-
Israel menggempur pangkalan udara di Syria untuk menggagalkan penempatan pasukan dan drone militer Turki.
-
Oposisi menilai tindakan Netanyahu memanfaatkan isu ancaman Turki sebagai strategi politik menjelang pemilu Oktober.
-
Hubungan Israel dan Turki kian memanas akibat perbedaan kepentingan geopolitik serta perselisihan sengit antar-pemimpin.
"Sangat berbau niat politik untuk masuk ke pemilu di tengah rangkaian ketegangan keamanan yang dirancang untuk meresahkan publik," kata Ehud Barak.
"Netanyahu dikenal percaya bahwa keadaan darurat keamanan adalah opsi terakhir yang dapat merombak peta politik dan meningkatkan peluangnya untuk bertahan dalam pemilu ini," kata Amos Harel.
Dengan posisi koalisi Netanyahu yang masih tertinggal dalam berbagai survei, krisis keamanan baru ini dinilai menjadi kartu AS untuk menguasai opini publik. Pembatasan ruang gerak militer di front lain membuat fokus ke arah Syria dan Turki menjadi pilihan pragmatis bagi kampanye Netanyahu.
Eskalasi hubungan antara Israel dan Turki tidak terlepas dari dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah yang terus bergejolak pasca-runtuhnya rezim Bashar al-Assad di Syria pada 2024. Sejak saat itu, peta kekuatan di Syria berubah drastis dengan masuknya berbagai pengaruh negara luar, termasuk Turki yang berupaya menjaga stabilitas batas wilayah perbatasannya. Di saat bersamaan, Israel secara sepihak menguasai wilayah penyangga di dalam teritori Syria guna mencegah ancaman langsung ke wilayahnya.
Persaingan berebut pengaruh ini memuncak ketika perselisihan personal antara Netanyahu dan Erdogan bereskalasi menjadi gesekan militer tak langsung di lapangan. Dengan jadwal Pemilihan Umum Israel yang kian mendekat pada Oktober, isu krisis keamanan nasional dan hadirnya kekuatan militer asing di Syria dimanfaatkan sebagai narasi sentral untuk menggalang dukungan pemilih.