok. ist)
Pakar UGM Agustinus Subarsono. (Dok. ist)

"Pertanyaan penting yang wajib dijawab adalah apakah menambah pelajaran bahasa asing pada semua tingkat pendidikan yang akan memiliki implikasi ekonomi dan sosial adalah sebagai piroritas utama saat ini? Logika saya mengatakan itu bukan prioritas," tegasnya.

Fokus pemerintah seharusnya tidak diukur dari semakin banyak bahasa asing yang diajarkan. Namun perlu ditentukan dengan hirarki pendidikan, metode pembelajaran, kemampuan anggaran, serta ketersediaan guru sebelum menetapkan target penguasaan bahasa asing.

Persoalan lain yang disorot adalah terancamnya keberlangsungan bahasa daerah yang kian terpinggirkan di kalangan Gen Z.

Jika tidak ada upaya pelestarian melalui pendidikan, sejumlah bahasa daerah berpotensi kehilangan penutur dan terancam punah dalam beberapa dekade mendatang.

"Terakhir saya ingin mengatakan bahwa disamping bahasa asing itu perlu, tidak kalah pentingnya para siswa juga perlu diajar bahasa daerah, di luar bahasa Indonesia, yang merupakan kakayaan yang tidak ternilai harganya, dan nampaknya generasi Z sudah kurang tertarik lagi terhadap bahasa daerah," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Siapa 'Tamu Tak Diundang' yang Disinggung Prabowo dalam Pidatonya?

Siapa 'Tamu Tak Diundang' yang Disinggung Prabowo dalam Pidatonya?

News | Kamis, 16 Juli 2026 | 14:21 WIB

Pakar UGM Ingatkan Mutasi ASN Tak Boleh Jadi Alat Balas Dendam Menteri

Pakar UGM Ingatkan Mutasi ASN Tak Boleh Jadi Alat Balas Dendam Menteri

News | Senin, 13 Juli 2026 | 17:09 WIB

Prabowo Blak-blakan: Semua Partai Banyak Patriot, Banyak Juga Bajingannya

Prabowo Blak-blakan: Semua Partai Banyak Patriot, Banyak Juga Bajingannya

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 17:55 WIB

Sekjen Golkar: Pasar Tak akan Goyang Hanya Karena Gaya Pidato Prabowo

Sekjen Golkar: Pasar Tak akan Goyang Hanya Karena Gaya Pidato Prabowo

News | Senin, 29 Juni 2026 | 19:10 WIB

'Jaga Wibawa dan Jangan Ngeledek', Pengamat Bandingkan Gaya Pidato Prabowo dengan Putin

'Jaga Wibawa dan Jangan Ngeledek', Pengamat Bandingkan Gaya Pidato Prabowo dengan Putin

News | Senin, 15 Juni 2026 | 13:44 WIB

Pangi Syarwi: Kalau Prabowo Berhenti Pidato Dua Minggu, Jangan-jangan Tenang Negara Ini

Pangi Syarwi: Kalau Prabowo Berhenti Pidato Dua Minggu, Jangan-jangan Tenang Negara Ini

News | Senin, 15 Juni 2026 | 13:36 WIB

Terkini

Anwar Usman Soal Gugatan Ijazah Gibran: Nggak Mau Intervensi dan Diintervensi

Anwar Usman Soal Gugatan Ijazah Gibran: Nggak Mau Intervensi dan Diintervensi

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 18:05 WIB

Rekomendasi Day Cream dan Night Cream dari Kulit Manggis, Ampuh Pudarkan Flek Hitam Usia 40 Tahun

Rekomendasi Day Cream dan Night Cream dari Kulit Manggis, Ampuh Pudarkan Flek Hitam Usia 40 Tahun

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 18:05 WIB

Warga Sumsel Mulai Bergerak, Petisi Evaluasi dan Transparansi Karhutla Ramai Ditandatangani

Warga Sumsel Mulai Bergerak, Petisi Evaluasi dan Transparansi Karhutla Ramai Ditandatangani

Sumsel | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 18:03 WIB

Konser Ramah Lingkungan, Bisakah Menikmati Musik Tanpa Membebani Lingkungan?

Konser Ramah Lingkungan, Bisakah Menikmati Musik Tanpa Membebani Lingkungan?

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 18:00 WIB

Hidup Terlalu Cepat: Kapan Terakhir Kali Kita Benar-benar Berhenti?

Hidup Terlalu Cepat: Kapan Terakhir Kali Kita Benar-benar Berhenti?

Your Say | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 18:00 WIB

Cermin Cipta Molek

Cermin Cipta Molek

Your Say | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 17:59 WIB

Kemendikdasmen Akui Tak Pegang Ijazah Gibran, Cuma Certificate of Attendance

Kemendikdasmen Akui Tak Pegang Ijazah Gibran, Cuma Certificate of Attendance

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 17:57 WIB

Kepala BGN dan Gubernur Sulsel Resmikan SPPG Wilayah 3T di Takalar

Kepala BGN dan Gubernur Sulsel Resmikan SPPG Wilayah 3T di Takalar

Sulsel | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 17:56 WIB

Pengacara Richard Lee Keluhkan Durasi Hadirkan Saksi di Sidang: Harusnya Sama-sama Adil

Pengacara Richard Lee Keluhkan Durasi Hadirkan Saksi di Sidang: Harusnya Sama-sama Adil

Entertainment | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 17:49 WIB

250 Pengemudi Ojol di Makassar Dapat BBM Gratis

250 Pengemudi Ojol di Makassar Dapat BBM Gratis

Sulsel | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 17:49 WIB

×